SARGA.CO - Bukan sekadar lintasan pacuan kuda, Gelanggang Pacuan Kuda Maesa Tompaso merupakan salah satu ikon olahraga berkuda di Sulawesi Utara yang menyimpan perjalanan sejarah panjang. Berdiri di Pinabetengan Utara, Kabupaten Minahasa, arena ini telah menjadi bagian penting dari perkembangan olahraga pacuan kuda di kawasan timur Indonesia sejak era 1960-an.
Dengan luas sekitar 24 hektare, Maesa Tompaso memiliki fasilitas yang mendukung penyelenggaraan kompetisi berskala besar. Mulai dari tribun penonton, paddock, ruang VIP dan VVIP, hingga area persiapan kuda, seluruhnya menjadi bagian dari kompleks gelanggang yang dikenal sebagai salah satu arena pacuan kuda terbesar di Indonesia.
Berawal dari lintasan sederhana
Perjalanan Maesa Tompaso dimulai pada 1967–1968, pada masa pemerintahan Gubernur Sulawesi Utara Hein Victor Worang. Saat pertama kali digunakan, lintasan pacuan kuda di arena ini hanya memiliki panjang sekitar 600–800 meter dan diperuntukkan bagi perlombaan lokal.
Seiring berkembangnya olahraga pacuan kuda, kebutuhan akan lintasan yang lebih representatif pun semakin besar. Pada 1984, lintasan Maesa Tompaso diperpanjang menjadi 1.600 meter dengan lebar sekitar 18 meter.
Perubahan tersebut menjadi tonggak penting dalam perkembangan gelanggang ini. Dengan lintasan yang lebih panjang dan area yang luas, Maesa Tompaso semakin siap menggelar kompetisi pacuan kuda tingkat nasional.
Reputasi Maesa Tompaso semakin kuat setelah dipercaya menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pacuan Kuda sebanyak empat kali, yakni pada 1997, 2007, 2014, dan 2018.
Kepercayaan tersebut menegaskan posisi Maesa Tompaso sebagai salah satu pusat kegiatan pacuan kuda di Indonesia. Gelanggang ini tidak hanya menjadi tempat adu kecepatan dan ketangkasan kuda, tetapi juga ruang pertemuan bagi atlet berkuda, pemilik kuda, pelatih, serta pencinta olahraga berkuda dari berbagai daerah.
Kini, Maesa Tompaso kembali dijadwalkan menjadi tuan rumah Kejurnas Pacuan Kuda 2026. Agenda ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat kompetisi sekaligus memperkuat eksistensi pacuan kuda di Sulawesi Utara.
Keistimewaan Maesa Tompaso tidak berhenti pada dunia olahraga. Di dalam kompleks gelanggang ini juga terdapat situs megalitikum Watu Tumotowa, yang menjadi bagian dari jejak sejarah dan kebudayaan masyarakat Minahasa.
Keberadaan situs tersebut memberikan nilai tambah bagi Maesa Tompaso. Arena ini bukan hanya merepresentasikan perkembangan olahraga tradisional dan modern, tetapi juga menyimpan warisan budaya yang memperkaya identitas kawasan. Perpaduan antara olahraga, sejarah, dan budaya menjadikan Maesa Tompaso memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan gelanggang pacuan kuda lainnya.
Dengan sejarah panjang sejak 1967–1968, lintasan sepanjang 1.600 meter, fasilitas yang memadai, serta rekam jejak sebagai tuan rumah Kejurnas, Maesa Tompaso memiliki modal kuat untuk terus berkembang sebagai pusat pacuan kuda nasional.
Penyelenggaraan Kejurnas 2026 diharapkan menjadi kesempatan untuk kembali mengangkat nama Minahasa di panggung olahraga berkuda Indonesia sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Sulawesi Utara kepada masyarakat yang lebih luas.
Maesa Tompaso bukan sekadar tempat kuda berpacu mengejar garis finis. Ia adalah saksi perjalanan olahraga, simbol kebanggaan daerah, dan ruang tempat tradisi serta warisan budaya Minahasa terus hidup dari generasi ke generasi.
Install SARGA.CO News
sarga.co