SARGA.CO - Pernah mendengar istilah kuda G1, G2, dan G3 saat menonton pacuan? Tahukah kamu jika kode G yang dianut di Indonesia ternyata sedikit berbeda dengan negara lain. Di balapan internasional, seperti Jepang atau Eropa, kode G biasanya digunakan untuk menunjukan Group Race alias level gengsi balapannya. Namun di Indonesia punya makna yang berbeda.
Kode G di pacuan kuda nasional merupakan singkatan dari Generasi yang menunjukkan silsilah genetik kuda. Kode G bertingkat dari G1 sampai G4.
Dengan kata lain, kode G yang digunakan di Indonesia bukan merupakan kelas dimana kuda akan ikut dalam pacuan. Kode G menunjukkan sebesar `bule` darah yang mengalir dalam tubuh seekor kuda.
Perjalanan pemakaian kode G dalam kuda pacu Indonesia tak lepas dari misi "Upgrade" yang dimulai sejak tahun 1975 oleh Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI). Sistem ini lahir dari Munas III PORDASI yang bertujuan menciptakan Kuda Pacu Indonesia (KPI).
Metodenya disebut sebagai grading up yaitu menyilangkan kuda betina lokal (Sandel/Sumba) dengan pejantan Thoroughbred (THB) impor.
Dukungan pengembangan ekosistem kuda pacu Indonesia waktu itu mendapat support dari pemerintah. Kala itu lahir program "Kuda Bantuan Presiden" dengan menyebar pejantan THB ke sentra pacuan seperti Sumatra Barat, Yogyakarta, dan Manado.
Mengutip hasil lokakarya Munas III PORDASI, tujuan dicetuskannya program Grading Up adalah untuk meningkatkan mutu dan menciptakan breed (bangsa) baru kuda Indonesia.
Program ini juga menjadi bukti keseriusan PORDASI selama 50 tahun terakhir untuk mencetak kuda-kuda berkualitas tinggi.
Sesuai tingkatannya, semakin tinggi angka G, semakin besar persentase darah THB dalam tubuh seekor kuda. Proses bertahap ini biasanya dilakukan untuk memperbaiki postur fisik dari seekor kuda pacuan.
Sebagai gambaran kuda G1 (Generasi 1) adalah hasil silang pertama (Lokal x THB) dengan komposisi bule atau darah THB mencapai 50%. Proses persilangan ini biasanya menghasilkan kuda dengan postur tubuh lebih besar dan kekar dibanding kuda lokal murni.
Sementara kuda G2 (Generasi 2) merupakan persilangan dari induk G1 dengan THB. Proses ini menyebarkan komposisi darah THB naik menjadi 75%. Biasanya kuda yang dilahirkan memiliki fisik yang mulai lebih tinggi dengan jangkauan langkah (stride) yang lebih panjang.
Kuda hasil proses persilangan berikutnya disebut G3 (Generasi 3) yang berasal dari induk G2 dan pejantan THB. Kandungan darah THB kali ini sudah mencapai 87,5%. Kuda G3 ini biasanya memiliki postur tubuh yang sudah sangat atletis dengan daya pacu yang jauh lebih stabil.
Untuk menuju standar Kuda Pacu Indonesia, target utama yang harus dicapai adalah kuda G4 dimana kandunagan darah THB sudah mencapai 93,75%. Di level ini, fisik kuda sudah tampil gagah menyerupai ras Thoroughbred murni. Ras baru kebanggaan kita ini bahkan sudah terdaftar resmi SNI sejak tahun 1996.
Sebagai informasi, status G (Genetik) dari seekor kuda pacu tidak menentukan kelas perlombaan yang akan diikutinya.
Sampai saat ini PORDASI masih memberlakukan sistem pertandingan murni yang ditentukan berdasarkan pengukuran tinggi badan kuda, bukan sekadar silsilahnya.
Install SARGA.CO News
sarga.co