SARGA.CO - Mari sejenak berfantasi ke Jakarta pada tahun 1970 - 1980an. Gedung-gedung tinggi belum sebanyak sekarang. Jakarta kala itu masih memiliki banyak ruang hijau tempat berkumpul warga. Lokasinya bertebaran di mana-mana. Salah satunya terletak di kawasan Jakarta Timur.
Saban akhir pekan, tempat ini selalu ramai dengan warga yang datang dari berbagai daerah di Jakarta. Tujuan mereka hanya satu. Menikmati hiburan berupa perlombaan pacuan kuda di Pulo Mas.
Seperti nama, lokasi pacuan kuda ini terletak di Pulo Mas, Jakarta Timur. Di masanya, lokasi ini menjadi pusat pacuan sekaligus rekreasi elite Jakarta.
Dari keluarga yang sekadar menonton, para penggemar balap, sampai penonton fanatik yang rela datang untuk dapat posisi terbaik. Sorak penonton, derap kuda, dan semangat kompetisinya bikin suasana benar-benar hidup
Pacuan Kuda Pulo Mas dibangun pada akhir 1960-an di era Gubernur Ali Sadikin. Sang gubernur waktu itu tengah gencar membangun fasilitas olahraga dan hiburan publik.
Mengutip laman Pordasi.co, lapangan pacu berstandar internasional di Pulomas Jakarta ini berdiri pada 7 Juni 1971. Dengan jarak lintasan 1.800 meter, lapangan pacuan kuda ini sudah dilengkapi tribun penonton dan memiliki kandang untuk 800 ekor kuda.
Lapangan pacuan kuda Pulomas dibangun atas kerja sama pemerintah DKI Jakarta dengan pihak swasta. Alat-alat canggih dan alat totalisator pacuan kuda untuk pertama kalinya diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia.
Saat pembangunan selesai, tempat ini langsung jadi ikon sejak awal 1970-an. Bahkan di masanya, Pacuan Kuda Pulo Mas disebut sebagai salah satu gelanggang pacuan modern paling maju di Indonesia.
Sementara kuda-kuda yang dipergunakan berjenis thorougbred yang diimpor dari Australia dan jenis lokal atau hasil persilangan.
Pengelolaan lapangan pacuan kuda Pulomas kala itu diserahkan kepada Djakarta Racing Management (DRM-JRM). Setiap pekan digelar pacuan sebanyak 2-3 kali. Dibutuhkan setidaknya 400-800 ekor kuda setiap tahunnya.
Sayang, perkembangan pacuan kuda Pulomas mulai perlahan meredup di tahun 1980-an. Pemicunya adalah penghapusan totalisator yang memberikan dampak negatif pada mundurnya kegiatan pacuan kuda.
Lapangan Pacuan Kuda Pulomas kembali kembali berdenyut di tahun 2016. Pemerintah saat ini memutuskan melakukan renovasi total. Namanya pun berubah menjadi Jakarta International Equestrian Park Pulomas (JIEPP).
Setelah dimulai renovasi besar-besaran pada era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, arena ini diresmikan pada 2 Agustus 2018 oleh Gubernur DKI Jakarta selanjutnya, Anies Baswedan. Arena ini digunakan sebagai lokasi pertandingan berkuda pada Pesta Olahraga Asia 2018.
JIPEPP saat ini memiliki lahan seluas 35 hektar dengan paviliun utama berlantai empat dengan kapasitas duduk 1.500 orang, kandang kuda 156 ekor, penginapan atlet, rumah sakit kuda, horse walker dan tempat pelatihan terbaik di Indonesia.
Kini kawasan ini telah berubah menjadi Jakarta International Equestrian Park (JIEP)—arena modern berstandar internasional. Tapi jejak emosi dan riuhnya penonton puluhan tahun lalu tetap jadi bagian menarik dari sejarah kota ini.
Install SARGA.CO News
sarga.co