SARGA.CO - Dalam sejarah pacuan kuda Indonesia, ada kuda-kuda yang dikenang karena panjangnya karier. Namun ada pula yang justru menjadi legenda karena singkatnya kemunculan. Dewi Milenia adalah yang kedua, sebuah nama yang hanya muncul sebentar di lintasan, tetapi gaungnya tak pernah benar-benar hilang.
Kuda betina merah G4 milik Aragon Stable ini menorehkan satu prestasi yang cukup untuk mengamankannya di buku sejarah, juara Indonesia Derby 2003.
Dewi Milenia bukan kuda biasa sejak awal. Ia lahir dari kombinasi darah elit, anak dari pejantan Sabeil dan indukan Gloria Star. Perpaduan ini menghadirkan sosok kuda muda dengan karakter kuat, berani, dan memiliki kecepatan alami.
Namun, bakat saja tak cukup. Dewi Milenia berada di tangan yang tepat, dilatih oleh Iwan Kurniawan dan ditunggangi oleh Endang Sonitan, joki berpengalaman yang tahu kapan harus menahan dan kapan harus melepas tenaga.
Indonesia Derby dikenal sebagai ajang yang tidak memberi ruang bagi keraguan. Banyak kuda muda gugur sebelum mencapai puncak. Namun pada Indonesia Derby 2003, Dewi Milenia justru tampil tanpa ragu.
Ia langsung mengambil peran sebagai front runner, memimpin balapan sejak awal dan tidak pernah menoleh ke belakang.
“Meninggalkan jauh lawan-lawannya saat race. Ini kuda muda, front runner, dan pertama kali race langsung di Indonesia Derby 2003," ujar Endang Sonitan, dikutip dari YouTube Baharna TV.
Bagi Dewi Milenia, Derby itu bukan sekadar kemenangan. Itu adalah pernyataan. Sekali tampil, langsung juara. Tanpa basa-basi.
Yang membuat kisah Dewi Milenia semakin unik adalah apa yang terjadi setelahnya. Alih-alih melanjutkan karier balap dan mengejar gelar demi gelar, Dewi Milenia tidak pernah lagi turun berlomba.
Meski tak lagi berlaga, peran Dewi Milenia tidak berhenti. Ia kemudian dikawinkan dengan Indon, juara Indonesia Derby 2001. Dari pertemuan dua nama besar ini lahirlah Ksatria Parahyangan.
Dalam dunia pacuan, ada kuda yang bersinar di lintasan, dan ada pula yang berjasa di balik layar sebagai indukan. Dewi Milenia berhasil melakukan keduanya, meski dengan caranya sendiri.
Dewi Milenia tidak dikenal karena deretan panjang kemenangan. Ia dikenang karena kesempurnaan satu momen. Sekali tampil, sekali juara, lalu pergi, meninggalkan pertanyaan, kekaguman, dan cerita yang terus diulang dari generasi ke generasi.
Install SARGA.CO News
sarga.co