

SARGA.CO—Bagi sebagian orang, pacuan kuda terlihat hanya sebagai deretan kuda yang sedang beradu cepat di lintasan. Padahal, pacuan kuda merupakan kombinasi unik kekuatan atletik kuda, strategi joki, serta kerja keras tim di balik riuhnya pertandingan. Jika Anda baru mengenal olahraga ini, simak pembahasan berikut selengkapnya.
Dikenal sebagai adu cepat penuh adrenalin, pacuan kuda merupakan olahraga berkuda yang menggabungkan kecepatan, kekuatan, dan keterampilan yang presisi. Dalam arena ini, joki dan kuda bersinergi, memacu diri melewati setiap meter lintasan demi mencapai garis finis.
Di Indonesia, olahraga ini hadir dalam dua wajah, yakni pacuan kuda profesional yang mengikuti standar kelas, jarak lintasan, dan kalender kejuaraan resmi seperti Indonesia’s Horse Racing. Ajang tersebut menjadi panggung bagi atlet berkuda elit untuk unjuk prestasi.
Di sisi lain, terdapat pacuan kuda tradisional yang menjadi bagian dari warisan budaya di berbagai daerah, seperti Pacu Kude di Aceh, Maen Jaran di Sumbawa, dan Pacoa Jara di Bima.
Inilah mengapa, selain adu cepat, pacuan kuda merupakan tontonan penuh adrenalin yang menguji chemistry antara joki dan kuda, sekaligus merayakan kekayaan tradisi yang masih hidup di Tanah Air.
Pacuan kuda di Indonesia memiliki jejak panjang yang tak lepas dari akar budaya. Sejak masa kolonial, pacuan kuda kerap jadi bagian dari pesta rakyat dan ajang hiburan di berbagai daerah. Dari lintasan berdebu di kampung hingga arena yang lebih teratur, olahraga ini terus berkembang.
Hingga pada 6 Juni 1966, lahirlah Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) sebagai penggerak utama. Melalui Komisi Pacu, mereka rutin menggelar kejuaraan nasional yang memanggungkan duel kuda-kuda terbaik bersama joki dan pelatih andal.
Standar kompetisi, kualitas kuda pacu, hingga pengembangan infrastruktur menjadi fokus utama. Tujuannya tak lain untuk mengangkat pacuan kuda Indonesia ke level profesional, sekaligus menempatkannya sebagai ikon olahraga yang dibanggakan di Tanah Air dan diperhitungkan di kancah dunia.
Agar kompetisi berjalan adil, aturan dibuat sangat ketat. Kuda dikelompokkan ke dalam kelas berdasarkan tinggi dan umur. Berikut daftar lengkapnya.
Kelompok Berdasarkan Tinggi
Kelompok Berdasarkan Umur
Untuk menjadi joki, persyaratannya pun tak kalah ketat. Selain piawai menunggang kuda, joki wajib memiliki lisensi resmi dari Komisi Pacu dan surat keterangan sehat dari dokter, baik jasmani maupun rohani.
Lintasan pacu juga harus memenuhi standar nasional, dengan panjang sekitar 1.200 meter dan lebar 10-16 meter. Semua ini dirancang demi menjamin keadilan, keamanan, dan sportivitas.
Dari aturan yang ketat ini, lahirlah panggung persaingan yang sebenarnya, yakni Kejuaraan Nasional.
Setiap tahun, PORDASI menyusun kalender kompetisi, yang menjadi acuan bagi stable, pelatih, dan pemilik kuda.
Ada dua seri utama dalam satu musim pacuan kuda, di antaranya
Kejuaraan seri pertama mempertandingkan kuda berusia 2, 3, dan 4 tahun. Seri ini selalu menjadi sorotan dengan kelas-kelas unggulan, seperti Indonesia Derby untuk kuda berusia 3 tahun dan kejuaraan Triple Crown.
Triple Crown merupakan tiga rangkaian balapan berturut-turut dengan jarak masing-masing 1.200 meter pada Seri 1, 1.600 meter pada Seri 2, dan 2.000 meter pada laga pamungkas, atau Derby.
Ada juga Pertiwi Cup, ajang khusus bagi kuda betina berusia 3 tahun dengan jarak 1.600 meter.
2. Kejuaraan Nasional Seri Kedua
Dibagi berdasarkan tinggi kuda, dengan persaingan sengit di kelas-kelas prestisius seperti Kelas A Super Sprint dan Kelas A Star of Stars. Seri kedua ini biasanya dimulai pada bulan November setiap tahunnya.
