

SARGA.CO—King Argentin kian mencuri perhatian, tak hanya lewat performa impresif, tapi juga karena darah langsung dari kuda pacu legenda, Secretariat. Sebagai keturunan juara, King Argentin membawa warisan sekaligus harapan yang tinggi di setiap kompetisi yang diikutinya.
Bagi pencinta balap kuda, nama Secretariat bukan sekadar legenda. Kuda pacu jenis Thoroughbred asal Amerika ini mencetak sejarah sejak debutnya pada 1970. Tiga tahun kemudian, ia meraih gelar American Triple Crown dengan torehan waktu sensasional.
Secretariat mencatat 1 menit 59 detik di Kentucky Derby, 1 menit 53 detik di Preakness Stakes, dan 2 menit 24 detik di Belmont Stakes. Laporan dari Encyclopedia Britannica menyebutkan bahwa belum ada yang mampu menandingi catatan waktu yang diciptakan oleh Secretariat, bahkan hingga saat ini.
Kemenangan telaknya di Belmont, dengan selisih 31 lengths, menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah pacuan kuda.
Dari total 21 kali balapan, Secretariat meraih 16 kemenangan dan mengumpulkan hadiah lebih dari $1,3 juta. Selain dikenal sebagai juara, ia menjadi simbol kekuatan dan dominasi sempurna di lintasan.
Warisannya tak hanya tercatat di papan rekor, tetapi juga mengalir melalui darah generasi kuda pacu elit. Salah satu penerus darah juara itu adalah King Argentin, yang mewarisi silsilah luar biasa ini dari sang induk, Princess Missoni.
Garis keturunan King Argentin tak perlu ditelusuri terlalu jauh untuk sampai pada nama besar Secretariat (USA, 1970). Mengacu pada Studbook Indonesia, Secretariat mewariskan darah keturunan ke King Argentin melalui Lady Winborne (USA, 1976), hasil perkawinan dengan Priceless Gem (USA, 1963).
Lady Winborne kemudian melahirkan Long War (USA, 1994), kuda pacu hasil persilangan dengan Lord At War (ARG, 1980), yang membawa darah General (FR, 1974) dan Luna De Miel (ARG, 1974).
Long War kemudian menjadi pejantan dari Mahkota Putri Aria (IDN, 2006), yang melahirkan Princess Missoni (IDN, 2015). Kuda betina ini dikawinkan dengan pejantan Agrippa (IDN, 2007) dan menjadi induk langsung dari King Argentin.
Dengan darah Secretariat yang mengalir dalam tubuhnya, estafet kejayaan kini berpijak di tapak kaki King Argentin yang mulai unjuk gigi di lintasan pacuan Indonesia.
Membawa nama besar Secretariat melalui garis darah tentu menjadi tekanan tersendiri. Utamanya bagi King Halim Stable, kandang yang menaungi King Argentin. Sejak debutnya di lintasan pada 2023, perhatian publik perlahan tertuju padanya. Menjawab ekspektasi itu, King Argentin tampil impresif.
Ia mencuri perhatian sejak awal dengan merebut gelar juara di Piala Tiga Mahkota Seri I dan Pertiwi Cup 2024 untuk Kelas 2 Tahun Perdana A/B - 800 meter. Performa gemilangnya berlanjut sebagai runner-up di Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda Seri 01 Indonesia Derby 2024 untuk Kelas 2 Tahun Pemula A/B - 1.400 meter, menandai konsistensinya di tingkat kompetitif.
Bahkan di level berat seperti Le Minerale Piala Ketua Umum PP Pordasi 2024-2028 untuk Kelas 3 Derby Div I — 1.600 meter, King Argentin berhasil menduduki posisi kedua.
Memasuki tahun kedua semenjak debut, kemampuan King Argentin semakin matang. Ia mengamankan posisi pertama di A.E. Kawilarang Memorial Cup 2025 untuk Kelas 3 Tahun Derby — 1.600 meter.
Pencapaian memukau King Argentin di tahun 2025 terus berlanjut dengan menaklukkan posisi pertama di Triple Crown Serie 1 dengan jarak 1.200 meter dan Triple Crown Serie 2 untuk Kelas 3 Tahun Derby 1.600 meter bersama joki andalannya, Jemmy Runtu.
Pada babak penyisihan Indonesia’s Horse Racing: Indonesia Derby 2025 untuk Kelas 3 Tahun Derby Heat I - 2.000 meter, King Argentin kembali mengamankan posisi pertama. Selanjutnya disusul oleh Padagi NSL di urutan kedua, dan Romatic Spartan di posisi ketiga.
Sejumlah prestasi itu semakin mendekatkan King Argentin pada sejarah sebagai peraih Triple Crown berikutnya, jika ia kembali juara di final Indonesia’s Horse Racing: Indonesia Derby 2025.
Faktanya, faktor genetik hanyalah salah satu bagian yang menentukan kemenangan di lintasan. Menurut Profesor Emmeline Hill, seperti dilaporkan oleh Racing Post, gen seperti “speed gene” memang berperan penting dalam kemampuan berlari. Namun, aspek itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pola latihan sejak dini.
Studi Equinome bahkan menunjukkan bahwa sekitar 40 persen performa ditentukan oleh faktor genetik, sementara 60 persen lainnya berasal dari strategi balapan serta pengelolaan joki dan kuda yang tepat.
Selain faktor fisik dan perawatan, koneksi antara joki dan kuda juga terbukti krusial. Joki yang memahami karakter dan respon kuda mampu mengeksekusi strategi di lintasan dengan lebih efektif karena keduanya berkembang dengan selaras.
Dengan kata lain, meski King Argentin membawa darah juara dari Secretariat, kemenangan tidak bisa hanya bergantung pada silsilah. Gelar legenda tetap harus ditempa lewat proses, mulai dari latihan keras, strategi yang matang, hingga chemistry kuat bersama joki di lintasan.
Sejak debutnya, King Argentin telah menunjukkan sinyal menjanjikan. Kiprahnya memberi angin segar dan membangkitkan harapan akan lahirnya legenda baru di dunia pacuan kuda Indonesia.
Apakah King Argentin akan meneruskan kejayaan Secretariat atau justru menorehkan kisahnya sendiri di era yang berbeda? Intinya, dunia pacuan kuda Indonesia sedang menanti. Sebab, darah juara yang mengalir di tubuh King Argentin bisa menjadi awal dari sejarah baru di lintasan Tanah Air, bahkan di panggung dunia. Bagaimana menurut Anda?
Install SARGA.CO News
sarga.co