SARGA.CO - Dunia pacuan kuda pernah memiliki seekor kuda betina luar biasa bernama Triptych. Ia dikenal sebagai salah satu kuda turf terbaik pada era 1980-an. Namun di balik karier gemilangnya, Triptych justru mengalami akhir hidup yang tragis dan mengejutkan dunia balap.
Triptych merupakan kuda betina keturunan pejantan Riverman dari induk Trillion. Selama kariernya di lintasan pacuan, ia tampil luar biasa dengan total 41 kali start, 14 kemenangan, dan menghasilkan lebih dari 2,6 juta dolar AS hadiah balap.
Kuda ini dikenal karena konsistensi dan ketangguhannya di lomba turf kelas elite Eropa maupun Amerika. Prestasinya membuat Triptych menjadi salah satu kuda betina paling dihormati pada masanya.
Pada 1988, reputasinya bahkan membuat investor ternama Peter M. Brant bersama rekannya membeli Triptych dengan harga fantastis sekitar 3,4 juta dolar AS dalam sebuah lelang.
Setelah pensiun dari balapan pada akhir 1988, masa depan Triptych tampak cerah sebagai induk kuda. Ia bahkan tengah mengandung anak dari pejantan legendaris Mr. Prospector, yang saat itu merupakan salah satu pejantan paling berpengaruh di dunia pembiakan kuda.
Banyak pihak berharap anak pertama Triptych kelak menjadi penerus darah juara.
Namun harapan besar itu hancur dalam sebuah kecelakaan tragis pada tahun 1989 di Claiborne Farm, salah satu peternakan Thoroughbred paling terkenal di dunia.
Pada suatu malam, seorang penjaga peternakan melakukan patroli rutin dengan truk di area padang tempat beberapa kuda betina dilepas. Untuk menghindari menyilaukan kuda, lampu kendaraan dimatikan. Namun dalam kegelapan, beberapa kuda berlari menuju kendaraan tersebut.
Dalam kekacauan itu, Triptych menabrak truk dan mengalami cedera parah. Kuda juara tersebut menderita patah tulang panggul ganda dan pendarahan hebat akibat benturan tersebut. Tak lama kemudian, Triptych dinyatakan mati akibat luka yang terlalu parah.
Tragedi ini semakin memilukan karena saat itu Triptych sedang hamil, sehingga kecelakaan tersebut juga menghilangkan calon anak yang sangat dinantikan oleh dunia pembiakan Thoroughbred.
Kematian Triptych menjadi salah satu kisah paling menyedihkan dalam sejarah balap kuda. Ia meninggal bukan di lintasan balap, melainkan karena kecelakaan yang sangat jarang terjadi di peternakan.
Lebih tragis lagi, karena kematiannya yang mendadak, Triptych tidak pernah meninggalkan keturunan langsung yang bisa melanjutkan garis darahnya.
Meski begitu, keluarga darah dari induknya tetap berlanjut melalui kerabat lain dalam garis keturunan yang sama. Dari garis tersebut kemudian lahir kuda-kuda hebat generasi berikutnya yang menjaga nama keluarga tersebut tetap hidup di dunia balap.
Hingga kini, kisah Triptych masih sering disebut sebagai contoh betapa rapuhnya nasib seekor kuda juara. Dari puncak kejayaan lintasan balap hingga akhir yang tragis di padang peternakan, perjalanan hidupnya meninggalkan kesan mendalam bagi dunia pacuan kuda.
Triptych mungkin tidak sempat meninggalkan keturunan, tetapi namanya tetap dikenang sebagai salah satu kuda betina paling tangguh dan paling tragis dalam sejarah balap Thoroughbred.
(Sumber: Los Angeles Times)
Install SARGA.CO News
sarga.co