SARGA.CO – Di lintasan pacuan tanah air, ada satu ras kuda yang menjadi kebanggaan sekaligus identitas. Namanya Kuda Pacu Indonesia (KPI). Ras ini tidak lahir begitu saja, melainkan hasil pemikiran panjang dan eksperimen para pencinta kuda sejak lama.
Para pecinta olahraga berkuda di Indonesia ingin menciptakan kuda yang mampu berlari secepat Thoroughbred namun punya kearifan lokal.
Salah satu genetika yang diincar adalah seekor kuda yang tetap tangguh menghadapi panas dan kondisi tropis khas Nusantara.
Cerita Kuda Pacu Indonesia dimulai dari pulau Sumba, tempat asal kuda Sandelwood. Kuda kecil berperawakan tangguh ini sudah lama menjadi sahabat masyarakat lokal. Lincah, tahan panas, dan bisa menempuh jarak jauh dengan tenaga stabil adalah satu satu cirinya.
Namun, untuk urusan kecepatan murni di lintasan, Sandelwood kalah dibanding kuda pacu dunia.
Di sisi lain, ada Thoroughbred, kuda balap legendaris dari Inggris. Tinggi, ramping, dan sangat cepat, Thoroughbred adalah bintang dalam pacuan modern. Sayangnya, kuda ini cenderung rentan dengan panas tropis dan lembapnya iklim Indonesia.
Sekitar akhir 1970-an, para pecinta pacuan di Indonesia mulai mengawinkan Sandelwood dengan Thoroughbred. Dari persilangan inilah lahir Kuda Pacu Indonesia (KPI). Proses pengembangannya melibatkan komunitas pacuan kuda dan dukungan beberapa pemerintah daerah, khususnya di Sumba, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah.
Oetari Soehardjono, salah satu tokoh di dunia kuda Indonesia, dalam tulisan berjudul Tentang Pelepasan dan Masa Depan KPI yang diunggah di laman Facebook Pamulang Equestrian Center menjelaskan KPI adalah rumpun yang dikembangkan agar bisa beradapatasi dengan iklim tropis yang lembab.
Leluhur betina KPI adalah kuda-kuda lokal Indonesia, terutama kuda Sandel dari Pulau Sumba, yang sudah beradaptasi selama ratusan tahun dengan iklim Nusantara. Dianggap memiliki kekebalan darah lokal, penyakit pada KPI dapat ditekan serendah mungkin.
KPI juga dihadirkan karena termasuk jenis kuda yang cocok dengan pakan dari dalam negeri sehingga tak memiliki ketergantungan pada pakan impor. Alasan lainnya adalah parentstock atau indukan betina dan pejantan KPI tersedia dalam jumlah yang cukup dan akan terus bertambah sehingga penyediaan KPI untuk berbagai kebutuhan tak akan membentur masalah.
Oetari juga mengatakan, KPI terbukti lebih mudah dikembangbiakkan dibanding Thoroughbred (TB) murni oleh para peternak lokal di Negeri Khatulistiwa ini.
Selain keempat aspek tersebut, Oetari menjelaskan faktor yang membuat KPI relatif lebih menguntungkan untuk diternakkan di Indonesia dibanding rumpun kuda pacu yang lain adalah dari sisi postur tubuh dan kecepatan.
Postur tubuh KPI yang tampak lebih serasi karena memiliki tinggi di angka 150 cm bahkan lebih. Yang terakhir adalah bahwa kecepatan rata-rata KPI tidak jauh berbeda dari kecepatan rata-rata TB.
tulis Oetari dalam tulisan yang dibuat 17 Agustus 2013 itu.
Upaya Oetari dan sejumlah pecinta kuda untuk melahirkan KPI mulai membuatkan hasil saat pemikiran awal membentuk KPI kahir dalam Musyawarah Nasional III dan Lokakarya I Pimpinan Pusat PORDASI pada 26 September 1975.
Saat itu disepakati pembentukan KPI melalui persilangan lokal (sandel) pejantan impor. “Munas Pordasi menyepakati untuk menyilangkan kuda impor dari Australia dengan kuda Sumba,” ujar mantan Dirjen Peternakan dikutip dari tabloidsinartani.com.
Puncaknya, seperti dikutip dari Kantor Berita Antara, Kementerian Pertanian pada 24 Juli 2013 menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian No 4468/Kpts/SR.120/7/2013 tentang Rumpun Kuda Pacu Indonesia.
Kuda Pacu Indonesia memiliki kombinasi unik yang memperlihatkan warisan dua leluhurnya. Kuda-kuda ini umumnya memikliki tinggi antara 130–150 cm di bahu, lebih besar dari Sandelwood tapi lebih kecil dari Thoroughbred.
Tubuh Kuda Pacu Indonesia umumnya ramping, berotot, dengan punggung agak panjang. Postur yang mendukung untuk menunjang kecepatan dan stamina.
Kecepatan itu juga ditunjang oleh bentuk kaki yang panjang dan kuat sehingga sangat pas untuk lintasan tanah atau rumput.
Sementara pada bagian kepala, Kuda Pacu Indonesia umumnya punya struktur lebih halus dibanding kuda lokal murni, tapi masih menyimpan ciri khas pony Nusantara.
Pada bagian bulu, Kuda Pacu Indonesia memiliki beragam warna mulai dari cokelat, chestnut, hitam, hingga abu-abu.
KPI dikenal dengan semangat juang tinggi. Mereka cepat merespons pelatih, mudah diarahkan, dan mampu membangun koneksi kuat dengan joki. Di lintasan, KPI bisa menempuh jarak 1.000–1.600 meter dengan waktu yang kompetitif, terutama di pacuan daerah.
Keunggulan lainnya adalah daya tahan terhadap iklim tropis. Tidak seperti Thoroughbred murni, KPI tidak mudah kelelahan dalam cuaca panas. Ditambah lagi, mereka tidak rewel soal pakan—rumput lokal sudah cukup untuk menjaga tenaga mereka tetap prima.
Kini, KPI menjadi bintang di berbagai lomba, mulai dari kejuaraan nasional hingga festival pacuan tradisional, seperti di Sumbawa dan Toraja. Kehadirannya bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga bagian dari budaya. Pacuan kuda di berbagai daerah Nusantara kerap diiringi musik, tarian, dan pesta rakyat, sehingga KPI menjadi bagian dari identitas sosial sekaligus olahraga.
Selain itu, keberadaan KPI membantu mengurangi ketergantungan pada impor kuda pacu dari luar negeri. Dengan membudidayakan ras ini, kualitas pacuan Indonesia bisa terus meningkat tanpa harus selalu mengandalkan Thoroughbred impor yang harganya sangat tinggi.
(Berita diupdate pada 9 Januari 2026)
Install SARGA.CO News
sarga.co