SARGA.CO- Berkuda menjadi kegiatan yang tak bisa dilepaskan dengan Kadipaten Mangkunegaran. Berkuda menjadi salah satu warisan budaya yang sudah melekat sejak pertama kali pecah dari Kerajaan Mataram Islam pada 1757.
Sejarah panjang berkuda di Mangkunegaran, sebagai kadipaten di Surakarta, mulai dari militer, budaya elite, sampai perlawanan terhadap penjajah.
Mulanya berkuda hanya menjadi sarana untuk mendukung militer. Pada abad ke-18, Raden Mas Said (Mangkunegara I) membentuk Pasukan Estri Ladrang Mangungkung, pasukan perempuan pertama yang terlatih berkuda dan bersenjata.
Pasukan ini berjumlah 60 orang, ahli menunggang kuda, memanah, serta menggunakan karbin wedung untuk mendampingi Mangkunegara I melawan VOC dalam berbagai pertempuran.
Lapangan Pamedan di Keraton Mangkunegaran menjadi lokasi utama latihan berkuda bagi prajurit, termasuk putri-putri raja yang dilatih memegang senjata.
Masih dalam kapasitas militer, Mangkunegara II mendirikan Legiun Kavaleri pada 1808 atas perintah Prancis, yang kala itu dipimpin Napoleon Bonaparte.
Unit kavaleri ini menjadi pasukan berkuda modern ala Eropa yang terkuat saat itu. Legiun ini, didanai Belanda, terdiri dari mantan pasukan Pangeran Sambernyawa dan digunakan untuk ekspedisi seperti menumpas bajak laut di Bangka.
Memasuki abad ke-19, fungsi kuda bergeser seiring stabilitas politik. Pada era Mangkunegara IV(1853–1881), yang dikenal sebagai masa kemakmuran Mangkunegaran, kuda tidak lagi semata alat perang, tetapi bagian dari kehidupan aristokrat.
Arsip kolonial dan catatan budaya Jawa, termasuk laporan administrasi Hindia Belanda serta studi Soedarmono dalam Sejarah Mangkunegaran, menunjukkan adanya pengelolaan kandang istana, penggunaan kuda dalam kirab resmi, serta meningkatnya perhatian pada kualitas dan perawatan kuda.
Pengaruh Eropa turut membentuk praktik berkuda yang lebih modern. Menurut penelitian Heather Sutherland dalam kajian tentang elite Jawa dan kolonialisme, interaksi dengan Belanda membawa pengenalan balap kuda dan olahraga equestrian ke kalangan bangsawan Jawa pada akhir abad ke-19.
Mangkunegaran mempelopori sejarah pacuan kuda di Surakarta pada tahun 1889–1890. Mereka memadukan teknik Barat dengan nilai lokal seperti pengendalian diri dan etika berkuda.
Dalam artikel ilmiah 'Sejarah Olahraga Berkuda di Surakarta Tahun 1890-1942', Apriliandi Damar Priyambodo menjelaskan olahraga berkuda di Surakarta mengalami perkembangan signifikan sejak awal abad XX, sebelum kemudian mengalami kemunduran saat ekspansi Jepang pada tahun 1942.
Pada periode 1890-1942, olahraga berkuda mencapai era keemasannya, di mana Pura Mangkunegaran memegang peranan sentral dalam mempopulerkan disiplin ini, baik sebagai ajang ketangkasan maupun simbol status sosial.
Munculnya olahraga berkuda di Surakarta merupakan hasil perpaduan pengaruh budaya Eropa dan kegemaran para penguasa pribumi, khususnya Pakubuwono X dan Mangkunegara VII.
Mangkunegara VII (berkuasa 1916-1944) dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai olahraga ini. Ketertarikannya bukan sekadar sebagai penonton; beliau sering kali turun langsung ke arena untuk mempraktikkan kemahiran berkudanya.
Dukungan Mangkunegaran terhadap olahraga ini juga terlihat dari berdirinya Sport Vereniging Mangkoe-Nagaran (SVMN), sebuah organisasi olahraga di bawah naungan kadipaten yang turut membidangi aktivitas fisik bagi kalangan internal istana.
Pada awalnya, aktivitas pacuan kuda di Surakarta berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Stasiun Balapan. Namun, seiring berkembangnya kebutuhan akan fasilitas yang lebih representatif, arena pacuan kuda kemudian dipindahkan ke kawasan Manahan.
Di Manahan, fasilitas dibangun dengan sangat megah untuk ukuran zamannya, mencakup tribun VIP untuk para penguasa, termasuk Mangkunegara VII dan Ratu Timur, serta tribun terpisah untuk rakyat biasa.
Masyarakat Surakarta kala itu mengenal dua ragam olahraga berkuda:
1. Hippischesport: Menitikberatkan pada aspek estetika, keindahan, dan ketangkasan penunggangnya.
2. Paarden race (Pacuan Kuda): Mengandalkan adu kecepatan murni di lintasan pacu.
Ajang pacuan kuda biasanya diadakan secara rutin setahun dua kali, yakni pada musim semi (Voorjaarsraces) dan musim gugur (Najaarsraces). Salah satu ajang paling bergengsi yang tercatat dalam sejarah adalah De Java Derby 1937, yang menawarkan hadiah besar bagi pemenangnya.
Keberadaan pacuan kuda melahirkan gaya hidup baru bagi masyarakat perkotaan di Surakarta, khususnya kaum elite. Pacuan kuda sering kali diikuti dengan pesta pora di societeit (gedung pertemuan) baik sebelum maupun sesudah pertandingan.
Selain itu, elemen yang tidak terpisahkan dari pacuan kuda adalah munculnya budaya taruhan atau perjudian. Mekanisme taruhan (inzet) diatur secara sistematis, bahkan menjadi salah satu daya tarik utama bagi penonton yang datang ke Manahan.
Masa kejayaan ini runtuh seketika saat Jepang menginvasi Surakarta pada tahun 1942. Pemerintah pendudukan Jepang merampas kuda-kuda milik peternak dan bangsawan untuk kepentingan perang.
Selain itu, lapangan pacuan kuda yang megah dialihfungsikan menjadi tempat latihan militer bagi tentara Jepang. Sejak saat itu, derap kaki kuda di Manahan meredup, menandai berakhirnya sebuah era keemasan equestrian di bumi Mangkunegaran.
Install SARGA.CO News
sarga.co