SARGA.CO - Mengetik kata kunci “Stasiun Balapan” di mesin pencarian, publik justru lebih dulu menemukan lirik lagu legendaris milik Didi Kempot. Lagu itu melekat kuat dengan romantisme perpisahan di Kota Solo. Namun jauh sebelum dikenal sebagai simpul transportasi dan inspirasi tembang patah hati, kawasan tersebut menyimpan sejarah panjang sebagai arena pacuan kuda kebanggaan Pura Mangkunegaran.
Balapan Sebelum Stasiun
Ratusan tahun silam, area yang kini menjadi Stasiun Solo Balapan bukanlah tempat hilir mudik kereta api. Kawasan itu merupakan lapangan pacuan kuda milik Pura Mangkunegaran. Dari aktivitas “balapan” kuda inilah kelak nama Balapan melekat dan bertahan hingga kini.
Tak hanya menjadi arena adu cepat, lokasi tersebut juga dimanfaatkan sebagai tempat latihan berkuda oleh Legiun Mangkunegaran, satuan militer elite praja Mangkunegaran.
Legiun ini dibentuk pada masa pemerintahan Mangkunegara II pada 1808. Terinspirasi kekuatan militer modern Eropa seperti pasukan Grande Armée yang dipimpin Napoleon Bonaparte, Mangkunegara II membangun pasukan dengan struktur, taktik, hingga persenjataan bergaya Prancis.
Embrionya berasal dari pasukan gerilya setia Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa. Dari tradisi militer inilah lahir satuan infanteri, kavaleri, dan artileri berkekuatan sekitar 1.150 personel. Lapangan Balapan menjadi saksi latihan kavaleri yang gagah, sebelum kemudian mereka juga berlatih di kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Monumen Banjarsari (dahulu Vila Park).
Modernisasi Mengubah Wajah Kota
Memasuki era modern, fungsi lapangan Balapan berubah drastis. Pada masa pemerintahan Mangkunegara IV, tepatnya 1866, pembangunan stasiun kereta api dimulai dan rampung pada 1870. Kehadiran jalur kereta Semarang–Vorstenlanden pada 1871 menandai babak baru transportasi di Solo.
Dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Stasiun Balapan bersama Stasiun Purwosari menjadi penggerak mobilitas baru, menggantikan cikar, andhong, hingga perahu Bengawan Solo yang dianggap tak lagi efisien.
Stasiun ini bahkan menjadi simpul penting lintas kota di Jawa. Penumpang dari Batavia, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang hampir selalu singgah di Balapan. Tak heran jika pada awal abad ke-20 muncul sebutan Solo sebagai “jantungnya Pulau Jawa”.
Sentuhan arsitektur pun memperkuat identitasnya. Pada 1927, ruang lobi dipercantik oleh arsitek kenamaan Thomas Karsten yang memadukan unsur Barat dan Timur. Namun di balik modernisasi itu, jejak sejarah pacuan kuda tak benar-benar hilang, ia hanya berpindah tempat.
Pindah ke Manahan, Tradisi Tetap Hidup
Seiring pembangunan stasiun, arena pacuan kuda dipindahkan ke kawasan Manahan. Kini dikenal dengan Stadion Manahan, wilayah tersebut dulunya memiliki akar sejarah berbeda.
Nama Manahan diyakini berkaitan dengan persinggahan Ki Ageng Pamanahan, tokoh penting awal Mataram Islam. Kawasan itu semula menjadi lokasi latihan memanah keluarga bangsawan Mangkunegaran yang gemar berburu hingga Alas Kethu Wonogiri.
Pada 1932, ketika Pakubuwono X dari Kasunanan memajukan olahraga dan ruang rekreasi di Sriwedari, Praja Mangkunegaran tak ingin tertinggal. Lapangan Manahan pun dibangun luas dan dilengkapi tribun untuk arena pacuan kuda—melanjutkan tradisi balapan yang telah berakar sejak era Balapan lama.
Jejak yang Tak Terhapus Waktu
Hari ini, Stasiun Balapan dikenal sebagai ikon transportasi sekaligus simbol romantisme lewat lagu Didi Kempot. Namun di balik rel dan peronnya, tersimpan cerita tentang derap kuda, latihan kavaleri, dan ambisi modernisasi kerajaan Jawa.
(Sumber: Solopos)
Install SARGA.CO News
sarga.co