SARGA.CO - Pada 1977, Red Rum bukan lagi sekadar kuda pacu. Ia telah menjelma menjadi harta nasional Inggris, simbol ketangguhan dan keberanian yang melampaui batas olahraga. Apa yang ia lakukan di lintasan Aintree bukan hanya soal kemenangan, tetapi tentang menantang mitos dan keterbatasan.
Red Rum mencatat sejarah yang nyaris mustahil di Grand National, ajang steeplechase paling berat di dunia. Dalam lima kali partisipasi, ia meraih tiga kemenangan dan dua kali finis kedua. Lebih luar biasa lagi, ia tak pernah jatuh dan tak pernah menyerah di lintasan yang dikenal menelan banyak kuda tangguh.
Perpisahan Tanpa Garis Finis
Tahun 1977 menjadi momen emosional. Red Rum kembali ke Aintree bukan untuk berlomba, melainkan mengucapkan selamat tinggal. Saat ia berlari pelan di hadapan puluhan ribu penonton, sorak-sorai bercampur air mata. Tak ada stopwatch, tak ada podium. Semua orang tahu mereka sedang menyaksikan akhir dari sebuah era.
Tanah bergetar di bawah derap kakinya. Pria-pria dewasa menangis tanpa malu. Red Rum telah berlari melewati rasa sakit, badai cuaca, dan pagar-pagar mematikan yang menjatuhkan banyak pesaingnya. Namun ia selalu bangkit dan menemukan jalan pulang.
Juara Rakyat
Red Rum bukan kuda sempurna. Ia tidak dibentuk sebagai atlet elit dengan perawatan mewah. Justru sebaliknya, ia dikenal sebagai petarung, kuda pekerja keras yang naik dari kelas rendah hingga menaklukkan balapan tersulit di dunia. Itulah yang membuat publik jatuh cinta.
Ia menjadi juara kaum pekerja, simbol bahwa kegigihan bisa mengalahkan segalanya. Di setiap lompatannya, ada keberanian. Di setiap langkahnya, ada tekad.
Dimakamkan di Garis Finis
Saat Red Rum wafat pada 1995, penghormatan terakhir yang diberikan pun tak biasa. Ia dimakamkan tepat di garis finis Aintree, tempat di mana legenda seharusnya beristirahat. Hingga kini, para penggemar masih berhenti di sana untuk mengucapkan terima kasih.
(Sumber: Facebook American Horseracing Legends)
Install SARGA.CO News
sarga.co