SARGA.CO - Tak semua kuda dengan nama besar mampu memenuhi ekspektasi. Namun bagi dunia pacuan kuda Amerika, Majestic Prince adalah pengecualian langka, seekor kuda yang benar-benar hidup sesuai namanya.
Lahir dengan aura bangsawan, Majestic Prince menjelma menjadi salah satu kuda paling fenomenal di era 1960-an. Dalam karier singkatnya yang hanya berlangsung 10 race, ia berhasil memenangkan sembilan di antaranya dan nyaris mencetak sejarah sebagai peraih Triple Crown Amerika Serikat pada 1969.
Kuda chestnut tampan itu merupakan anak dari Raise a Native dan Gay Hostess, dibesarkan di Spendthrift Farm sebelum akhirnya dibeli pengusaha Kanada Frank McMahon dengan harga fantastis US$250.000 sekitar Rp4,4 miliar pada lelang Keeneland 1967, angka rekor pada masanya.
Banyak kuda mahal gagal bersinar di lintasan, tetapi Majestic Prince justru menjawab semua keraguan dengan performa luar biasa. Di bawah asuhan pelatih legendaris Johnny Longden dan jockey Bill Hartack, ia tampil tak terkalahkan sejak usia dua tahun.
Musim 1969 menjadi panggung kejayaan sang “Pangeran”. Ia mendominasi sejumlah race penting di California sebelum menghancurkan lawan-lawannya di Santa Anita Derby dengan kemenangan delapan panjang. Performa itu membuat namanya langsung melambung sebagai calon kuat juara Kentucky Derby.
Di Kentucky Derby ke-95, Majestic Prince datang dengan status favorit. Persaingan sengit terjadi melawan Arts and Letters, salah satu rival terbaik generasinya. Namun di lintasan Churchill Downs, Majestic Prince menunjukkan kelasnya dengan menahan tekanan hingga finis pertama hanya dengan selisih leher.
Dua minggu kemudian, duel epik kembali terjadi di Preakness Stakes. Lagi-lagi Majestic Prince berhasil unggul tipis atas Arts and Letters, kali ini dengan margin kepala saja. Kemenangan itu membuat dunia pacuan kuda percaya bahwa Triple Crown akhirnya akan kembali hadir setelah penantian panjang 21 tahun.
Namun drama besar justru muncul menjelang Belmont Stakes.
Pelatih Johnny Longden merasa kondisi Majestic Prince tidak ideal karena masalah tendon ringan di kakinya dan sempat menyatakan sang kuda tidak akan turun di Belmont. Keputusan itu memicu perdebatan besar di dunia pacuan kuda Amerika. Banyak pihak menilai kesempatan mengejar Triple Crown terlalu berharga untuk dilewatkan.
Pemilik Frank McMahon akhirnya memutuskan tetap menjalankan Majestic Prince di Belmont Stakes. Sayangnya, impian Triple Crown harus kandas. Dalam race yang berjalan lambat dan tak sesuai gaya balapnya, Majestic Prince gagal menunjukkan akselerasi terbaik dan kalah dari Arts and Letters dengan selisih 5 ½ panjang.
Kekalahan itu menjadi satu-satunya noda dalam kariernya, sekaligus race terakhirnya.
Meski gagal menyapu bersih Triple Crown, nama Majestic Prince tetap dikenang sebagai salah satu legenda besar pacuan kuda Amerika. Ia kemudian masuk Hall of Fame pada 1988 dan dikenang sebagai kuda yang memiliki kombinasi kecepatan, keberanian, dan karisma luar biasa.
Menariknya, hingga kini kisah Majestic Prince masih sering dibahas para penggemar pacuan kuda modern. Bahkan di komunitas pecinta racing dan Uma Musume di Reddit, nama-nama kuda legendaris dianggap memiliki “aura” tersendiri yang membuat mereka abadi dalam sejarah olahraga ini.
(Sumber: America's Best Racing)
Install SARGA.CO News
sarga.co