SARGA.CO – Dalam dunia pacuan kuda, tak ada nama yang lebih mendominasi selain Thoroughbred. Ras ini dikenal sebagai bintang utama lintasan balap, memikat pecinta olahraga dengan kecepatan luar biasa, stamina mengagumkan, serta semangat juang yang tak tertandingi.
Di Indonesia, kita mengenal istilah thoroughbred lewat singkatan THB. Di arena pacuan kuda berdarah panas yang terkenal karena kelincahan, kecepatan, dan semangatnya ini juga sering disebut sebagai kuda ras unggul
Namun, di balik sorotan lampu arena, Thoroughbred modern menyimpan kisah panjang tentang pembiakan selektif, warisan genetik legendaris, dan perjalanan sejarah yang membentang lebih dari tiga abad.
Kisah Thoroughbred bermula di Inggris pada akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18. Saat itu, para bangsawan ingin menciptakan kuda balap yang lebih cepat dan lebih tangguh daripada kuda lokal.
Mereka kemudian mendatangkan tiga pejantan Arab legendaris yaitu Darley Arabian, Godolphin Arabian, dan Byerley Turk. Ketiganya dipasangkan dengan kuda betina Inggris pilihan, menghasilkan generasi baru yang membawa kombinasi kecepatan Timur Tengah dan daya tahan kuda lokal Eropa.
Hingga hari ini, hampir semua Thoroughbred di dunia dapat melacak garis keturunannya kembali ke tiga kuda pejantan tersebut.
Sejak awal, pembiakannya kuda THB ini dilakukan dengan seleksi sangat ketat. Hanya kuda dengan performa terbaik yang boleh dikawinkan dengan kuda THB untuk menjaga kualitas ras tetap konsisten dari masa ke masa.
Thoroughbred modern memiliki ciri fisik khas yang tidak ditemukan pada kuda-kuda ras lainnya. Tubuh kuda THB umumnya tinggi dan ramping, otot padat, kaki panjang, serta punggung yang mendukung langkah lebar.
Bentuk tubuh inilah yang membuat mereka mampu berlari dengan kecepatan tinggi, baik di jarak pendek maupun menengah.
Lebih dari sekadar fisik, Thoroughbred juga dikenal memiliki sifat kompetitif alami. Mereka energik, penuh semangat, dan sering kali terlihat haus kemenangan. Kombinasi fisik dan mental inilah yang menjadikan mereka penguasa arena pacuan di seluruh dunia.
Tak hanya di lintasan balap, kemampuan Thoroughbred merambah berbagai cabang olahraga berkuda, mulai dari lompat rintang, polo, hingga eventing. Fleksibilitas ini menegaskan reputasinya sebagai salah satu ras paling serbaguna di dunia.
Sejarah pacuan kuda dihiasi oleh nama-nama Thoroughbred yang melegenda. Man O’War di awal abad ke-20 dikenal sebagai simbol dominasi, Seabiscuit menjadi ikon harapan di era Depresi Besar, sementara Secretariat mencetak rekor menakjubkan di Triple Crown 1973 yang masih bertahan hingga kini.
Bahkan di sisi komersial, Thoroughbred menunjukkan prestise tak tergantikan. Beberapa individu, seperti Fusaichi Pegasus, tercatat sebagai kuda termahal di dunia dengan nilai ratusan juta dolar. Harga fantastis itu bukan hanya mencerminkan performa, tetapi juga potensi genetik yang sangat bernilai dalam pembiakan.
Hari ini, Thoroughbred modern bukan hanya sekadar kuda pacu. Ia adalah simbol keanggunan, kekuatan, dan dedikasi, hasil kerja sama panjang antara manusia dan hewan dalam mengejar kesempurnaan. Dari Inggris, ras ini menyebar ke Amerika, Asia, Australia, hingga Indonesia—menjadi standar emas pacuan di mana pun ia berada.
Di setiap derap langkah Thoroughbred, tersimpan kisah berabad-abad tentang bagaimana manusia membentuk dan menjaga sebuah ras, sekaligus bagaimana seekor kuda mampu menginspirasi jutaan orang di lintasan maupun di luar arena.
Install SARGA.CO News
sarga.co