

SARGA.CO - Jendri Turangan bukanlah sosok baru di lintasan balap kuda. Berkat dedikasi dan insting tajam dalam membaca potensi kuda, kecintaannya pada dunia pacuan mengantarkannya menjadi salah satu sosok penting di balik kesuksesan Djohar Manik—kuda legendaris peraih gelar Triple Crown di tingkat nasional.
Sebelum menjadi horse trainer di Tombo Ati Stable, Jendri memulai debutnya sebagai joki di Kejurnas tahun 2006 untuk Kelas Remaja. Kala itu, ia dipercaya untuk berlaga bersama Pitulikur mewakili Tombo Ati Stable dan berhasil membawanya sebagai pemenang.
Berangkat dari momen tersebut, ia kembali mendapatkan gelar joki terbaik sebanyak tiga kali di 2010, 2012, dan 2014. Sepanjang kariernya menjadi seorang joki, ia mengaku pengalaman paling berkesan di lintasan, yakni ketika ia bertanding bersama Djohar Manik.
“Saya paling berkesan ya ini karena naik kuda si Djohar Manik itu. Dari perdana lari, kudanya udah langsung menang,” ujarnya.
Dari situlah, ikatan antara Jendri Turangan dan Djohar Manik sebagai joki dan kuda semakin erat.
“Kudanya pinter, mau perdana itu kan Djohar Manik udah sama saya terus, ngelongser sampai naikin dari saya. Jadi kudanya kayaknya ngerti saya mau apa, yang saya pengenin, dia ikutin.” imbuhnya.
Sebagai tambahan informasi, ngelongser merupakan metode melatih kuda dengan cara mengarahkan mereka untuk berjalan, berlari kecil (trot), atau berlari cepat (canter) dalam lingkaran menggunakan tali panjang (lunge line).
Bagi Jendri, Djohar Manik bukanlah kuda pacu biasa. Kuda tersebut tak hanya cepat, namun konsisten, tenang di bawah tekanan, dan mampu meledak di saat krusial. Tak heran jika Djohar Manik salah satu di antara dua kuda dengan gelar Triple Crown pada tahun 2014 di tingkat nasional.
Jendri menuturkan bahwa banyak pihak memuji kecepatan Djohar Manik di lintasan saat mengikuti kejuaraan Triple Crown Seri 1 pada kelas 1.200 meter.
“Wah, ini kuda gila larinya, kok jauh gitu,” terangnya.
Dengan jarak tempuh yang lebih menantang, yakni 1.600 meter pada Triple Crown Seri 2, Jendri mengungkapkan bahwa Djohar Manik tetap mampu mempertahankan performanya secara konsisten. Dari dua seri yang telah dilalui, Djohar Manik berhasil keluar sebagai pemenang.
Namun, tantangan belum usai. Menjelang Indonesia Derby 2014, Jendri mengaku menghadapi tekanan besar, apalagi saat mengetahui bahwa ia dan Djohar Manik harus memulai dari posisi ke-11, artinya mereka berada di barisan belakang saat start.
Berbagai hambatan pun mereka alami selama pertandingan final berlangsung. Meski demikian, Djohar Manik dan Jendri berhasil menaklukkan rintangan dan kembali meraih kemenangan di ajang Indonesia Derby 2014.
Kemenangan itu sekaligus mengukuhkan Djohar Manik sebagai kuda pacu bergelar Triple Crown di Indonesia.
“Belum ada setahu saya juga, kuda menang Derby tapi dari belakang kudanya, terus sampai di titik 600 meter terakhir sudah di depan lagi.” ujar Jendri dengan bangga.
Bagi Jendri, pacuan kuda bukan sekadar soal kecepatan. Ia menekankan bahwa memahami karakter kuda adalah kunci utama dalam meraih kemenangan. Djohar Manik, misalnya, tak hanya unggul dalam kecepatan, tetapi juga menunjukkan ketahanan luar biasa di lintasan.
