SARGA.CO - Lintasan pacuan kuda bukanlah tempat yang asing bagi Achmad Saefudin. Sejak kecil, debu arena dan derap kaki kuda sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ia tumbuh di lingkungan yang lekat dengan dunia pacuan.
Bukan hanya terampil dalam mengendalikan kuda agar berpacu sesuai kemampuannya, Achamd Saefudin ternyata mewarisi darah juara dari sang ayah, A. Suhara, joki legendaris peraih Triple Crown Indonesia 2002.
Sejak usia 11 tahun, Achmad sudah akrab dengan kehidupan di kandang. Ia belajar merawat, menunggu, dan memahami karakter kuda, sebuah fondasi penting yang kelak membentuk instingnya sebagai joki. Ketertarikannya pada dunia pacuan bukan sekadar kebetulan, melainkan panggilan yang tumbuh dari teladan sang ayah.
Mengikuti jejak A. Suhara, Achmad memutuskan untuk menapaki lintasan yang sama, menjadi joki pacuan kuda profesional.
Karier Achmad tidak selalu mulus. Pada 2013–2014, joki kelahiran Bandung, 23 Maret 1990, itu sempat menjauh dari lintasan.
Bukan karena cedera, Achmad Saefuddin terpaksa menjauh dari lintasan lantaran mengalami krisis kepercayaan diri. Sebuah fase yang jarang terlihat namun sering dialami atlet di level tinggi.
Masa hiatus itu menjadi periode refleksi. Dia belajar untuk memahami tekanan, ekspektasi, dan arti bangkit dari kegagalan.
Kebangkitan Achmad Saefudin datang di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Kembali ke arena dengan mental baru. Pada ajang ini, ia seolah menegaskan bahwa dirinya belum selesai.
Sejak saat itu, kepercayaan diri Achmad kembali utuh. Ia bukan sekadar kembali, tetapi datang dengan versi diri yang lebih matang.
Pasca-PON 2016, Achmad terus menorehkan prestasi di berbagai kejuaraan nasional. Puncaknya terjadi pada Star of Stars 2025, ketika ia mengantar Naga Sembilan milik Red Stone Stable meraih kemenangan bergengsi.
Dalam setiap lomba, Achmad dikenal sebagai joki dengan gaya berkendara tenang dan piawai membaca ritme balapan. Strateginya kerap sederhana namun efektif, menunggu momen tepat sebelum melepas akselerasi yang menentukan.
Meski membawa nama besar sang ayah, Achmad Saefudin memilih membangun reputasinya sendiri. Ia menghormati warisan Triple Crown, tetapi menempuh jalannya dengan kerja keras, ketekunan, dan pembelajaran dari kegagalan.
Di lintasan pacuan, Achmad bukan hanya anak dari seorang legenda. Ia adalah joki yang telah membuktikan dirinya, bahwa darah juara memang diwariskan, namun kejayaan tetap harus diperjuangkan.
Install SARGA.CO News
sarga.co