SARGA.CO - Dalam sejarah pacuan kuda Amerika, tak ada nama yang lebih penuh aura mitos selain Man o’ War, seekor kuda yang tidak hanya menguasai lintasan, tetapi juga menaklukkan siapapun yang berani mendekatinya. Dikenal sebagai “Big Red” sebelum nama itu diwariskan kepada Secretariat, Man o’ War adalah simbol kekuatan, ambisi, dan ketidakjinakan yang membuatnya bukan sekadar juara, melainkan fenomena.
Joki Man o’ War, Johnny Loftus dan kemudian Clarence Kummer, sering menyebut bahwa menungganginya bukan sekadar memandu, tetapi bernegosiasi. Man o’ War tidak dibawa, ia harus dipersuasi. Ia mau bekerja sama hanya jika menghormati pengendalinya. Sifat Man o’ War menuntut joki yang enggan bermain aman, joki yang berani, kuat, dan siap menghadapi tensi tinggi.
Sejak kecil, Man o’ War terkenal sulit ditangani. Ia sering menggigit, menendang, dan menunjukkan dominasi pada handler maupun kuda lain. Banyak catatan menyebut ia memiliki “spirit too big for his body”, semangat yang bahkan tidak tertampung oleh postur atletisnya.
Para pelatih menggambarkannya sebagai kuda yang sangat dominan, sulit ditahan, dan selalu ingin memimpin bahkan saat berjalan ke paddock.
Man o’ War bukan sekadar kuat, ia sangat cerdas. Ia cepat membaca situasi, mengenali pola, dan tahu apa yang terjadi di sekitar. Banyak joki mengatakan bahwa ia seperti “tahu kalau ia lebih hebat dari lawannya.”
Namun kecerdasan itu datang dengan satu konsekuensi: dia mudah marah jika frustrasi. Beberapa kebiasaannya yang terkenal menggeretakkan gigi saat menunggu start, menghentakkan kaki jika merasa dibatasi, dan meningkatkan kecepatannya sendiri ketika merasa kuda lain mencoba menyalip. Ia seperti punya kepribadian seorang juara dunia yang tidak menerima posisi kedua sebagai pilihan.
Dalam balapan, sifat Man o’ War berubah menjadi kekuatan murni. Kuda sebesar itu seharusnya sulit dikendalikan, tetapi ia memadukan tenaga dan agresi dengan fokus yang luar biasa.
Banyak lawannya mengaku hampir mustahil berada terlalu dekat dengannya, Man o’ War menunjukkan intensitas yang membuat kuda lain “mengalah” secara mental bahkan sebelum garis finis.
Joki Man o’ War, Johnny Loftus dan kemudian Clarence Kummer, sering menyebut bahwa menungganginya bukan sekadar memandu, tetapi bernegosiasi. Man o’ War tidak dibawa, ia harus dipersuasi. Ia mau bekerja sama hanya jika menghormati pengendalinya. Sifat Man o’ War menuntut joki yang enggan bermain aman, joki yang berani, kuat, dan siap menghadapi tensi tinggi.
Karier Man o’ War di lintasan berlangsung singkat namun spektakuler. Ia mencatat: 20 kali start, 19 kemenangan. Hanya 1 kekalahan, yang dipengaruhi start buruk akibat kesalahan starter. Ia juga tak terkalahkan pada usia tiga tahun.
Ia juga memenangkan beberapa lomba paling prestisius di masanya, antara lain: Preakness Stakes (1920), Belmont Stakes (1920), Travers Stakes (1920), Dwyer Stakes (1920) dan serangkaian stakes besar lainnya. Jika Triple Crown sudah sepopuler sekarang pada 1920, banyak ahli yakin Man o’ War akan menyapu bersih gelarnya.
Kombinasi antara temperamen berapi-api dan performa tak tertandingi membuat Man o’ War diakui sebagai: Kuda Terhebat Abad ke-20 versi Associated Press, Kuda Balap Terbaik dalam Sejarah AS versi banyak sejarawan balap, Induk pejantan yang menghasilkan puluhan juara, termasuk ayah dari War Admiral, juara Triple Crown 1937.
Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Man o’ War menjadi magnet wisata. Publik datang dari seluruh penjuru negara hanya untuk melihat Sang Raja berdiri gagah di peternakannya.
(Sumber: ESPN, Kentucky Horse Park, Wikipedia, Britannica)
Install SARGA.CO News
sarga.co