SARGA.CO - Kuda bertanduk satu yang hidup dalam mitos dan cerita rakyat, mungkin tidak pernah eksis secara biologis, tetapi makhluk ini terus memikat imajinasi generasi demi generasi di seluruh dunia.
Menurut para ahli, daya tarik unicorn bukan hanya karena bentuknya yang fantastis, tetapi karena ia mewakili keinginan manusia akan sesuatu yang luar biasa, murni, dan penuh harapan. Business psychologist Doreen Ullrich mengatakan bahwa keinginan akan sesuatu yang melambangkan harapan, kemurnian, dan keajaiban tetap ada dalam diri manusia, dan unicorn sangat menyentuh kebutuhan itu.
Konsep unicorn sudah muncul ribuan tahun lalu dalam sejarah dan budaya berbagai bangsa. Deskripsi makhluk berkuda bertanduk satu pertama kali dicatat dalam karya Ctesias, sejarawan Yunani kuno, yang menggambarkan sosok itu dari kisah tentang India di abad ke-4 SM.
Selama Abad Pertengahan di Eropa, unicorn menjadi simbol kemurnian, kekuatan, dan perlindungan dalam seni dan teks religius, sering digambarkan bersama motif spiritual atau simbolisme yang kuat.
Simbolisme yang Tak Pernah Pudar
Lebih dari sekadar makhluk fantasi, unicorn tetap relevan karena ia memenuhi kebutuhan psikologis manusia akan keajaiban, terutama di dunia yang terkadang terasa serba rasional dan pragmatis. Ini membuat unicorn bukan sekadar legenda kuno, melainkan simbol harapan yang tak lekang oleh waktu.
(Sumber: South China Morning Post)
Install SARGA.CO News
sarga.co