SARGA.CO - Dalam dunia pacuan kuda, tidak semua kuda diciptakan untuk berlari di jarak yang sama. Ada yang eksplosif sejak start dibuka, ada pula yang baru “hidup” di fase akhir lomba. Perbedaan ini melahirkan dua tipe pelari utama: sprinter dan stayer. Pertanyaannya, apakah perbedaan itu murni bakat alami atau hasil latihan?
Di pacuan kuda internasional, tipe pelari umumnya diklasifikasikan lewat sistem S.M.I.L.E (Sprint, Mile, Intermediate, Long, Extended). Sistem ini mengelompokkan kuda berdasarkan jarak lomba yang paling sesuai dengan karakter mereka.
Kategori Sprint mencakup jarak hingga sekitar 1.300 meter, Mile berada di kisaran 1.300–1.899 meter, Intermediate atau Classic di rentang 1.900–2.100 meter, sementara Long atau Stayer dimulai dari 2.101 meter ke atas. Untuk jarak ekstrem, dikenal kategori Extended, biasanya 2.700 meter atau lebih.
Kuda sprinter (S) dikenal sebagai spesialis jarak pendek, umumnya 1.000–1.300 meter. Keunggulan utama mereka adalah akselerasi cepat yang langsung keluar begitu gate dibuka. Larinya cenderung agresif dan all-out sejak awal, mirip pelari 100 meter.
Karena karakter ini, sprinter membutuhkan manajemen tenaga yang sangat presisi. Trainer harus pintar mengatur ritme dan timing, agar kecepatan tinggi tersebut tetap bertahan hingga garis finis.
Stayer: Kuat, Stabil, dan Mematikan di Akhir
Berbeda dengan sprinter, stayer (L & E) adalah pelari jarak jauh atau “maraton”-nya dunia pacuan kuda. Mengacu pada standar IFHA, stayer sejati berlaga di jarak 2.101 meter ke atas.
Ritme larinya lebih tenang dan stabil. Tidak se-meledak sprinter, namun memiliki daya tahan luar biasa atau yang sering disebut “napas tua”. Justru di fase akhir race, stayer kerap mengambil alih momentum dan menyalip lawan satu per satu.
Genetik atau Latihan?
Riset dari Beatrice A. McGivney menunjukkan bahwa faktor genetik dan fisiologis memainkan peran besar dalam menentukan jarak ideal seekor kuda. Itulah sebabnya ada kuda yang sejak awal terlihat cocok sebagai sprinter, sementara yang lain lebih alami sebagai stayer.
Namun, genetik bukan satu-satunya penentu. Latihan tetap menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi tersebut. Program latihan yang tepat dapat memperkuat keunggulan alami kuda, baik dalam hal kecepatan, stamina, maupun efisiensi lari.
Menyesuaikan dengan Karakter Lokal
Di Indonesia, sistem pembagian jarak race pada dasarnya mengacu pada standar IFHA, namun tetap disesuaikan dengan karakter dan kondisi kuda lokal. Pendekatan ini penting agar kuda dapat tampil optimal dan berkembang secara bertahap.
Pada akhirnya, jawabannya sederhana: genetik menentukan kecenderungan jarak, sementara latihanlah yang mengubah potensi menjadi prestasi. Di lintasan pacu, kombinasi keduanya yang akan menentukan apakah seekor kuda hanya cepat, atau benar-benar juara.
Install SARGA.CO News
sarga.co