SARGA.CO - Terselip doa di dalam nama. Mungkin, filosofi itu yang dipegang Hiroshi Yamada, pemilik Titleholder, saat kuda itu lahir Februari 2018 lalu.
Kuda jantan yang lahir dari Okada Stud itu punya nama yang secara harfiah berarti pemegang gelar juara. Sebuah nama yang terdengar seperti harapan, bahkan tuntutan.
Melihat garis keturunannya yang juga istimewa, harapan besar itu agaknya wajar dimiliki. Sebagai putra Duramente, cucu King Kamehameha, dan cicit Kingmambo, darah juara mengalir dalam dirinya.
Ekspektasi itu mengiringinya sejak hari pertama. Akan tetapi, sepanjang kariernya, Titleholder justru membuktikan bahwa nama tersebut bukanlah beban yang harus dipikul, melainkan takdir yang berhasil ia wujudkan.
Kini, kisahnya memasuki babak baru. Setelah diumumkan sebagai karakter terbaru dalam Uma Musume: Pretty Derby pada konser 7th EVENT WORLD TOUR "THE STAGE in TOKYO DAY2", Titleholder akan dikenal oleh jutaan penggemar baru. Di balik karakter yang mereka lihat nanti, tersimpan perjalanan seekor kuda yang dibentuk oleh alam keras, kehilangan, hingga tekad yang nyaris tak pernah goyah.
Titleholder lahir pada 2018 di Erimo Farm, Hokkaido, sebuah peternakan yang memiliki reputasi unik di kalangan pencinta pacuan Jepang. Padang rumputnya bukan hanya terkenal karena medannya yang berat, tetapi juga karena rusa dan beruang liar yang kerap muncul di sekitarnya.
Banyak kuda muda membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan seperti itu. Titleholder justru tumbuh seolah tempat tersebut memang diciptakan untuknya.
Di sana ia mengembangkan stamina, daya tahan, dan mental bertarung yang kelak menjadi ciri khasnya di lintasan. Bersama Melody Lane, yang kemudian juga menjadi favorit para penggemar, Titleholder melewati masa muda yang membentuk fondasi kariernya sebagai salah satu stayer terbaik Jepang.
Bakatnya mulai terlihat sejak awal karier. Ia memenangi debutnya pada 2020, lalu mencuri perhatian dengan menjuarai Yayoi Sho dan finis kedua di Satsuki Sho setahun kemudian.
Namun, kemenangan yang benar-benar mengubah namanya datang pada Kikuka Sho 2021.
Bagi sebagian orang, hasil itu mungkin hanya tercatat sebagai gelar G1 pertama Titleholder. Padahal, di balik kemenangan tersebut tersimpan cerita yang jauh lebih emosional. Ayahnya, Duramente, tidak pernah memiliki kesempatan mengikuti Kikuka Sho karena cedera yang lebih dulu mengakhiri ambisinya mengejar Triple Crown. Dua bulan sebelum balapan itu berlangsung, Duramente bahkan meninggal dunia akibat kolitis akut.
Saat Titleholder melintasi garis finis sebagai juara, ia bukan hanya meraih gelar G1 pertamanya. Ia juga mempersembahkan kemenangan G1 pertama bagi Duramente sebagai pejantan.
Musim 2022 menjadi titik ketika Titleholder berhenti dipandang sebagai sekadar juara klasik. Ia berubah menjadi kekuatan yang benar-benar ditakuti.
Berbeda dari Duramente yang terkenal dengan akselerasi eksplosif menjelang finis, Titleholder memilih menguasai balapan sejak awal. Ia berlari di depan, memaksa lawan mengejarnya hingga kehabisan tenaga. Gaya itu justru lebih mengingatkan publik kepada Kitasan Black, rival terbesar ayahnya.
Ia menghancurkan persaingan di Tenno Sho (Spring) dengan keunggulan tujuh panjang kuda, lalu kembali menunjukkan kelasnya saat menjuarai Takarazuka Kinen.
Hanshin Racecourse menjadi panggung tempat ia nyaris tak tersentuh. Dari sanalah lahir julukan "Emperor of Hanshin", sebuah penghormatan dari para penggemar kepada seekor kuda yang tampak begitu sulit dikalahkan setiap kali menginjak lintasan tersebut.
Pada akhir musim, penghargaan JRA Award for Best Older Male Horse 2022 menjadi pengakuan resmi atas dominasinya.
Karier seorang juara jarang berjalan lurus, begitu pula dengan Titleholder.
Ia membuka musim 2023 dengan kemenangan meyakinkan delapan panjang kuda di Nikkei Sho. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika mengalami cedera pada kaki depan kanan sehingga harus mengundurkan diri dari Tenno Sho (Spring), balapan yang sebelumnya ia menangi dengan begitu dominan.
Cedera memaksanya menepi cukup lama. Ketika kembali, performanya pun tidak lagi seimpresif musim sebelumnya. Gelar G1 keempat tak pernah datang.
Namun, semangat bertarungnya tidak ikut hilang. Ia tetap menghadapi para kuda terbaik Jepang hingga balapan terakhirnya di Arima Kinen 2023. Di lomba dengan pesaing kuat musim itu, Titleholder masih mampu finis di posisi ketiga sebelum akhirnya mengakhiri karier di lintasan dan memulai babak baru sebagai pejantan di Lex Stud.
Karakter Titleholder di Uma Musume: Pretty Derby --yang diisi suara oleh Yui Kanari, tidak digambarkan sebagai sosok bangsawan atau pahlawan klasik.
Sebaliknya, ia tampil sebagai petarung seni bela diri yang terus mencari latihan paling keras demi menjadi "makhluk terkuat". Pilihan karakterisasi itu ternyata sangat dekat dengan kehidupan aslinya.
Potongan kalimat, "untuk menjadi lebih lincah dari rusa dan lebih kuat dari beruang, aku harus terus berlatih," bukan sekadar dialog yang terdengar keren. Ucapan tersebut merupakan penghormatan terhadap Erimo Farm, tempat rusa dan beruang benar-benar menjadi bagian dari keseharian Titleholder sejak kecil.
Dengan begitu, Uma Musume tidak hanya meminjam namanya, tetapi juga membawa filosofi yang membentuk sosok Titleholder di dunia nyata.
Titleholder juga menuntaskan ekspektasi yang menempel pada namanya. Ia mengantar mendiang Duramente meraih kemenangan G1 pertama sebagai pejantan, menguasai Hanshin hingga dikenang sebagai "Emperor of Hanshin", dan menutup karier sebagai salah satu stayer terbaik pada masanya.
Sebuah kalimat dalam poster JRA Hero Horse merangkum seluruh perjalanan tersebut: “Namanya adalah Titleholder. Setelah berhasil memikul nama itu dan mengatasi tekanan yang begitu besar, tak ada lagi yang perlu ia takuti.”
Pada akhirnya, Titleholder bukan dikenang karena ia diberi nama seorang juara. Ia dikenang karena berhasil membuat nama itu menjadi kenyataan.
Install SARGA.CO News
sarga.co