SARGA.CO—San Marino Stable dikenal sebagai salah satu kandang paling kompetitif di Sumatra Barat. Meski tergolong sebagai kandang yang masih berkembang, San Marino Stable mampu menciptakan kuda pacu unggulan, salah satunya Romantic Spartan. Selengkapnya, simak pemaparan seputar San Marino Stable berikut ini.
San Marino tergolong sebagai stable berkembang yang berbasis di Padang Panjang dan Bukittinggi, Sumatra Barat.
Inspirasi nama San Marino sendiri berangkat dari nama sang owner, Muhammad Ikhsan. Di samping itu, San Marino juga merupakan salah satu negara di Eropa yang secara geografis terkepung di dalam wilayah Italia.
Ditemui khusus oleh tim SARGA.CO, Ikhsan menjelaskan bahwa alasan lain memilih nama San Marino untuk stable-nya adalah karena sang adik bungsu memiliki merek pakaian dengan nama yang sama.
“Nama San Marino juga pakai dari brand pakaian adik bungsu saya dan merek itu sudah ada lisensinya sejak 2022,” terang Ikhsan.
Dengan landasan identitas keluarga dan referensi internasional ini, San Marino Stable melangkah sebagai stable kecil dengan visi yang tak kalah besar di dunia pacuan kuda nasional.
Sebelum terjun sebagai owner San Marino Stable, Ikhsan mengaku ketertarikannya pada dunia pacuan kuda berawal dari kebiasaannya mengikuti perkembangan olahraga tersebut.
“Dari Jakarta ke Jawa nonton pacuan kuda. Pas balik kampung di Sumatra Barat juga nonton,” ungkapnya.
Dari kebiasaan itulah muncul keinginannya untuk memiliki kuda pacu sendiri.
“Kebetulan punya teman yang sejalan juga dalam hal hobi kuda,” jelas Ikhsan.
Ikhsan berbagi cerita tentang kuda pacu pertama yang ia miliki pada tahun 2023. Kuda tersebut ia beri nama Madame Spartan. Kuda betina berjenis KP6 itu merupakan hasil perkawinan antara Any Given Blessings (ras Thoroughbred murni) dan Dara Perpeta (kuda jenis KP5).
Sebagai pemula di dunia berkuda saat itu, ia mengakui bahwa Madame Spartan menjadi titik awal perjalanannya untuk benar-benar mendalami pacuan kuda. Ikhsan pun tak menampik bahwa masih banyak aspek yang harus ia pelajari terkait kuda.
“Untuk Madame Spartan, kita masih belajar. Waktu itu ada kendala yang membuat Madame Spartan hanya pacu dua kali,” pungkasnya.
Ikhsan membagikan bagaimana Madame Spartan memulai debut perdananya di lintasan yang sempat mengalami kendala.
“Madame Spartan waktu mau lari perdana, dia jatuh di mounting yard dan membuat dia tidak bisa pacu lagi,” kenang Ikhsan.
Ia menambahkan kejadian itu membuat Madame Spartan diistirahatkan sebelum pada akhirnya dijadikan indukan.
Perjalanan San Marino Stable untuk menorehkan prestasi di lintasan pacu Sumatra Barat tak berhenti karena kendala yang dialami oleh Madame Spartan.
Romantic Spartan menjadi salah satu kuda yang dimiliki oleh San Marino Stable. Kuda jenis KP6 hasil persilangan Fort De Cock Hill dan Nan Diati ini memang sejak awal dipersiapkan untuk menggantikan Madame Spartan yang sebelumnya belum bisa menorehkan prestasi.
“Sejak awal, Romantic Spartan memang dipersiapkan untuk saya oleh Tuan Amris (trainer), menggantikan Madame Spartan yang saat itu belum rezekinya untuk ikut pacuan lagi,” terang Ikhsan.
Ikhsan juga membagikan kisah awal bagaimana Romantic Spartan akhirnya menjadi kuda andalan di San Marino Stable. Ia mengaku mendapatkan saran dari sang trainer, Tuan Amris, untuk lebih dulu melihat potensi kuda tersebut sebelum benar-benar memutuskan.
“Kita lihat pacu perdananya dulu,” kenang Ikhsan terhadap perkataan Tuan Amris waktu itu.
Seminggu setelah Romantic Spartan menjalani pacuan perdananya, Ikhsan pun mantap menjadikannya bagian dari San Marino Stable.
Kehadiran Romantic Spartan menjadi momentum yang sangat dinanti, mengingat potensinya sebagai stayer, tipe kuda yang ideal untuk jarak panjang. Hal itu sejalan dengan target stable yang ingin menembus Indonesia Derby dengan jarak 2.000 meter.
“Kebanyakan kuda yang lari di jarak 2.000 meter itu tipikal stayer. Makanya kita pantau cara lari Romantic Spartan, ternyata dia oke,” terangnya.
Pencapaian Romantic Spartan yang finis di posisi ketiga pada Kelas 3 Tahun Derby - 2.000 meter di ajang Indonesia’s Horse Racing: Indonesia Derby 2025 memberi dorongan besar bagi San Marino Stable untuk melangkah lebih percaya diri dalam menampilkan kemampuan kuda pacu terbaiknya di lintasan nasional.
Ikhsan mengaku bahwa pada awal ia memutuskan menekuni hobi di dunia pacuan kuda, ia sempat mendapat penolakan dari keluarga, terutama dari orang tua dan istrinya.
“Orang tua maupun istri mikirnya hobi berkaitan dengan kuda itu hal yang menghabiskan uang,” pungkasnya.
