SARGA.CO - Dunia pacuan kuda Thoroughbred berduka atas kepergian Medaglia d’Oro, kuda juara yang kemudian menjadi salah satu pejantan paling berpengaruh di generasinya. Kuda legendaris tersebut meninggal di Jonabell Farm milik Darley, Kentucky, Amerika Serikat, pada 16 Oktober 2026 dalam usia 27 tahun.
Pensiun dari tugas pembiakan pada akhir musim 2025, Medaglia d’Oro meninggalkan warisan besar dengan menghasilkan 31 pemenang Grade 1 (G1) di berbagai negara. Sejumlah keturunannya menjadi bintang dunia, di antaranya Rachel Alexandra dan Songbird di Amerika Serikat, serta Golden Sixty, juara legendaris Hong Kong.
Chief Operating Officer Godolphin America, Dan Pride, menyebut Medaglia d’Oro meninggalkan warisan yang tidak akan terlupakan, baik melalui prestasinya di lintasan maupun kontribusinya sebagai pejantan. Ia juga dikenal sebagai kuda yang memiliki daya tarik tersendiri bagi para penggemar.
Berprestasi di lintasan pacuan
Lahir dari pembiakan Albert dan Joyce Bell di Kentucky, Medaglia d’Oro merupakan putra El Prado dari induk bernama Cappucino Bay. Saat berkompetisi di bawah kepemilikan Edmund Gann dan pelatih legendaris Bobby Frankel, ia mencatatkan delapan kemenangan dan tujuh kali finis di posisi kedua dari 17 kali start.
Sepanjang karier balapnya, ia mengumpulkan hadiah sebesar US$5.754.720 atau sekitar Rp94,3 miliar, berdasarkan kurs ilustratif Rp16.400 per dolar AS. Pada 2002, ia menjuarai G1 Travers Stakes dan G2 Jim Dandy Stakes. Setahun kemudian, ia memenangi G1 Whitney Handicap dan kembali finis sebagai runner-up Breeders’ Cup Classic. Pada musim terakhirnya, ia menjuarai G1 Donn Handicap sebelum finis di posisi kedua Dubai World Cup 2004.
Meski beberapa kali nyaris meraih gelar bergengsi, konsistensinya menghadapi lawan-lawan elite memperkuat reputasinya sebagai kuda dengan daya saing tinggi.
Melahirkan bintang pacuan dunia
Medaglia d’Oro mulai menjalani karier sebagai pejantan pada 2005. Setelah berpindah beberapa peternakan, ia bergabung dengan Darley di Jonabell Farm pada 2009 dan kemudian menjadi salah satu pejantan unggulan mereka.
Salah satu keturunan paling terkenalnya adalah Rachel Alexandra, yang dinobatkan sebagai American Horse of the Year 2009. Ia mencuri perhatian melalui kemenangan dengan selisih 20 panjang kuda di Kentucky Oaks dan menjadi kuda betina pertama sejak 1924 yang memenangi Preakness Stakes.
Keturunan lainnya, Songbird, mencatatkan 13 kemenangan dari 15 penampilan, meraih dua penghargaan Eclipse Awards, dan memenangi sejumlah balapan G1. Medaglia d’Oro juga menghasilkan Plum Pretty dan Good Cheer, dua pemenang Kentucky Oaks lainnya.
Dengan demikian, ia menjadi pejantan yang menghasilkan tiga pemenang ajang bergengsi tersebut. Pengaruhnya juga meluas ke Asia dan Australia melalui Golden Sixty, yang tiga kali dinobatkan sebagai Hong Kong Horse of the Year, serta Vancouver, pemenang Golden Slipper, dan Astern, pemenang Golden Rose Stakes.
Biaya kawin pernah tembus Rp4,1 miliar
Pengaruh Medaglia d’Oro juga tercermin dari nilai jasanya sebagai pejantan. Pada masa puncak popularitasnya, biaya kawinnya mencapai US$250.000 atau sekitar Rp4,1 miliar per layanan, dengan asumsi kurs Rp16.400 per dolar AS.
Pada 2017, ia menghasilkan tujuh pemenang G1 dalam satu musim, sebuah pencapaian yang menempatkannya di antara kelompok terbatas pejantan Amerika Serikat dengan prestasi tersebut.
Bahkan pada 2026, keturunannya masih mencatatkan prestasi. Nitrogen memenangi G1 Ogden Phipps Stakes, sedangkan Tam Tam meraih kemenangan di G1 Del Mar Oaks dan G1 Queen Elizabeth II Challenge Cup.
Warisan Medaglia d’Oro juga berlanjut melalui keturunan betinanya yang menjadi induk bagi generasi juara berikutnya, serta putra-putranya yang memasuki dunia pembiakan. Salah satunya adalah Bolt d’Oro, yang meneruskan garis keturunannya sebagai pejantan di Amerika Utara. (Sumber: Bloodhorse)
Install SARGA.CO News
sarga.co