SARGA.CO- California Chrome adalah cerita dongeng di dunia nyata. Dia melampaui batas dengan menjadi yang terbaik, meski lebih banyak tantangan ketimbang privilese, bahkan sebelum dia lahir.
California Chrome menjadi anomali dalam dunia balap kuda yang membawa harapan . Seekor Kuda yang mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.
Dia lahir dari peternak pemula Steve Coburn dan Perry Martin yang jauh dari nama besar.
Dia juga tak punya garis turunan elite layaknya kuda-kuda unggulan pada umumnya. Ia hanyalah kuda yang dikembangbiakkan dengan modal 10 ribu dolar Amerika Serikat (AS).
Namun dengan segala keterbatasannya, dia bisa menjadi juara kejuaraan elite, Kentucky Derby 2014 dan bahkan menjadi juara Dubai World Cup 2016.
California Chrome sudah dipandang sebelah mata, bahkan sebelum dia lahir. Coburn dan Martin membeli induk Love the Chase seharga 8 ribu dolar AS.
Harga yang relatif murah. Wajar, perawakan kuda ini yang kecil dan tak mentereng. Rekornya juga tak istimewa–kalau tak mau dibilang mengecewakan, menang sekali dari enam kali start dalam kariernya.
Seorang perawat kuda bahkan mengatakan langkah membeli Love the Chase, sebagai langkah "bodoh" (dumb ass move).
Bukannya tenggelam dalam cibiran, Coburn dan Martin malah menamai stable mereka “Dumb Ass Partners”.
Coburn dan Martin tertarik dengan silsilah Love the Chase, dan waktu membuktikan bahwa mereka jeli.
Meski Dewi Fortuna turut ambil peran dalam kelahiran Chrome.
Awalnya mereka mengirim Love the Chase ke pejantan bernama Redattore. Ketika perkawinan itu terbukti tidak berhasil, mereka hanya membayar 2 ribu dolar AS untuk jasa Lucky Pulpit, pejantan yang tidak menjanjikan yang mengalami kesulitan bernapas dan kalah dalam semua perlombaan kecuali tiga dari 22 start di kariernya.
Proses pascakelahirah Chrome juga tak biasa. Dia melewati proses persalinan yang sulit, sehingga Love the Chase perlu perawatan ekstensif setelahnya.
Chrome yang belum bernama kala itu, lebih banyak mendapat perawatan dari manusia. Namun Pelatih Art Sherman, yang kian berpengalaman, melihat Chrome sebagai kuda dengan mental juara.
Namanya sendiri berasal dari daerah asalnya, California, serta garis putih yang mencolok di wajahnya, Chrome.
Kuda yang hebat perlu joki yang tepat. Sherman akhirnya mempertemukan California Chrome dengan Joki Victor Espinoza. Duet ini terbukti kian dominan.
Banyak orang percaya, banyaknya interaksi Chrome dengan manusia saat proses kelahirannya membuatnya lebih baik menghadapi tekanan dan sangat responsif terhadap penunggangnya.
Di tahun 2014, California Chrome masuk ke Kentucky Derby setelah meraih empat kemenangan beruntun.
Dia meledak di kesempatan itu dan menjadi juara, gelaran paling bergengsi di Negeri Paman Sam. Chrome melengkapi pencapaian tahun itu dengan kemenangan di Preakness. Sayang dia terpeleset di Belmont Stakes dan gagal meraih Triple Crown.
Meski tak mengunci tiga mahkota, tahun 2014, dia tetap meraih gelar “Kuda Terbaik Tahun Ini”, gelar yang akan dia rengkuh lagi di masa depan.
Pada usia empat tahun, setelah kurang selangkah menjadi pemegang gelar Triple Crown, besar ekspektasi publik terhadap Chrome.
Namun tahun itu justru penuh masalah, Chrome tidak merengkuh satupun kemenangan dari dua race yang dia ikuti tahun itu.
Saat keraguan datang, Chrome menghapusnya dengan pencapaian luar biasa pada tahun ke-5-nya. Ia mengalahkan para pesaing yang bertabur bintang di Dubai World Cup 2016, yang jadi kompetisi dengan hadiah terbesar tahun itu.
Chrome kemudian menyapu bersih setiap start, kecuali Breeders’ Cup Classic. Enam kemenangan dari tujuh race yang dia ikuti. Dia mengumpulkan lebih dari 8 juta dolar AS dalam pendapatan hadiah pada tahun 2016.
Gelar "Kuda Terbaik Tahun Ini" pun kembali dia bawa pulang. Comeback yang komplit itu sekaligus menegaskan legasinya sebagai kuda unggul, bukan hanya sensasi sesaat.
Sayangnya, Chrome tidak memberikan akhir dongeng yang didambakan oleh para penggemarnya yang dikenal sebagai “Chromies”. Dalam kondisi sedikit cedera dia finis urutan kesembilan dalam perlombaan Pegasus World Cup 2017, yang jadi penampilan terakhirnya.
Namun hal itu tak mengurangi kilau California Chrome. Ia memenangkan 16 dari 27 start dengan empat kali finis di posisi kedua dan satu kali di posisi ketiga. Ia termasuk dalam 10 kuda pacuan Amerika Utara dengan penghasilan tertinggi dalam sejarah, menghasilkan 14.752.650 dolar AS.
Ia mengingatkan semua orang akan keindahan abadi pacuan kuda, Kala emas tidak selalu dapat membeli kejayaan.
"Anda tidak perlu menjadi miliarder atau jutawan untuk mendapatkan kuda yang bagus. Dia adalah investasi 10 ribu dolar yang berubah menjadi 14,5 juta dolar. Itu memberi semua orang insentif untuk membiakkan kuda mereka dan berharap mungkin mereka bisa mendapatkan California Chrome,” ujar Pelatih Chrome, Art Sherman.
--
(Disarikan dan ditulis ulang dari artikel berjudul “California Chrome: A Horse Who Brought Dreams to Life” di America's Best Racing)
Install SARGA.CO News
sarga.co