SARGA.CO - Nama Galigo tercatat abadi dalam sejarah pacuan kuda Indonesia. Kuda betina kelas G2 ini menjadi kuda hasil peternakan Sumatra Barat pertama yang berhasil menjuarai Indonesia Derby 1988 pada jarak 1.400 meter.
Galigo merupakan hasil persilangan pejantan Cut and Deal (TB AUS) dengan indukan Putri Gunung (G1). Kuda milik Ahmad Rizal ini dilatih oleh Edwin Basuki dan ditunggangi joki C. Singal, kombinasi yang kemudian melahirkan salah satu momen paling bersejarah di lintasan pacuan nasional.
Sejak awal, perjalanan Galigo bukan tanpa rintangan. Ia terlahir dengan sedikit deformasi pada kaki, sebuah kondisi yang dalam dunia pacuan kuda bisa menjadi ancaman serius terhadap performa dan masa depan seekor kuda. Deformasi ini berisiko memengaruhi mobilitas, keseimbangan, bahkan daya tahan saat berlari, dan biasanya membutuhkan penanganan serta pengawasan ketat.
Namun Galigo membuktikan bahwa kekurangan fisik tidak selalu menjadi penghalang. Dengan kemampuan menyeimbangkan tubuh yang luar biasa dan kecepatan alami yang eksplosif, ia justru tampil sebagai kuda kompetitif sejak awal kariernya. Bahkan sebelum Indonesia Derby, Galigo sudah mengoleksi enam kemenangan dari berbagai race.
Puncak kejayaan Galigo terjadi di Indonesia Derby 1988. Di balapan itu, ia bersaing ketat dengan Lady Victoria, kuda tangguh lain yang juga berasal dari Sumatra Barat. Sejak gerbang start terbuka, Galigo langsung menunjukkan karakternya sebagai front runner sejati.
Dengan gaya lari agresif dan penuh kepercayaan diri, Galigo melesat bagaikan angin. Perlahan tapi pasti, jarak dengan para rival semakin menganga. Di lintasan, ia seolah menguasai balapan sepenuhnya, meninggalkan lawan hingga 10 panjang kuda. Garis finis pun dilewati dengan dominasi mutlak, disusul Lady Victoria di posisi kedua, menciptakan momen bersejarah bagi Sumatra Barat.
Kemenangan itu bukan sekadar soal gelar. Ia menjadi simbol bahwa kuda hasil peternakan daerah mampu bersaing dan berjaya di level tertinggi nasional. Galigo membungkam semua keraguan tentang keterbatasan fisiknya, menjadikannya justru bagian dari kisah heroik yang menginspirasi.
Pasca Derby, Galigo belum berhenti. Ia kembali mencatatkan enam kemenangan tambahan, termasuk keberhasilan mengalahkan Liberty, juara Indonesia Derby 1985, sebuah bukti bahwa kemenangan Derby-nya bukan kebetulan, melainkan hasil kualitas sejati.
Lebih dari tiga dekade kemudian, nama Galigo tetap dikenang. Ia bukan hanya juara Derby, tetapi juga tonggak sejarah pacuan kuda Sumatra Barat dan simbol ketangguhan dalam dunia pacuan Indonesia. Dari keterbatasan fisik hingga dominasi di lintasan, Galigo mengajarkan satu hal penting: keberanian, ketekunan, dan karakter juara mampu mengalahkan segala kekurangan.
(Sumber: Baharna TV, FB IGUTIULS, Studbook.or.id)
Install SARGA.CO News
sarga.co