Ia menjelaskan bahwa jumlah owner kuda pacu di Sumatra Barat sebenarnya tidak banyak, khususnya mereka yang benar-benar merintis dari nol. Dalam artian, bukan berasal dari keluarga yang sudah turun-temurun berkecimpung di dunia kuda.
Menurutnya, tingginya biaya operasional merawat kuda pacu menjadi alasan kuat mengapa hobinya sempat dilarang oleh orang tua maupun sang istri.
“Saya beli kuda terlebih dahulu, baru minta maaf ke mereka,” ungkapnya sambil mengenang bagaimana ia berusaha meyakinkan keluarganya.
Namun, pencapaian Romantic Spartan di ajang Indonesia’s Horse Racing: Indonesia Derby 2025 akhirnya membuka mata keluarganya dan membuat mereka mulai mendukung langkah Ikhsan menekuni dunia pacuan kuda.
“Pas Romantic Spartan menang, mereka mulai minat sama pacuan kuda,” ungkapnya bangga.
Tak hanya keluarga besarnya yang kini mendukung, pencapaian Romantic Spartan di lintasan nasional juga membuat berbagai pihak melirik kuda pacu jenis KP6 tersebut.
“Romantic Spartan pernah ditawar untuk dibeli sama orang lain. Tapi orang tua saya tidak mengizinkan untuk dijual,” ungkap Ikhsan.
“Karena Romantic Spartan berhasil mengangkat nama keluarga,” tambahnya.
Bagi Ikhsan dan keluarganya, Romantic Spartan bukan sekadar kuda pacu, tetapi simbol kebanggaan yang ingin terus mereka jaga.
Target Indonesia Derby yang sejak awal dibidik oleh San Marino Stable tentu membutuhkan persiapan yang matang. Sebagai kuda andalan sekaligus satu-satunya wakil Sumatra Barat di final Indonesia Derby, persiapan Romantic Spartan benar-benar dimaksimalkan.
Ikhsan mengaku membutuhkan waktu hingga 1,5 tahun untuk mempersiapkan Romantic Spartan di ajang pacuan kuda bergengsi tingkat nasional itu.
“Kita kasih makan, kita rawat untuk tanding di dua menit di jarak 2.000 meter,” ungkapnya.
Sempat diragukan, hal itu menjadi beban tersendiri bagi Ikhsan sebagai owner Romantic Spartan.
Di samping itu, banyak pendukung dari Sumatra Barat datang langsung memberikan dukungan di ajang Indonesia’s Horse Racing: Indonesia Derby 2025. Ini mengingat Romantic Spartan menjadi satu-satunya perwakilan Sumatra Barat yang berhasil menembus final ajang bergengsi tersebut.
“Tentunya menjadi beban tersendiri, apalagi kalau misal kalah,” tutur Ikhsan.
Performa epik Romantic Spartan di Kelas 3 Tahun Derby - 2.000 meter seolah mematahkan keraguan yang muncul, sekaligus membawa kebanggaan bagi kontingen Sumatra Barat.
Memiliki satu ekor kuda indukan dan satu ekor kuda pacu menjadi tantangan tersendiri bagi San Marino Stable. Salah satunya adalah keterbatasan untuk bisa mengikuti setiap race karena jumlah kuda pacu yang minim.
Kondisi ini turut memengaruhi manajemen dalam menentukan kapan kuda diturunkan ke sebuah pertandingan. Hal itu mengingat banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum masuk ke lintasan.
“Pertama, kasihan kudanya. Kita juga harus melihat kondisi kudanya, siap atau tidak untuk pacuan,” ungkap Ikhsan.
Dengan segala keterbatasan tersebut, San Marino Stable memilih untuk mengutamakan kesehatan dan kesiapan kuda pacu yang mereka naungi. Langkah ini menjadi dasar penting agar setiap performa di lintasan selalu dilakukan dengan penuh perhitungan dan tanggung jawab.
Setiap elemen di San Marino Stable yang mencakup groom, trainer, dan joki memiliki kekompakan satu sama lain.
“Mereka semua loyalitasnya tinggi ke San Marino Stable,” ungkap Ikhsan.
Ia juga mengakui bahwa seluruh pihak yang terlibat di San Marino Stable sudah seperti keluarga. Tak ada batas atau jarak di antara mereka, baik owner, trainer, groom, maupun joki.
Kekompakan inilah yang menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung kemenangan di lintasan.
Prestasi membanggakan Romantic Spartan di lintasan pacu Pulau Jawa menjadi pemantik bagi San Marino Stable untuk terus berkembang. Salah satu harapan besar yang ingin mereka wujudkan adalah memiliki kuda pacu juara hasil ternak sendiri.
Sebagai owner, Ikhsan mengakui bahwa Bendang Stable menjadi inspirasinya dalam menapaki langkah tersebut.
“Bendang Stable breeding sendiri, kuda mereka juga ikut pacuan. Mereka juga menjual kuda pacu, mereka di semua aspek jalan,” ucapnya.
Kemenangan Romantic Spartan di kancah nasional tak hanya mendatangkan harapan bagi stable-nya sendiri, namun juga kuda pacu asal Sumatra Barat.
“Semoga semakin banyak kuda-kuda Sumbar yang berjaya di event nasional. Semakin kompak juga untuk kontingen Sumbar,” ungkap Ikhsan penuh harap.
Perjalanan San Marino Stable untuk menunjukkan potensi kuda terbaiknya masih panjang. Ikuti perkembangan informasinya melalui Instagram (@sarga.co), 𝕏 (@sarga_co), TikTok (@sarga.co), YouTube (Sarga.Co), Facebook (Sarga.co), dan website news.sarga.co.
Install SARGA.CO News
sarga.co