SARGA.CO - Di arena pacuan kuda, selalu ada sosok yang muncul tanpa peringatan dan langsung mencuri perhatian. Tahun ini, nama itu adalah Falling In Love, kuda pacu muda milik Maju Jaya Stable yang berhasil mengubah debutnya menjadi momen ikonik dan meninggalkan kesan kuat bagi para penonton Indonesia’s Horse Racing 2025.
Falling In Love tampil untuk pertama kalinya di panggung besar Indonesia’s Horse Racing: Piala Raja Hamengku Buwono X 2025. Turun sebagai pendatang baru di Kelas H – 1.000 meter, ia memulai lomba dari gate ketujuh.
Awalnya, debut itu tampak jauh dari sempurna. Falling In Love di bawah asuhan trainer Ardhi Wijaya, sempat melebar sesaat setelah start, peluang yang bagi kebanyakan kuda muda bisa menjadi akhir lomba.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dengan ketenangan dan kecerdasan luar biasa, Falling In Love mengembalikan ritmenya. Bersama joki Agung Saidil Adha, ia memanfaatkan momentum untuk menyalip satu demi satu pesaing, hingga akhirnya menembus garis finish sebagai juara utama.
Sebuah debut yang langsung menjadikannya perbincangan. Salah satu kisah paling menyentuh dari Falling In Love adalah asal-usul kelahirannya. Ia terlahir sebagai anak kembar, salah fenomena yang jarang dalam dunia kuda pacu.
Namun, perjalanan awal hidupnya penuh ujian. Kembaran Falling In Love meninggal pada usia 1,5 tahun karena kolik, meninggalkan dirinya sebagai satu-satunya yang bertahan.
Kelahiran kembar juga membuat Falling In Love hadir dengan postur tubuh yang jauh lebih kecil dibandingkan kembarannya. Banyak yang meragukan apakah ia bisa tumbuh menjadi kuda pacu kompetitif.
Tetapi justru di situlah keajaibannya dimulai. Dengan genetika perpaduan antara Minahasa Eclipse (Thoroughbred Australia) dan Sri Jaya (G4), Falling In Love tumbuh dengan struktur tubuh ideal dan karakter mental yang lebih kuat dari dugaan siapa pun.
Install SARGA.CO News
sarga.co