SARGA.CO - Setiap tahun olahraga pacuan kuda selalu menghadirkan kisah dramatis. Namun 2025 adalah tahun yang berbeda, tahun ketika sejarah seolah berlomba menulis dirinya sendiri. Dari Asia Tenggara hingga Amerika, dari Eropa hingga Jepang, derap langkah kuda-kuda terbaik dunia mengguncang lintasan dan mencetak catatan yang tak pernah disangka sebelumnya.
Tiga nama menjadi simbol keajaiban itu: King Argentin, Forever Young, dan Calandagan. Tiga kuda dari tiga negara berbeda, tiga rekor besar, satu tahun yang sama.
Tahun 2025 terasa seperti bab halaman epik dalam dunia pacuan kuda nasional. Setelah 11 tahun tanpa satupun juara Triple Crown, King Argentin hadir sebagai jawaban dari penantian panjang itu
Gelarnya bukan hanya kemenangan, melainkan penanda kebangkitan. Sosok kuda pacu yang kemudian menjadi ikon baru generasi muda, bahkan menginspirasi fanart dan versi “Uma Musume” buatan komunitas.
King Argentin dari King Halim Stabe membuktikan bahwa Indonesia punya kuda berkualitas dunia. Dan lebih dari itu: ia membuka lagi pintu menuju harapan, prestasi, dan masa depan balap kuda Indonesia.
Masih di kawasan Asia, Jepang mencatat tonggak sejarah yang tak pernah terbayangkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seekor kuda Jepang memenangkan Breeders’ Cup Classic, salah satu balapan paling prestisius di Amerika Serikat.
Kemenangan ini bukan hanya cerita tentang seekor kuda. Namun tentang seluruh industri balap Jepang yang selama bertahun-tahun bekerja keras mengejar standar global.
Selama ini kuda Jepang sering mendominasi Dubai, Hong Kong, bahkan Eropa, namun Breeders’ Cup Classic selalu terasa seperti “benteng terakhir”. Hingga Forever Young memecah batas itu, dan mengubah sejarah selamanya.
Jika ada satu balapan yang dirindukan dunia untuk kembali ke kejayaan globalnya, itu adalah Japan Cup. Dan pada 2025, Calandagan—kuda asal Prancis milik Aga Khan Studs—datang untuk menjawab kerinduan itu.
Di tengah tensi besar antara jagoan-jagoan Jepang seperti Masquerade Ball, Danon Decile, Shin Emperor, hingga Croix du Nord, Calandagan tampil luar biasa: Menang sebagai kuda luar Jepang pertama setelah 20 tahun, mencatat waktu 2:20,3 tercepat dalam sejarah Japan Cup, mengalahkan juara Tenno Sho, juara Derby, dan pemenang Sheema Classic.
Jika dilihat dari jauh, 2025 bukan hanya kumpulan pencapaian. Ia adalah satu narasi besar: tahun ketika pacuan kuda dunia bangkit dalam bentuk yang paling emosional dan dramatis.
Indonesia mendapat pahlawan baru lewat King Argentin. Jepang meraih mimpinya yang paling sulit lewat Forever Young. Prancis menegaskan supremasinya lewat Calandagan yang menaklukkan Jepang.
King Argentin, Forever Young, dan Calandagan mungkin datang dari dunia yang berbeda. Namun ketiganya berbagi satu hal: Mereka menciptakan sejarah yang akan diceritakan kembali selama puluhan tahun.
Install SARGA.CO News
sarga.co