Dari kombinasi keunggulan itulah, Jendri pun membagikan rahasia di balik proses latihannya.
“Kuda itu harus dihalusin. Kuda itu kan kalau dikasarin, dia nggak mau,” terang Jendri.
Jendri pun mengaku cara tersebut berhasil ia terapkan pada Djohar Manik. Terlebih ia sudah mengenali sifat kuda itu sejak lama.
“Pas start itu kan dikusir, habis itu harus ditahan, kan. Kalau Djohar Manik, nggak. Lepas start-nya, kendorin aja. Udah, semaunya gimana. Kalau kuda lain kan harus ditahan, kalau ngak ditahan ntar nyampe finis malah habis,” jelasnya.
Dengan sejumlah keunggulan yang dimiliki oleh Djohar Manik, Jendri mengungkap banyak yang menganggap kuda itu memang istimewa. Sebab, Djohar Manik menunjukkan sifat yang tak biasa dan lebih mengerti kemauan joki dibandingkan kuda pada umumnya.
“Banyak kuda yang saya naikin, banyak juga kuda-kuda yang menang. Tapi sama Djohar ini kudanya memang ngerti banget. Kalau saya udah kencengin mulutnya, dia masih nambah kecepatannya lagi kalau di lurusan terakhir itu.” imbuhnya.
Apa yang disampaikan Jendri diperkuat oleh hasil riset yang disadur dari laman Horseline, seorang joki harus membangun kepercayaan dengan kudanya agar tetap tenang dan fokus di lintasan. Kepercayaan diri joki dapat menularkan ketenangan pada kuda, sehingga turut meningkatkan performa saat balapan.
Rangkaian kemenangan yang diraih Djohar Manik dan Jendri Turangan hingga meraih gelar Triple Crown bukan semata hasil dari hubungan profesional antara joki dan kuda. Di balik pencapaian itu, terjalin ikatan emosional dan kepercayaan yang kuat di antara keduanya.
“Djohar Manik mau diapain aja, nggak ada kudanya marah. Entah berapa tahun lagi dapat kuda kayak gitu,” ungkap Jendri.
Bagi Jendri, kehadiran Djohar Manik dalam perjalanan kariernya di dunia pacuan kuda merupakan berkah besar bagi keluarganya. Kuda andalannya itu bukan hanya menjadi sumber rezeki, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan dan kebanggaan, terutama berkat keberhasilan meraih gelar Triple Crown.
Sebagai sosok yang telah lama berkecimpung di dunia pacuan kuda, Jendri menggantungkan secercah harapan akan kebangkitan sekaligus keberlanjutan olahraga ini di Tanah Air.
“Semoga pacuan kuda Indonesia ini akan maju lagi. Soalnya udah banyak juga pendatang-pendatang baru yang udah ke Tombo Ati Stable.” ujar Jendri.
Selain Djohar Manik, sejumlah kuda di Tombo Ati Stable juga mulai menunjukkan eksistensinya di kancah pacuan kuda Indonesia. Karena itu, Jendri pun menaruh harapan besar pada kemunculan penerus Djohar Manik.
“Tombo Ati juga makin naik kudanya.” tambahnya.
Kisah Jendri Turangan dan Djohar Manik menjadi referensi bagi pelatih dan joki muda. Gaya pendekatannya terhadap kuda bisa dijadikan acuan. Ia membuktikan bahwa kejayaan lahir dari persiapan matang dan kerja sama solid, bukan keberuntungan.
Jendri tak sekadar pelatih, ia merupakan mentor, pembelajar, dan panutan, mewariskan standar baru dalam pacuan kuda Indonesia.
Kemenangan Djohar Manik adalah sejarah, namun nama Jendri Turangan adalah legenda. Ia adalah salah satu sosok penting yang layak mendapat tempat terhormat dalam sejarah olahraga pacuan kuda di Indonesia.
Install SARGA.CO News
sarga.co