SARGA.CO – Ambisi Lovcen untuk mengukir sejarah dengan meraih Triple Crown Jepang 2026 harus kandas di balapan terakhir. Justru Going to Sky yang tampil sebagai pahlawan setelah memenangi G1 Kikuka Sho di Kyoto Racecourse, Jepang, Minggu 25 Oktober 2026, lewat finis dramatis dengan keunggulan hanya selisih hidung (nose).
Ditunggangi joki legendaris Yutaka Take, Going to Sky menuntaskan pacuan sejauh 3.000 meter dalam waktu 3 menit 4,5 detik. Ia berhasil menahan serangan Basse Terre yang melesat kencang pada fase akhir, sementara Danon History finis di posisi ketiga.
Kemenangan ini menjadi gelar G1 pertama bagi Going to Sky sekaligus menambah pencapaian penting bagi sang joki berusia 57 tahun dan ayahnya, Contrail, yang juga merupakan pemenang Triple Crown Jepang 2020.
Yutaka Take Cetak Rekor Keenam di Kikuka Sho
Kemenangan di Kikuka Sho menjadi gelar keenam Yutaka Take dalam balapan tersebut, menjadikannya pemegang rekor kemenangan terbanyak sepanjang sejarah ajang ini.
Sebelumnya, Take menjuarai Kikuka Sho bersama Super Creek pada 1988, Dance in the Dark pada 1996, Air Shakur pada 2000, Deep Impact pada 2005, dan World Premiere pada 2019.
Pada usia 57 tahun, Take juga memperpanjang rekornya sebagai joki tertua yang memenangi balapan G1 Japan Racing Association (JRA). Kemenangan ini merupakan gelar G1 JRA ke-87 sepanjang kariernya dan yang ketiga pada 2026.
Strategi sabar menjadi kunci keberhasilan Going to Sky. Saat King Glory sempat memimpin dengan keunggulan hampir 20 panjang di lintasan belakang, Going to Sky tetap berada di kelompok tengah sambil menghemat tenaga.
Memasuki lintasan lurus, Take mencari celah untuk membawa kudanya maju. Kesempatan itu akhirnya terbuka sekitar 100 meter menjelang finis. Going to Sky langsung melesat ke depan dan bertahan dari kejaran Basse Terre hingga garis akhir.
“Saya tahu ada beberapa kuda kuat di sini, tetapi saya ingin fokus menjalankan balapan saya sendiri. Sekitar 200 meter sebelum finis, saya mulai berpikir bahwa kami mungkin bisa menang,” ujar Take, dikutip Japan Racing Association (JRA).
Lovcen Terpuruk, Mimpi Triple Crown Pupus
Sebelum balapan dimulai, Lovcen menjadi favorit utama setelah memenangi dua seri pertama Triple Crown Jepang, yakni Satsuki Sho dan Japanese Derby. Kemenangan di Kikuka Sho sejauh 3.000 meter seharusnya menjadikannya kuda kesembilan dalam sejarah Jepang yang mampu menyapu bersih ketiga balapan klasik tersebut.
Namun, Lovcen mengalami start buruk dan tertinggal di barisan belakang. Meski berusaha memperbaiki posisi saat memasuki tikungan terakhir, ia gagal menyamai akselerasi para pesaingnya di lintasan lurus dan akhirnya finis di urutan ke-14.
Kekalahan tersebut membuat Triple Crown Jepang 2026 tidak menghasilkan juara sempurna. Pemegang gelar Triple Crown terakhir tetap Contrail, yang menyapu bersih tiga balapan klasik pada 2020—dan kini juga menjadi ayah dari Going to Sky, sang pemenang Kikuka Sho.
Gelar G1 Perdana bagi Pelatih Yuki Uehara
Kemenangan ini juga menjadi pencapaian bersejarah bagi pelatih Yuki Uehara, yang meraih gelar G1 pertamanya sejak membuka kandang pelatihan pada 2023.
Sebelumnya, Uehara telah membawa Going to Sky menjuarai G2 Aoba Sho pada April. Meski hanya finis keempat di Japanese Derby dan keenam di G2 St. Lite Kinen, Going to Sky membuktikan perkembangan serta ketangguhannya pada kesempatan terbesar musim ini.
Sementara Lovcen harus mengubur impian Triple Crown, Going to Sky justru mencuri panggung melalui kemenangan dramatis. Perpaduan strategi matang, akselerasi di saat tepat, dan pengalaman Yutaka Take menjadikan Kikuka Sho 2026 salah satu balapan yang layak dikenang dalam sejarah pacuan kuda Jepang. (Sumber: Bloodhorse, Idol Horse)
Install SARGA.CO News
sarga.co