SARGA.CO – Dalam sejarah pacuan kuda dunia, banyak rivalitas legendaris yang lahir di lintasan. Namun ada satu persaingan yang justru dikenang karena tidak pernah benar-benar terjadi.
Dua ratu pacuan Amerika, Rachel Alexandra dan Zenyatta, menjadi pusat perhatian dunia pada 2009 hingga 2010. Keduanya sama-sama mendominasi balapan, memiliki jutaan penggemar fanatik, bahkan sama-sama dinobatkan sebagai Horse of the Year. Ironisnya, kedua legenda itu tidak pernah sekali pun bertemu di lintasan yang sama.
Meski tak pernah saling berhadapan, perdebatan soal siapa yang lebih hebat masih terus berlangsung hingga kini.
Rachel Alexandra dikenal sebagai kuda yang agresif sejak start. Ia gemar memimpin balapan dari depan dan menghancurkan lawan-lawannya dengan kecepatan luar biasa.
Musim 2009 menjadi salah satu kampanye terbaik sepanjang sejarah pacuan kuda betina. Rachel memenangi seluruh delapan balapannya, termasuk Kentucky Oaks, Preakness Stakes, Haskell Invitational, hingga Woodward Stakes, saat mengalahkan kuda-kuda jantan dewasa. Atas prestasi tersebut, ia dinobatkan sebagai Horse of the Year 2009.
Di sisi lain, Zenyatta tampil dengan karakter yang bertolak belakang. Kuda asal California itu hampir selalu membiarkan lawannya memimpin sejak awal sebelum melancarkan sprint luar biasa di lintasan lurus. Strategi tersebut membawanya mencatat 19 kemenangan beruntun, termasuk menjadi satu-satunya kuda betina yang berhasil memenangi Breeders' Cup Classic melawan kuda-kuda jantan pada 2009. Ia kemudian meraih gelar Horse of the Year 2010.
Rivalitas yang Membelah Penggemar
Performa luar biasa keduanya membuat komunitas pacuan kuda Amerika terbelah. Di era awal media sosial dan forum internet, perdebatan antara pendukung Rachel Alexandra dan Zenyatta menjadi fenomena tersendiri. Setiap kemenangan salah satu dari mereka selalu memicu diskusi panjang, bahkan tak jarang berubah menjadi perdebatan sengit.
Banyak pengamat menyebut rivalitas itu sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah pacuan kuda modern, meski kedua kuda tersebut tidak pernah berbagi starting gate.
Duel yang Sudah Dijadwalkan, Lalu Batal
Harapan terbesar publik muncul pada 2010 ketika Apple Blossom Handicap menawarkan hadiah fantastis sebesar US$5 juta jika Rachel Alexandra dan Zenyatta sama-sama turun berlaga.
Seluruh persiapan telah dilakukan. Hotel-hotel di sekitar arena balap bahkan dilaporkan penuh karena para penggemar ingin menyaksikan duel impian tersebut.
Namun kenyataan berkata lain. Rachel Alexandra tampil di bawah performa terbaiknya pada balapan comeback musim 2010 dan kalah dari Zardana, yang kebetulan merupakan rekan satu kandang latihan Zenyatta. Sehari kemudian, tim Rachel memutuskan membatalkan keikutsertaannya di Apple Blossom.
Balapan impian itu pun resmi gagal terwujud. Zenyatta tetap turun berlaga dan menang mudah, tetapi tanpa rival yang selama ini dinantikan publik.
Mungkin Justru Lebih Baik Tak Pernah Bertemu
Banyak yang percaya satu balapan tidak akan pernah benar-benar menentukan siapa yang lebih hebat. Rachel Alexandra unggul dalam kecepatan awal dan sering mendominasi sejak start. Sebaliknya, Zenyatta terkenal dengan kemampuan mengejar dari belakang pada ratusan meter terakhir.
Perbedaan gaya balap itu membuat hasil duel mereka sulit diprediksi. Bahkan hingga kini, mantan joki Zenyatta Mike Smith mengaku tidak menyesali batalnya duel tersebut karena kedua kuda akhirnya sama-sama dikenang sebagai legenda tanpa ada yang harus "dikalahkan".
Pada 2016, Rachel Alexandra dan Zenyatta akhirnya "bertemu" dalam satu momen ketika keduanya bersama-sama dilantik ke dalam Racing Hall of Fame. Meski tak pernah saling menantang di lintasan, nama mereka selalu disebut dalam satu napas sebagai dua kuda betina terbaik abad ke-21.
Barangkali justru di situlah letak keistimewaannya. Bukan karena ada pemenang dan pecundang, melainkan karena dunia pacuan kuda akan selamanya bertanya: Siapa yang akan menang jika Rachel Alexandra dan Zenyatta benar-benar berpacu?
(Sumber: America's Best Racing)
Install SARGA.CO News
sarga.co