SARGA.CO - Sulit membicarakan peta persaingan pacuan kuda nasional tanpa menyebut nama Meikel Soleran. Lahir di Pinabetengan, 31 Maret 1998, joki asal Sulawesi Utara ini menjelma menjadi simbol konsistensi, determinasi, dan mental juara. Bagi Meikel, lintasan bukan sekadar arena balap, melainkan panggung pembuktian.
Karier Meikel dimulai sejak 2005. Artinya, hampir dua dekade hidupnya dihabiskan di atas pelana. Sebuah dedikasi panjang yang tidak banyak dimiliki atlet seusianya.
Sejak awal, bakatnya sudah mencuri perhatian. Gelar Joki Terbaik 2008 menjadi penanda bahwa ia bukan talenta biasa. Delapan tahun berselang, ia kembali mengukuhkan diri sebagai Joki Terbaik 2016.
Dan ketika banyak yang mengira masa emasnya telah lewat, Meikel justru membuktikan sebaliknya: ia kembali meraih Joki Terbaik 2025, sebuah pencapaian yang menegaskan kualitasnya lintas generasi.
Punya postur ringan, refleks cepat, dan kemampuan membaca ritme kuda menjadi kekuatan utama Meikel. Ia dikenal adaptif terhadap berbagai karakter kuda dan jenis lintasan.
Baik jarak pendek yang menuntut ledakan kecepatan maupun jarak jauh yang mengandalkan stamina dan strategi, Meikel mampu menyesuaikan gaya tunggangannya. Tak heran jika banyak pemilik dan pelatih mempercayakan momen-momen krusial kepadanya.
Tahun 2025 menjadi salah satu musim paling gemilang dalam kariernya. Konsistensi membawa Meikel hampir selalu naik podium.
Salah satu puncaknya terjadi di ajang IHR: Piala Raja Hamengku Buwono X. Bersama kuda andalannya, Triple’S, Meikel tampil impresif di Kelas Terbuka 2.000 meter dan keluar sebagai juara.
Kemenangan itu bukan sekadar trofi. Itu adalah pernyataan tegas, Meikel Soleran masih menjadi ancaman utama di lintasan nasional.
Dominasi tersebut berlanjut di IHR: Jateng Derby 2026. Kali ini bersama Nara Eclipse, Meikel menjuarai Kelas 3 Tahun Derby Divisi I – 1.000 meter.
Balapan jarak pendek yang sarat tensi itu menuntut presisi dan keberanian mengambil keputusan dalam hitungan detik. Meikel membuktikan kelasnya, start bersih, pengaturan tempo matang, dan sprint akhir yang menentukan. Podium? Seolah sudah menjadi alamat tetapnya.
Di balik sederet gelar dan trofi, Meikel dikenal sebagai sosok pekerja keras yang rendah hati. Latihan disiplin, menjaga berat badan, serta membangun chemistry dengan kuda menjadi rutinitas yang ia jalani tanpa kompromi.
Dedikasi dua dekade di atas pelana membentuknya bukan hanya sebagai atlet berprestasi, tetapi juga sebagai panutan bagi generasi muda joki Indonesia, khususnya dari Sulawesi Utara.
Dari Pinabetengan ke panggung pacuan nasional, Meikel Soleran membuktikan bahwa konsistensi adalah kunci kejayaan. Dan selama ia masih memacu kuda di lintasan, satu hal terasa pasti: Podium adalah tempatnya.
Install SARGA.CO News
sarga.co