SARGA.CO - Di tengah lintasan Pulo Mas yang basah dan licin, bekas hujan masih menggenang tipis di tanah. Udara sore terasa sejuk, berbeda dari panas yang biasa membebani kuda-kuda pacu. Di sanalah, tahun 1983, seekor kuda jantan berwarna napas (flaxen chestnut) melesat dari gate dengan satu tekad: memimpin sejak awal dan tak menoleh ke belakang. Namanya Rio Bravo.
Nama Rio Bravo bukan sekadar nama pacuan. Ia diambil dari judul film koboi legendaris Hollywood “Rio Bravo” (1959), film tentang keteguhan, keberanian, dan kepemimpinan di tengah tekanan. Dan seperti filmnya, kuda pacu asal DKI Jakarta yang diternakkan dari Sulawesi Utara ini menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap keraguan dan keterbatasan.
Rio Bravo merupakan kuda pacu G2, hasil persilangan Rich Kingdom – TT (Thoroughbred Australia) dengan induk Our Nobby (G1). Secara silsilah, ia punya modal besar. Namun, perjalanan menuju puncak tak semulus garis keturunannya.
Menjelang Derby, performa Rio sempat inkonsisten. Ia bahkan pernah kalah di Bandung. Menurut Berty Sondakh sang joki, kekalahan itu bukan karena kurangnya tenaga, melainkan kesalahan teknis: kukunya digunting terlalu pendek. Akibatnya, Rio tak berani 'tancap gas' penuh, terlalu berisiko di lintasan. Belum selesai di situ. Cuaca panas ikut menjadi musuh. Rio mengalami stres, performanya menurun, dan aura garang sang front runner seperti meredup. Banyak yang mulai meragukan peluangnya di Indonesia Derby 1983.
Keputusan krusial pun diambil oleh J. Frederik, pelatih dan peternak Rio Bravo. Untuk mengembalikan ketenangan dan kebugaran sang kuda, Rio dibawa ke Megamendung, Bogor, daerah dengan udara dingin dan tenang.
Di sanalah, jauh dari hiruk-pikuk dan panas kota, Rio Bravo ditempa ulang. Latihan disiplin, ritme yang tepat, dan udara sejuk perlahan mengembalikan naluri buasnya. Stres mereda, tenaga terkumpul, dan kepercayaan diri sang kuda bangkit kembali.
Derby di Bawah Hujan
Beberapa bulan kemudian, Rio Bravo berdiri di gate Indonesia Derby 1983 di Pulo Mas. Lintasan becek, sisa hujan membuat kondisi trek berat, tantangan bagi banyak kuda. Namun bagi Rio, ini justru panggung yang tepat.
Dengan pergantian joki ke Berty Sondakh, Rio menampilkan ciri khasnya: front runner sejati. Begitu gate dibuka, ia langsung melesat ke depan, menguasai lintasan sejak langkah pertama. Udara sejuk dan trek basah seolah membangunkan sisi liar yang lama terpendam. Di jarak 1.400 meter, Rio Bravo tak hanya memimpin, ia meninggalkan para pesaing sejauh tiga panjang kuda. Tanpa kompromi. Tanpa ragu. Seperti koboi dalam badai hujan, ia melaju lurus menuju kemenangan.
Legenda Bernama Rio Bravo
Saat menyentuh garis finis sebagai Juara 1 Indonesia Derby 1983, Rio Bravo bukan lagi kuda yang diragukan. Ia menjelma legenda. Kuda yang pernah kalah, pernah stres, pernah diremehkan, namun bangkit lewat penanganan tepat, kesabaran, dan keberanian mengambil keputusan.
Dimiliki oleh Ny. M. Frederik, dilatih oleh tangan dingin J. Frederik, serta ditunggangi oleh joki-joki terbaik Ary Rori dan Berty Sondakh, Rio Bravo membuktikan satu hal: juara sejati bukan yang selalu menang sejak awal, tetapi yang mampu bangkit di saat terberat. Di lintasan becek Pulo Mas, di bawah langit yang baru saja diguyur hujan, Rio Bravo menunggangi badai dan keluar sebagai pemenang.
(Sumber: Baharna TV, FB IGUTIULS, Pordasi.id)
Install SARGA.CO News
sarga.co