

SARGA.C0 - Masih di bulan Kemerdekaan, yuk sejenak kita mengalihkan pandangan ke provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Di wilayah Gayo, Aceh Tengah terdapat sebuah tradisi pacuan kuda yang biasanya digelar setiap perayaan 17 Agustus.
Kalau kota lain meramaikan kemerdekaan dengan lomba makan kerupuk atau balap karung, di daerah dataran tinggi Aceh Tengah ini riuh dengan suara derap kaki kuda yang menghentak tanah seolah menjadi musik kemerdekaan.
Kini Pacu Kude hadir setiap Agustusan dan ulang tahun Kota Takengon. Penonton tumpah ruah saat joki-joki cilik menunggangi kuda Gayo tanpa pelana—semua bersatu dalam kegembiraan.
Bagi masyarakat Gayo, Pacu Kude bukan hanya balapan. Ia adalah simbol kebersamaan, semangat, dan cara merayakan merdeka dengan penuh sukacita.
Tradisi ini bukan hal baru. Lahir sejak abad ke-19 atau sekitar tahun 1850-an, orang Gayo sudah mengenal pacuan kuda sebagai hiburan sekaligus ungkapan syukur setelah panen padi. Sebagai sebuah tradisi, Pacu Kude memiliki beberapa keunikan dibandingkan pacuan kuda pada umumnya.
Apa saja keunikan itu? Yuk simak artikel ini.
Keunikan pertama yang bikin mata terbelalak adalah cara joki menunggang kuda. Jangan bayangkan patra joki ini akan duduk nyaman di atas pelanan. Selama berlomba, mereka mengendalikan kuda tanpa pelana.
Para joki ini akan menunggangi kuda dengan kaki mencengkeram erat dan tangan berpegang kuat, seakan menyatu dengan tubuh kuda. Setiap lompatan adalah adu nyali, bukan sekadar adu cepat.
Lebih unik lagi, banyak joki yang ikut balapan masih anak-anak. Ada yang SD, ada juga yang SMP. Tubuh mereka yang ringan membuat kuda bisa melesat lebih kencang. Meski kecil, keberanian mereka besar. Penonton selalu bersorak melihat joki cilik berlari bersama kudanya.
Kuda yang digunakan bukan sembarang kuda. Ia adalah kuda Gayo, hasil persilangan kuda Australia dengan kuda lokal. Tubuhnya lebih pendek dibanding kuda pacu lain, tapi justru itulah yang membuatnya lincah, gesit, dan kuat menaklukkan lintasan.
Bagi masyarakat Gayo, Pacu Kude bukan hanya soal siapa yang menang. Ia adalah hiburan, ajang silaturahmi, sekaligus pasar rakyat. Pedagang datang dari berbagai daerah, wisatawan pun berdatangan, ekonomi lokal bergerak, dan suasana kota jadi hidup.
Tradisi ini sempat meredup di masa penjajahan Jepang, tapi semangat masyarakat membuatnya bangkit kembali. Kini, Pacu Kude tak pernah absen jadi bagian dari perayaan HUT RI. Seolah derap kuda di lintasan ikut merayakan semangat kemerdekaan bersama rakyat.
Install SARGA.CO News
sarga.co