SARGA.CO - Ini kisah tentang pecinta kuda sejati. Meski telah puluhan tahun menjauh dari hingar bingar pacuan, rasa cinta membawa seorang mantan joki kembali ke dunia berkuda yang pernah menjadi bagian dalam perjalanan hidupnya.
Dialah Clement Chan Hua Swee. Meski namanya sudah sangat populer sebagai selebgram yang banyak mengupas kuliner, dunia berkuda tak bisa lepas begitu saja dalam kehidupannya.
Terkenal dengan jargon `Ayo, coba yang ini` saat mengupas sebuah kuliner, pria yang terkenal dengan nama HS Chan ini antusias menceritakan kehidupan barunya sebagai pemburu dan pengulas makanan.
Sepanjang masa mudanya, makanan adalah kesenangan sederhana yang tidak pernah bisa dia nikmati sepenuhnya. Sebagai seorang joki, Chan kala itu mendapat banyak kesempatan mencicipi berbagai jenis makanan karena sering bepergian ke luar perbatasan SIngapura dan kota-kota di Malaysia seperti Kuala Lumpur, Ipoh, dan Penang.
Kuliner buruannya adalah jajanan kaki lima. Namun semua itu tak bisa dinikmatinya dengan leluasa. Sebagai seorang joki, Chan harus menjalani diet dengan ketat untuk menjaga berat badannya tetap ideal.
Menjalani profesi sebagai pemburu kuliner memang telah menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya. Namun Chan merasa masih ada yang kurang dalam mengarungi kehidupan baru itu.
Perjalanan Chan sebagai joki terjadi karena ketidaksengajaan. Kembali ke tahun 1977, Chan yang berusia 18 harus memutuskan jalan hidupnya. Dengan tinggi hanya 157 Centimeter dan berat 47 Kilogram, dia terlalu kurus untuk menjalani wajib militer.
Tak menyerah, Chan menemukan jalan hidup baru. Dari iklan di surat kabar, dia mendaftar sekolah joki Singapore Turf Club. Pilihan yang sebetulnya tak terlalu dipahami keluarganya.
Namun pilihan sudah dibuat. Chan menjalani kehidupan sebagai joki magang dengan belajar memberi makan, merawat, dan menjaga kuda-kuda.
"Ini seperti menjadi pembalap Formula 1," kata Chan dikutip dari laman Channelnewsasia. "Sebelum balapan, Anda harus tahu tentang mobil dan mesinnya. Bagaimana cara kerjanya? Bagaimana cara 'mengeluarkan' tenaganya sepenuhnya?"
Lulus dari sekolah joki pada tahun 1980, Chan mulai mengarungi babak baru sebagai seorang joki sesungguhnya. Balapan kuda sudah dijalaninya saat magang di bawah bimbingan pelatih Keith Daniels. Tiga tahun usai kelulusan itu, Chan resmi menyandang status sebagai joki profesional.
Sejumlah kuda pacu yang pernah ditungganginya meninggalkan kesan mendalam. Chan mengenang saat menunggangi kuda Misty Line yang meraih tiga kemenangan. Dia juga mengingat kuda lainnya bernama Workaholic, yang dibimbingnya dari seekor kuda muda yang belum berpengalaman hingga menjadi juara.
Di balik prestasi itu, Chan juga mengenang masa-masa kelam sebagai seorang joki. Dia terpaksa istirahat selama tujuh bulan usai tendangan kuda mematahkan tulang kering kanannya saat menjalani latihan rutin di pagi hari.
Namun pada tahun 1985, Chan kembali berakhir bahkan menggapai puncak penampilannya sebagai seornag joki. Dia meraih empat kemenangan dan 10 kali menjadi runner-up.
Tantangan kembali harus dihadapi Chan saat istrinya meninggal dunia karena kanker serviks di usia 30-an. Kondisi yang membuatnya harus menjadi orang tua tunggal untuk putrinya yang kala itu baru berusia satu tahun.
Keputusan besar harus diambilnya. Chan memutuskan pensiun dari balapan dan mengakhiri kariernya yang sudah menorehkan 14 kemenangan di tahun 1980-an.
"Ketakutan terbesar saya bukanlah meninggal setelah jatuh. Melainkan menjadi lumpuh," katanya. “Lalu bagaimana? Putri saya masih bayi, dia membutuhkan saya.”
Namun Chan sebetulnya tak sepenuhnya meninggalkan dunia pacuan kuda. Dia sempat menjadi pengawas kandang untuk seorang pelatih kuda terkenal. Sempat mencoba melamar sebagai pelatih, Chan menyadari usianya yang kala itu masih sangat muda sulit untuk meraih kepercayaan dari para pemilik kuda.
Chan sempat mencoba menjalani kehidupan baru dengan mengelola tiga pub selama 3-4 tahun. Dunia yang awalnya terlihat menyenangkan karena penuh kehidupan glamor ternyata menyisakan ruang hampa dalam dirinya.
Dia pun mencoba mendalami profesi baru sebagai agen real estate. Lagi-lagi, Chan menganggap pekerjaan baru ini sebagai sebuah pacuan dengan mengejar sebanyak mungkin transaksi penjualan properti.
Namun setelah 10 tahun berkecimpung di bisnis real estate, panggilan kembali ke dunia pacuan masih terlalu kuat.
Channel News Asia
Tawaran itu datang saat Chan bertemu dengan Phan Tjun Sern, pemilik media pacuan kuda Punter's Ways. Dia ditawari untuk menganalisis balapan kuda. Tanpa ragu, Chan menerima tawaran tersebut.
Keputusan yang membuatnya semakin merindukan berkuda dari apapun. Meski tak lagi duduk di pelana, Chan membuktikan pacuan kuda adalah bagian dari hidupnya.
Sebagai seorang analis pacuan, pengalaman Chan sebagai joki membantunya dalam memprediksi kuda-kuda yang akan menjadi juara. Tebukti dalam sebuah pacuan, Chan bisa menebak dengan tepat 7-8 kuda pemenang dari 10 balapan.
Tak terasa, karier sebagai analis pacuan dijalani selama 16 tahun. Rentang waktu terpanjang dalam perjalanan kariernya. Semula Chan berpikir karier ini akan bertahan lebih lama hingga sebuah tawaran yang sulit ditolak datang menghampirinya.
Chan diajak seorang teman untuk bekerja sebagai pelatih di Equal, sebuah badan amal yang menawarkan terapi dengan bantuan kuda.
"Saya (menyadari bahwa saya) merindukan kemampuan untuk berinteraksi dengan kuda-kuda," kata Chan. "Inilah tempat yang saya inginkan."
Tanpa berpikir lama, Chan mengambil peran baru sebagai pengawas kandang dan operasional. Tugasnya membantu orang-orang rentan seperti anak-anak dan lansia untuk terhubung dengan kuda agar dapat bersantai, membangun kepercayaan diri, dan mengurangi tingkat stres atau gejala yang disebabkan oleh trauma.
"Bagi saya, inilah keajaiban kuda," katanya.
Tak cuma menjadi pengawas, Chan juga menekuni dunia baru yang semula dianggapnya hanya menjadi lahan bagi anak-anak muda. Chan mencoba tantangan baru dengan menjadi pembuat konten video TikTok pad atahun 2023.
Meski awalnya canggung, kini Chan memilki 6000 follower yang selalu terhibur dengan konten-kontennya yang mengulas jajanan kaki lima.
ujar Chan menceritakan tentang impian dan harapannya.
Install SARGA.CO News
sarga.co