

SARGA.CO - Di tengah derap pacuan dan riuh tepuk tangan penonton, satu kuda jantan pernah mencuri perhatian bukan hanya karena kecepatannya, tapi juga ekspresi wajahnya yang unik—seakan sedang tersenyum di setiap lomba. Dialah Daitaku Helios, si “Laughing Horse” atau Warau Uma, kuda legendaris Jepang yang kini hadir kembali sebagai karakter penuh energi di dunia Uma Musume Pretty Derby.
Lahir pada 10 April 1987 di Biratori, Hokkaido, Daitaku Helios merupakan hasil persilangan antara Bizen Nishiki dan Never Ichiban. Ia membawa darah kuda pacu Jepang sejati, gagah, cepat, dan ulet. Dibesarkan dalam lingkungan yang disiplin dan dilatih oleh pelatih kawakan Yasuo Umeda, Helios menjalani karier balap yang luar biasa, terutama di lintasan mile yang menjadi spesialisasinya.
Ditemani joki setianya Shigehiko Kishi, Helios dikenal sebagai kuda dengan gaya balap Nige atau front runner, strategi lari di posisi terdepan sejak awal race. Ini pula yang membuatnya diberikan rank "A" untuk strategi tersebut dalam game Uma Musume, lengkap dengan skill "Front Runner" yang bisa di-unlock oleh pemain.
Namun bukan hanya kecepatannya yang membuat Helios dicintai publik Jepang. Ia punya kebiasaan langka yang membuatnya ikonik: saat berlari, ia kerap mengangkat kepala tinggi dan membuka mulut lebar seolah sedang tersenyum atau tertawa. Gaya khas ini memberinya julukan Warau Uma 'The Laughing Horse'.
Karakteristik unik ini menjadi daya tarik tersendiri dan diadaptasi penuh dalam versi Uma Musume-nya. Helios di game tampil ceria, penuh semangat, dan selalu tampil percaya diri di garis depan, sesuai sifat aslinya.
Helios benar-benar bersinar di awal 1990-an. Ia mencetak kemenangan beruntun di berbagai race bergengsi, termasuk: Crystal Cup (G3), Yomiuri Milers’ Cup (G2) – dua kali (1991 & 1992), Takamatsunomiya Hai (G2) 1991, Mainichi Okan (G2) 1992, di mana ia mengalahkan kuda tangguh Ikuno Dictus.
Namun, prestasi paling bersejarahnya adalah saat memenangkan Mile Championship (G1) dua tahun berturut-turut, pada 1991 dan 1992. Pencapaian ini menjadikannya salah satu dari segelintir kuda pacu yang mampu melakukan back-to-back win di ajang mile paling prestisius di Jepang.
Total kariernya: 35 race, 10 kemenangan, dan pendapatan mencapai hampir 690 juta Yen (¥689,952,400).
Warisan dan Akhir Kisah
Setelah pensiun, Daitaku Helios menjadi pejantan. Dari 289 keturunannya, hanya segelintir yang menorehkan prestasi besar, termasuk Daitaku Yamato, pemenang Sprinters Stakes (G1) tahun 2000.
Helios meninggal dunia dengan tenang pada 12 Desember 2008 di usia 22 tahun. Namun warisan dan auranya tak pernah benar-benar hilang.
Melalui Uma Musume Pretty Derby, Daitaku Helios hidup kembali dalam bentuk yang lebih ceria dan dekat dengan para fans muda. Sosoknya di game sangat mencerminkan gaya aslinya—optimis, flamboyan, dan tak pernah ragu untuk memimpin lomba dari depan dengan senyum khas yang sulit dilupakan.
Daitaku Helios adalah pengingat bahwa balapan bukan hanya tentang menang, tapi juga bagaimana menikmatinya.
Dalam lintasan mile yang kompetitif, Daitaku Helios menunjukkan bahwa menjadi bintang bukan hanya soal kecepatan. Ia mengajarkan kita bahwa bahkan di tengah kerasnya persaingan, ada ruang untuk ekspresi, keunikan, dan semangat yang menyenangkan. Warau Uma bukan sekadar kuda, dia adalah ikon, legenda, dan kini, idola baru dalam semesta Uma Musume.
(Sumber: FB Atha ID, Wikipedia(JP), Uma Musume Wiki Fandom, JBIS, Netkeiba & Gametora)
Install SARGA.CO News
sarga.co