SARGA.CO - Dalam sejarah panjang pacuan kuda dunia, sosok George Woolf tetap mengilhami generasi terkini dengan reputasinya sebagai salah satu joki paling berkelas dan dihormati sepanjang masa. Dikenal dengan julukan “The Iceman” karena ketenangan dan kelincahannya di atas pelana, Woolf bukan sekadar joki berbakat, ia adalah legenda yang kisahnya terus dikenang lebih dari 80 tahun setelah kepergiannya.
George Woolf lahir pada 31 Mei 1910 di Cardston, Alberta, Kanada, dari keluarga yang akrab dengan kuda. Ibunya seorang penunggang sirkus, sementara ayahnya merupakan rodeo rider. Semangat itu menuntunnya terjun ke dunia balap sejak usia muda dan akhirnya membuatnya menjadi joki reguler di Santa Anita Park, California, hanya dalam beberapa tahun setelah debutnya pada 1928.
Di Santa Anita, Woolf cepat membuat nama sebagai joki yang mampu menunggu waktu yang tepat untuk menyerang, membaca balapan dengan cermat, dan sering memenangkan foto-finish yang menegangkan. Gaya berkuda yang tenang dan konsisten itulah yang memberinya julukan “The Iceman”.
Kemenangan-kemenangan Bersejarah
Dalam kariernya selama kurang dari dua dekade, Woolf berkuda bersama berbagai kuda juara legendaris, termasuk Seabiscuit, Challedon, Alsab, dan Whirlaway. Ia mencatat sejumlah kemenangan besar di balapan prestisius:
Menang dalam Santa Anita Handicap yang pertama pada 1935, sebuah balapan dengan total hadiah terbesar pada zamannya.
Kemudian, tiga kali berturut-turut merebut Hollywood Gold Cup (1938–1940). Serta kesuksesan di Preakness Stakes 1936 bersama Bold Venture dalam salah satu ajang Triple Crown.
Namun momen paling dramatis adalah ketika Woolf menggantikan joki cedera untuk menunggang Seabiscuit dalam Pimlico Special 1938, sebuah match race legendaris melawan juara Triple Crown War Admiral. Dengan strategi memimpin sejak awal, Seabiscuit di bawah kendali Woolf akhirnya menang dengan empat panjang jarak, sebuah prestasi yang diabadikan dalam film Seabiscuit (2003).
Melewati Tantangan dan Akhir Tragis
Di luar lintasan, Woolf berjuang melawan diabetes tipe 1, sebuah kondisi serius yang jarang bisa ditangani pada zamannya. Meski begitu, ia tetap berkuda di sekitar 150–200 balapan per musim, jumlah yang mengesankan untuk joki di zamannya.
Tragisnya, pada 3 Januari 1946, Woolf mengalami kecelakaan fatal saat turun dari pelana dalam sebuah perlombaan di Santa Anita. Ia jatuh dan mengalami gegar otak berat yang merenggut nyawanya keesokan harinya pada usia 35 tahun. Hingga kini, penyebab pastinya masih menjadi bahan perdebatan, meski kemungkinan gangguan kesehatan berkaitan dengan diabetes disebut sebagai salah satu faktor.
Warisan yang Abadi
Warisan George Woolf terus hidup dan dirayakan dalam dunia pacuan kuda. Ia termasuk dalam kelas pertama joki yang dimasukkan ke National Museum of Racing and Hall of Fame pada 1955.
Setiap tahun, George Woolf Memorial Jockey Award diberikan kepada joki yang menunjukkan karakter profesional dan pribadi yang terhormat, nilai-nilai yang dipegang teguh Woolf semasa hidupnya.
Selain itu, patung perunggu George Woolf berdiri sebagai penghormatan di Santa Anita Park, menjadi monumen bagi generasi baru penggemar balap kuda.
(Sumber: America's Best Racing)
Install SARGA.CO News
sarga.co