SARGA.CO - Arima Kinen selalu menjadi penutup paling megah dalam kalender balap kuda Jepang. Balapan “Grand Prix” akhir tahun ini mempertemukan para bintang lintas generasi dalam satu panggung untuk menentukan siapa yang terbaik dari yang terbaik. Namun Arima Kinen 2025 melampaui semua ekspektasi.
Balapan ini bukan sekadar penobatan juara, melainkan panggung drama penuh kejutan, dari kebangkitan generasi muda, kegagalan para favorit, hingga kisah ironis yang langsung menjadi bahan perbincangan publik. Berikut lima momen paling mengejutkan yang mendefinisikan Arima Kinen tahun ini.
Kemenangan Museum Mile, kuda jantan berusia tiga tahun, menjadi simbol paling jelas dari pergantian generasi di puncak balap kuda Jepang. Mengalahkan kuda-kuda yang lebih tua dan sarat pengalaman, Museum Mile menegaskan bahwa angkatannya bukan sekadar pelengkap, melainkan pemimpin era baru.
Ini merupakan gelar Grade 1 (G1) kedua Museum Mile pada 2025 setelah sebelumnya menjuarai Satsuki Sho (Japanese 2000 Guineas). Bersama pemenang Derby Croix du Nor dan juara Tenno Sho (Autumn) Masquerade Ball, generasi ini kini dipandang sebagai kekuatan dominan yang akan membentuk masa depan balap Jepang.
Di atas pelana, Cristian Demuro tampil bak maestro. Dengan kesabaran tinggi, ia menempatkan Museum Mile di belakang rombongan favorit sebelum melancarkan serangan yang presisi di lintasan lurus akhir. Bagi Demuro, ini adalah kemenangan Arima Kinen pertamanya dalam tujuh percobaan, sekaligus penebusan pahit-manis setelah tahun lalu dikalahkan tipis oleh Regaleira.
Jika Museum Mile adalah simbol kejayaan, maka Cosmo Kuranda adalah wajah dari kejutan terbesar. Berstatus kuda peringkat ke-12 dari 16 peserta, nyaris tak ada yang memperhitungkannya sebagai penantang serius.
Namun di lintasan lurus, Cosmo Kuranda melaju dengan kekuatan luar biasa, bahkan hampir mencuri kemenangan sebelum akhirnya kalah tipis di garis finis. Performanya menjadi salah satu momen “bagaimana jika” paling dikenang dalam sejarah Arima Kinen.
Kondisi lintasan yang agak lunak diduga menjadi faktor kunci, menguntungkan kuda-kuda bertipe tangguh dengan stamina kuat seperti Cosmo Kuranda, sekaligus menumpulkan kecepatan akhir para favorit.
Hasil akhirnya pun menciptakan kejutan besar di papan taruhan. Kombinasi tiga besar — Museum Mile (peringkat 3), Cosmo Kuranda (12), dan Danon Decile (2) — menghasilkan pembayaran Trifecta senilai ¥131.710, menegaskan kembali satu kebenaran klasik: balap kuda tak pernah bisa diprediksi sepenuhnya.
Salah satu detail paling unik dari Arima Kinen 2025 justru datang dari nama sang juara. Museum Mile secara harfiah mengisyaratkan spesialis balapan jarak “mil” (sekitar 1.600 meter).
Namun justru kuda inilah yang menaklukkan jarak jauh 2.500 meter, salah satu balapan paling menguras stamina di Jepang.
Ironi ini langsung menjadi bahan candaan di media sosial. Banyak penggemar berseloroh, “Mungkin Arima Kinen tahun ini diam-diam balapan mil.”
Di balik kelucuan itu, terselip pesan penting: label dan asumsi sering kali runtuh di lintasan balap.
Arima Kinen dikenal sebagai balapan yang kejam terhadap favorit, dan edisi 2025 kembali membuktikannya.
Regaleira, juara bertahan dan favorit utama pilihan penggemar, mengincar sejarah sebagai kuda betina pertama yang menjuarai Arima Kinen dua kali berturut-turut. Namun impian itu kandas ketika ia hanya finis di posisi keempat.
Jokinya, Christophe Lemaire, menjelaskan, di lintasan lurus dengan kondisi agak lunak, reaksinya tidak cukup cepat. "Dia butuh waktu untuk memanaskan mesinnya," imbuhnya
Sementara itu, Meisho Tabaru, favorit keempat yang ditunggangi joki legendaris Yutaka Take, menjadi pusat perhatian dengan strategi berisiko tinggi. Di paruh kedua balapan, Take membiarkannya merebut pimpinan lebih awal, memicu sorak sorai penonton. Namun perjudian tersebut gagal; Meisho Tabaru kehabisan tenaga dan merosot hingga posisi ke-13.
Balapan ini kembali menunjukkan bahwa di Arima Kinen, keberanian tanpa perhitungan bisa berujung kehancuran.
Lebih dari sekadar satu balapan, Arima Kinen 2025 terasa seperti titik balik sejarah. Generasi muda mengambil alih panggung, kuda non-unggulan membuktikan diri, dan para favorit belajar bahwa reputasi saja tidak cukup.
Di tengah drama, kejutan, dan kegagalan, satu nama kini berdiri paling depan: Museum Mile. Sang juara baru bukan hanya memenangkan balapan, ia menandai awal era baru dalam dunia balap kuda Jepang. Dan jika Arima Kinen adalah cermin masa depan, maka 2026 menjanjikan persaingan yang jauh lebih sengit.
(Sumber: Idol Horse)
Install SARGA.CO News
sarga.co