SARGA.CO - Dua kemenangan di ajang Classic telah dikantongi Lovcen. Kini, hanya satu balapan lagi yang memisahkannya dari pencapaian paling bergengsi bagi seekor kuda pacu berusia tiga tahun di Jepang: Japanese Triple Crown.
Setelah menjadi yang tercepat di Satsuki Sho (G1) sejauh 2.000 meter dan yang paling beruntung di Tokyo Yushun atau Japanese Derby (G1) sejauh 2.400 meter, Lovcen akan mengincar mahkota terakhir di Kikuka Sho (G1) yang digelar Oktober mendatang di Kyoto Racecourse.
Jika berhasil, Lovcen akan bergabung dengan daftar elite kuda yang mampu menyapu bersih tiga balapan Classic Jepang dalam satu musim, sebuah prestasi yang hanya mampu diraih segelintir legenda pacuan Negeri Sakura.
Meski demikian, jalan menuju sejarah masih panjang. Berbeda dengan dua balapan sebelumnya, Kikuka Sho merupakan ujian ketahanan sejauh 3.000 meter, jarak yang kerap menjadi penentu apakah seekor kuda benar-benar layak menyandang predikat juara Triple Crown.
Salah satu alasan mengapa banyak pengamat optimistis terhadap peluang Lovcen adalah faktor keturunannya.
Ayahnya, World Premier, merupakan pemenang Kikuka Sho sekaligus Tenno Sho (Spring), dua balapan paling bergengsi di Jepang untuk kategori jarak jauh. Di generasi sebelumnya, Lovcen juga mewarisi darah Deep Impact, legenda pacuan Jepang yang sukses menjuarai Japanese Triple Crown sebelum mendominasi sebagai pejantan.
Pengaruh stamina itu semakin kuat melalui garis keluarga Eropa. Dalam silsilahnya terdapat nama Acatenango dan Surumu, dua pejantan yang dikenal menghasilkan kuda-kuda dengan kemampuan bertahan di lintasan panjang. Sementara dari garis induk, Giant's Causeway juga dikenal mewariskan daya tahan dan konsistensi kepada keturunannya.
Dengan kombinasi tersebut, banyak pihak menilai jarak 3.000 meter justru berpotensi menjadi keunggulan bagi Lovcen, bukan hambatan.
Selain faktor pedigree alias keturunan, performa Lovcen sepanjang musim Classic juga menunjukkan kualitas yang sulit dipandang sebelah mata.
Di Satsuki Sho, ia tampil agresif sejak awal balapan dengan memimpin rombongan hingga garis finis dan mencatatkan rekor waktu baru. Sebaliknya, saat tampil di Japanese Derby, Lovcen menunjukkan sisi berbeda.
Memulai balapan dari gate luar dan sempat mengalami hambatan di awal perlombaan, ia tetap mampu menjaga ritme sebelum melancarkan akselerasi pada fase akhir untuk merebut kemenangan.
Kemampuan beradaptasi dengan berbagai skenario balapan menjadi salah satu kelebihan terbesar Lovcen. Ia tidak bergantung pada satu gaya berlari, melainkan mampu menyesuaikan taktik dengan situasi di lintasan.
Fleksibilitas seperti inilah yang diperkirakan akan sangat berharga dalam Kikuka Sho, balapan yang kerap menghadirkan tempo dan dinamika berbeda dibanding dua Classic sebelumnya.
Meski telah memenangkan dua balapan pertama, belum banyak yang berani menyebut Lovcen hampir pasti meraih Triple Crown.
Kikuka Sho selama ini dikenal sebagai balapan yang sangat menguji stamina, kesabaran, kemampuan membaca jalannya perlombaan, hingga kecermatan dalam mengambil keputusan sepanjang 3.000 meter.
Dalam balapan sejauh ini, peran joki sering kali menjadi faktor penentu. Karena itu, sorotan juga akan tertuju kepada Kohei Matsuyama, yang sejak awal mendampingi Lovcen sepanjang kampanye Classic musim ini.
Apabila berhasil membawa Lovcen menyapu bersih tiga balapan Classic, Matsuyama akan kembali menorehkan pencapaian istimewa dalam kariernya setelah sebelumnya juga sukses menaklukkan rangkaian Classic kategori filly dalam beberapa musim terakhir.
Para Penantang Siap Menggagalkan Mimpi
Status sebagai favorit tidak berarti jalan Lovcen menuju Triple Crown akan mulus.
Beberapa rival telah menunjukkan perkembangan signifikan sejak musim semi dan diperkirakan menjadi ancaman serius di Kyoto.
Realize Sirius menjadi salah satu pesaing utama setelah beberapa kali memberikan tekanan kepada Lovcen sepanjang musim Classic dan memiliki kemampuan bertahan di lintasan panjang.
Sementara itu, Cavallerizzo dan Matenro Gale telah mengumpulkan pengalaman di balapan-balapan Classic dan dinilai berpeluang tampil lebih kompetitif ketika menghadapi jarak 3.000 meter.
Namun, ancaman terbesar mungkin datang dari Basse Terre. Dalam Japanese Derby, putra Kitasan Black itu tampil impresif dengan melakukan sprint panjang dari barisan belakang sebelum terus melaju kuat bahkan setelah melewati garis finis. Seperti banyak keturunan Kitasan Black lainnya, Basse Terre juga diperkirakan akan mengalami perkembangan pesat setelah memasuki musim panas.
Persaingan semakin menarik karena kehadiran Christophe Lemaire. Joki asal Prancis itu tentu ingin membalas kegagalannya di Derby setelah kalah tipis bersama Peintre Naif. Rekornya pun berbicara sendiri, yakni menjuarai tiga edisi terakhir Kikuka Sho. Siapa pun kuda yang nantinya ia tunggangi, pengalaman dan rekam jejak Lemaire membuatnya layak diperhitungkan sebagai ancaman terbesar bagi Lovcen.
Kesempatan merebut Japanese Triple Crown tidak datang setiap tahun. Sejarah menunjukkan banyak kuda yang mampu mendominasi dua balapan Classic pertama, tetapi akhirnya gagal menaklukkan Kikuka Sho karena kerasnya ujian di lintasan sepanjang 3.000 meter.
Meski demikian, Lovcen tampaknya memiliki hampir seluruh modal yang dibutuhkan. Pedigree yang sarat darah kuda jarak jauh, kemampuan beradaptasi dengan berbagai gaya balap, serta performa konsisten sepanjang musim menjadikannya pemimpin generasinya saat ini.
Kini, satu pertanyaan besar tinggal menunggu jawaban pada Oktober nanti. Jika mampu menjaga kondisi fisik dan terus berkembang hingga musim gugur, Lovcen berpeluang mengukir namanya sebagai peraih Japanese Triple Crown berikutnya.
Install SARGA.CO News
sarga.co