Di luar dua seri besar ini, ada juga kompetisi lain seperti Merdeka Cup, yang menjadi ajang penting untuk memunculkan potensi kuda-kuda terbaik sebelum mereka berjuang di Triple Crown atau Indonesia Derby tahun berikutnya.
Untuk bisa berpartisipasi, setiap kuda harus melalui tahapan resmi, mulai dari pendaftaran hingga proses drawing yang menentukan posisi gate masing-masing kuda.
Race Day adalah momen penuh aksi yang melibatkan banyak elemen vital di arena. Lintasan utama, atau track, menjadi panggung utama, dikelilingi oleh area-area penting lainnya.
Ada ruang joki untuk persiapan, tower steward sebagai pusat kendali, mounting yard tempat kuda dan joki dikenalkan, dan awarding area untuk seremoni juara. Semua titik ini, ditambah tribun penonton menciptakan suasana yang meriah sekaligus penuh euforia.
Kesuksesan balapan adalah hasil kerja tim yang solid. Di balik setiap kuda terdapat sosok owner yang menjadi pemilik, trainer yang merancang program latihan dan strategi, serta groom yang merawat kuda setiap hari.
Di lapangan, ada joki yang mengeksekusi strategi dengan sempurna. Demi kelancaran kompetisi, dewan steward mengawasi jalannya lomba, dibantu oleh hakim pacuan yang menentukan pemenang, pencatat waktu, petugas photo finish, dan announcer.
Bahkan start master punya peran krusial dalam memastikan start berjalan adil dan serentak, sementara tim medis dan keamanan selalu siap sedia menjaga keselamatan seluruh pihak yang terlibat.
Pacuan kuda tingkat nasional di Indonesia memiliki kalender kompetisi yang padat dan bergengsi. Setiap musim, sejumlah ajang besar hadir bukan hanya sebagai arena adu cepat, tetapi juga sebagai panggung pembuktian bagi kuda, joki, dan pelatih terbaik Tanah Air. Berikut sejumlah kejuaraan nasional pacuan kuda yang digelar di Indonesia.
1. Triple Crown
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Triple Crown merupakan prestasi paling prestisius bagi kuda pacu berusia tiga tahun yang lolos kualifikasi. Seperti halnya Triple Crown di negara lain, Indonesia juga menggelar kejuaraan tiga seri untuk memperebutkan gelar tertinggi tersebut.
Diawali dengan Indonesia’s Horse Racing (IHR): Triple Crown Serie 1 berjarak 1.200 meter, dilanjutkan dengan IHR: Triple Crown Serie 2 sejauh 1.600 meter, dan ditutup oleh IHR: Indonesia Derby dengan jarak 2.000 meter.
Seekor kuda hanya akan dinobatkan sebagai peraih Triple Crown jika berhasil menjuarai ketiga seri tersebut di kelas yang sudah ditentukan sebelumnya.
2. Indonesia Derby
Selain Triple Crown, kejuaraan kelas Derby juga menjadi ajang bergengsi di pacuan Tanah Air. Dalam ajang ini, kuda-kuda berusia tiga tahun berlaga memperebutkan gelar ‘Derby’, menaklukkan lintasan sejauh 2.000 meter.
3. Pertiwi Cup
Pertiwi Cup adalah ajang pacuan kuda nasional khusus kuda pacu betina. Kejuaraan ini menjadi panggung bagi para pemilik dan pelatih untuk menampilkan kemampuan terbaik kuda mereka di lintasan.
Meski khusus untuk kuda betina, persaingannya tak kalah sengit dari kelas umum. Kejuaraan ini mempertemukan kuda-kuda berusia tiga tahun terbaik di Indonesia dalam lomba sejauh 1.600 meter.
4. Merdeka Cup
Merdeka Cup digelar untuk mempertemukan potensi kuda-kuda pacu terbaik. Kejuaraan ini memiliki sejumlah kelas bergengsi, seperti Kelas 3 Tahun Calon Derby berjarak 1.400 meter dan Kelas Terbuka Sprint dengan jarak 1.300 meter.
Pada akhirnya, pacuan kuda bukan sekadar siapa yang tercepat menyentuh garis finis. Lintasan menjadi panggung tempat tenaga, teknik, dan strategi berpadu, di mana setiap detik dan setiap langkah kuda dihitung dengan presisi. Itulah sebabnya, setiap momen dalam pacuan kuda tak boleh untuk dilewatkan.
Dapatkan informasi terbaru seputar pacuan kuda dengan mengikuti berbagai platform resmi SARGA.CO di Instagram (@sarga.co), 𝕏 (@sarga_co), TikTok (@sarga.co), YouTube (Sarga.Co), Facebook (Sarga.co), dan website sarga.co.
Install SARGA.CO News
sarga.co