SARGA.CO—Falling In Love menjadi sorotan setelah debut ikoniknya di lintasan pacu nasional, di mana ia tetap mencetak kemenangan impresif meski sempat mengalami late start. Kuda pacu asal Maju Jaya Stable ini juga memiliki sejumlah fakta unik yang jarang diketahui di balik lintasan. Berikut uraian selengkapnya.
Memulai jejak perdananya di lintasan Indonesia’s Horse Racing: Piala Raja Hamengku Buwono X 2025, Falling In Love langsung menarik perhatian para pencinta pacuan kuda berkat performanya yang memukau.
Kuda betina berwarna merah ini merupakan anakan Minahasa Eclipse dan Sri Jaya. Perpaduan darah murni Thoroughbred dari sang sire dan garis G4 dari pihak dam menjadi kombinasi ideal yang menunjang kemampuannya di lintasan.
Secara postur, Falling In Love memiliki tinggi 134 sentimeter. Sesuai prosedur PP. PORDASI, ia masuk dalam kelas H, yakni kategori pertandingan berdasarkan kelompok ketinggian yang diisi kuda-kuda terbaik dengan tinggi antara 130,1 hingga 134 sentimeter.
Falling In Love memulai pertandingan dari gate ketujuh. Sempat tertinggal karena membelok sesaat setelah start, ia berhasil membalikkan situasi dan menjadikannya momentum untuk meraih kemenangan ikonik.
Dengan strategi matang dari sang joki, Agung Saidil Adha, Falling In Love mulai melesat ketika memasuki pertengahan race.
Untuk ukuran kuda muda, akselerasinya tampak sangat bertenaga. Satu per satu, ia menyalip di barisan kedua sembari mempersempit jarak dengan para rivalnya.
Saat memasuki 200 meter terakhir, Falling In Love memaksimalkan kecepatannya dan berhasil menyalip Opera O yang sebelumnya memimpin. Langkahnya tetap stabil dan kuat, membuat jarak dengan para pesaing semakin melebar hingga tak terkejar.
Bersama sang joki, ia mengamankan podium utama di Kelas H - 1.000 meter. Kemenangan itu menjadi awal yang manis bagi perjalanan kariernya di lintasan pacu nasional.
Di balik debut impresifnya, Falling In Love memiliki beberapa fakta unik yang tak terlihat di lintasan, di antaranya:
Falling In Love terlahir sebagai kuda kembar. Sayangnya, sang kembaran, Merta Wijaya, meninggal pada usia 14 bulan akibat kolik. Fakta itu dibenarkan oleh sang trainer, Ardhi Wijaya, yang dihubungi pada kesempatan khusus oleh tim SARGA.CO.
“Kembaran Falling In Love menderita kolik, kondisi yang akhirnya menyebabkan ia meninggal,” ungkap Ardhi.
Sebagai tambahan informasi, kolik pada kuda merupakan istilah umum untuk menggambarkan nyeri perut yang dipicu berbagai gangguan, terutama pada sistem pencernaannya.
Mengutip Veterinary Medical Centre, kondisi ini dapat muncul dalam bentuk ringan hingga mengancam nyawa, mulai dari penumpukan gas hingga penyumbatan usus yang parah. Struktur pencernaan kuda yang sensitif membuat mereka sangat rentan mengalami kolik.
Menurut data dari Wiley, tingkat kematian akibat kolik pada kuda mencapai 31,2 persen. Kondisi tersebut dapat menyerang kuda berusia 1 hingga 20 tahun.
Dengan risiko setinggi itu dan rentang usia yang begitu luas, kolik menegaskan posisinya sebagai salah satu ancaman paling serius bagi kesehatan kuda.
Memiliki saudara kembar nyatanya memengaruhi postur tubuhnya ketika dilahirkan. Jika dibandingkan sang kembaran, Falling In Love terlahir dengan ukuran tubuh yang jauh lebih kecil.
“Karena lahir kembar, kuda yang satu berukuran kecil, satu lainnya berukuran besar. Kembaran Falling In Love yang berukuran besar,” jelas Ardhi.
Perbedaan ukuran tubuh saat lahir tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal Falling In Love, yang kini tumbuh menjadi kuda muda dengan performa luar biasa di lintasan.
Di balik kisah menyentuhnya bersama sang kembaran, Falling In Love memiliki keunggulan berupa karakter yang cerdas dan mudah diarahkan. Ardhi pun mengakui kualitas itu sejak pertama kali menangani sang kuda.
“Falling In Love itu nurut banget. Dia termasuk kuda yang cerdas dan cepat menangkap arahan yang diberikan,” ungkap sang trainer.
Hal itu terbukti ketika Falling In Love mampu berkoordinasi dengan baik bersama sang joki dan meraih podium kemenangan untuk pertama kalinya, meski sempat mengalami kendala saat start.
Karakter Falling In Love yang cerdas dan mudah diarahkan memberikan pengaruh besar terhadap performanya di lintasan. Ardhi, sang trainer, menyebut bahwa kuda kelahiran 2023 itu mampu menerapkan berbagai gaya berlari sesuai kebutuhan pacuan.
Falling In Love bisa tampil sebagai frontrunner yang langsung mengambil alih posisi depan sejak start. Ia juga bisa menjadi stalker yang menempel ketat pemimpin lomba sambil menunggu momen yang tepat untuk menyerang.
Ketika dibutuhkan, Falling In Love juga mampu berubah menjadi strong finisher yang menyimpan tenaga untuk melesat di fase akhir dan menyalip para pesaing. Fleksibilitas inilah yang membuat Falling In Love memiliki keunggulan taktis dan adaptif di berbagai skenario balapan.
Sebelum tampil di lintasan pacu nasional, Falling In Love hanya membutuhkan tiga hingga empat bulan masa latihan. Menurut Ardhi, sebagian besar kuda lain biasanya memerlukan enam hingga delapan bulan untuk mencapai kesiapan yang sama.
Percepatan ini semakin menegaskan kecerdasan Falling In Love dalam menyerap latihan dan beradaptasi dengan ritme pacuan.
Dengan kombinasi kecerdasan, fleksibilitas, dan daya juang yang sudah terlihat sejak awal hidupnya, Falling In Love menunjukkan bahwa ia bukan sekadar kuda muda dengan potensi luar biasa.
Lebih dari itu, sejumlah fakta di atas menunjukkan bahwa ia merupakan calon bintang baru di arena pacuan nasional. Debut impresifnya menjadi awal dari perjalanan panjang yang layak dinantikan oleh para pencinta pacuan kuda Tanah Air.
Ikuti perkembangan informasi seputar Falling In Love dan potensi kuda pacu terbaik lainnya melalui Instagram (@sarga.co), 𝕏 (@sarga_co), TikTok (@sarga.co), YouTube (Sarga.Co), Facebook (Sarga.co), dan website news.sarga.co.
Install SARGA.CO News
sarga.co