SARGA.CO - Dalam sejarah panjang pacuan kuda Indonesia, ada satu nama yang selalu diingat sebagai kisah tentang kegigihan, keunikan, dan kejayaan: Big Ben. Seekor kuda jantan merah asal Sumatera Barat, lahir dua bulan lebih lambat dari musim kelahiran ideal, sebuah “cacat administratif” yang membuatnya diragukan sejak hari pertama.
Namun seperti nama yang disematkan padanya, terinspirasi dari menara jam legendaris London, Big Ben membuktikan bahwa waktu justru berada di pihaknya.
Lahir Terlambat, Datang Tepat Waktu
Big Ben adalah putra dari pejantan Swanton Princes (TB AUS) dan indukan Putri Gunung (G1)—garis keturunan yang kuat, namun lahir di waktu yang salah menurut kalender studbook. Dalam dunia pacuan, perbedaan usia sekecil apa pun dapat berpengaruh besar. Karena itu, Big Ben kerap dipertanyakan saat proses pendaftaran, baik untuk studbook maupun kompetisi.
Namun pelatihnya, Edwin Basuki, melihat sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan kalender, yakni talenta. Menurutnya, Big Ben adalah kuda yang cepat, responsif, dan mudah dilatih. Persiapannya menuju arena pacuan pun tergolong singkat, hanya setengah tahun. Tapi itu sudah cukup untuk membentuk calon penguasa lintasan.
“Front Runner” yang Membungkam Keraguan
Big Ben akhirnya bisa turun di Kejurnas Pacuan Kuda kelas Derby. Di sinilah segalanya berubah. Dengan joki C. Singal (Coen Singal) di punggungnya, Big Ben tampil sebagai front runner sejati. Begitu starting gate terbuka, ia langsung melesat, meninggalkan semua lawan hingga 10 panjang kuda di belakang. Kemenangan itu mengingatkan banyak orang pada gaya kakak tirinya, Galigo, juara Indonesia Derby 1988.
Sang jantan merah berpostur 159,5 cm ini akhirnya menorehkan namanya sebagai Juara Indonesia Derby 1990, gelar yang membuatnya resmi naik ke panggung legenda.
Prestasi Berlanjut: Tak Sekadar Juara Derby
Perjalanan Big Ben tidak berhenti pada satu titel. Dalam racebook Soeharto Cup 1994, namanya kembali muncul sebagai juara Piala Tridan Kelas A 1.200 meter, kembali finish pertama dari starting gate 2. Konsistensi ini mempertegas bahwa Big Ben bukan hanya “kejutan”, melainkan kuda pacu hebat yang terbukti stabil sepanjang kariernya.
Mengapa Fans Menyebutnya “Penjelajah Waktu”?
Julukan ini hadir bukan sekadar karena namanya menyerupai ikon jam dunia. Ada tiga alasan yang membuat Big Ben begitu dicintai: Ia menantang waktu sejak lahir, datang terlambat dari musim kelahiran, tapi bukan hambatan untuk jadi juara. Big Ben juga melampaui batas usia administratif, usia yang diragukan justru menjadi catatan unik yang membuatnya makin istimewa. Ia hadir sebagai penjembatan dua era, penerus Galigo dari generasi sebelumnya dan inspirasi bagi generasi kuda pacu setelahnya.
Big Ben telah tiada sejak awal 2000-an. Namun warisannya tetap hidup dalam racebook, cerita pelatih, dan kenangan para penggemar pacuan kuda di seluruh Indonesia. Ia bukan menjadi pejantan setelah pensiun, tetapi namanya menjadi benchmark, pembanding, dan legenda yang tak pernah absen dalam obrolan para pemerhati kuda pacu.
Dan pada akhirnya, Big Ben membuktikan satu hal, ia memang lahir terlambat, tapi tidak pernah terlambat untuk menjadi juara. (Sumber: FB IGUTIULS, M'Van Bilkie, FB Pacuan Tompaso, YouTube Baharna TV)
Install SARGA.CO News
sarga.co