SARGA.CO – Meisho Tabaru kembali menegaskan statusnya sebagai raja Grand Prix musim semi Jepang setelah mempertahankan gelar pada ajang Takarazuka Kinen (G1) 2026 yang digelar di Hanshin Racecourse, Minggu (14/6).
Ditunggangi legenda hidup Jepang, Yutaka Take, Meisho Tabaru sukses mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai kuda ketiga yang memenangkan Takarazuka Kinen secara beruntun. Sebelumnya, prestasi serupa hanya pernah dicapai oleh Gold Ship (2013-2014) --yang merupakan ayahnya, serta Chrono Genesis (2020-2021).
Di sisi lain, kemenangan ini sekaligus menggagalkan upaya favorit lomba, Croix du Nord untuk menorehkan sejarah sebagai kuda pertama yang menyapu bersih Triple Crown musim semi kategori senior Jepang.
Sejak starting gat terbuka, Cosmo Kuranda langsung mengambil inisiatif memimpin lomba. Meisho Tabaru yang berangkat dari gate luar melakukan start bersih dan segera menempel di posisi kedua. Sementara itu, Croix du Nord memilih menunggu di kelompok depan, sekitar posisi kelima, sambil menghemat langkah di sisi rel.
Memasuki lintasan lurus terakhir, rombongan mulai merapat. Meisho Tabaru bergerak maju tanpa ragu dan berhasil melewati pemimpin lomba sekitar 200 meter menjelang finis.
Di belakangnya, Croix du Nord mulai mengeluarkan akselerasi khasnya. Meski sempat terhambat di tengah perlombaan, pemenang Japanese Derby 2025 itu melesat cepat pada 100 meter terakhir dan terus memangkas jarak.
Namun, lomba jarak 2.220 meter kali ini, sprint Croix du Nord terlambat. Meisho Tabaru mampu mempertahankan keunggulan tipis dan menyentuh finis lebih dulu dengan margin leher (neck).
Posisi ketiga ditempati pemenang Derby 2024, Danon Decile, yang mencatatkan penutupan tercepat lomba setelah melesat dari barisan belakang.
Kemenangan Meisho Tabaru menghadirkan cerita yang nyaris sempurna dari sudut pandang sejarah.
Sebagaimana Gold Ship yang dua kali menjuarai Takarazuka Kinen secara beruntun, Meisho Tabaru kini mengulang pencapaian tersebut. Mereka menjadi pasangan ayah-anak pertama yang sama-sama berhasil memenangkan balapan bergengsi ini.
Sebaliknya, hasil ini menghadirkan deja vu bagi garis keturunan Croix du Nord.
Ayahnya, Kitasan Black, pernah datang ke Takarazuka Kinen 2017 sebagai favorit kuat dengan peluang meraih Triple Crown musim semi kategori senior. Namun impian tersebut kandas di hadapan publik Hanshin. Hampir satu dekade kemudian, sang anak mengalami nasib yang serupa.
Meski gagal menang, penampilan Croix du Nord tetap mendapat pujian. Kuda berusia empat tahun itu mampu menavigasi keramaian gerombolan dan tetap melakukan sprint penutup yang menganggumkan, yang jadi ciri khasnya.
Beberapa menit sebelum start, hujan deras mengguyur Hanshin Racecourse dan mengubah kondisi lintasan secara drastis.
Perubahan tersebut langsung dianggap menguntungkan Meisho Tabaru yang memang dikenal tampil lebih efektif di lintasan basah, sama seperti Gold Ship pada masanya. Mantan joki ternama Jepang, Katsumi Ando, bahkan berseloroh bahwa Yutaka Take seolah memiliki kemampuan untuk mengendalikan cuaca.
"Kalau Anda berada di lintasan hari ini, Anda pasti tahu. Hujan deras yang turun tepat sebelum start terasa seperti angin dari surga. Kondisi lintasan langsung berubah menjadi berat, tetapi saat upacara penghargaan berlangsung hujan sudah berhenti," ujarnya seusai lomba.
Menurut Ando, tempo cepat yang dibangun Cosmo Kuranda justru membantu Meisho Tabaru mendapatkan posisi ideal untuk berlari sesuai ritmenya sendiri.
"Croix du Nord juga sudah memberikan yang terbaik. Namun dalam balapan, keberuntungan selalu menjadi bagian dari kompetisi," ujar Joki kenamaan Jepang Ando, menganalisis Takarazuka Kinen 2026
Kemenangan ini menjadi gelar Takarazuka Kinen keenam bagi Yutaka Take setelah sebelumnya menang bersama Inari One (1989), Mejiro McQueen (1993), Marvelous Sunday (1997), Deep Impact (2006), dan Meisho Tabaru pada 2025.
Tak hanya itu, kemenangan tersebut juga menjadi gelar G1 JRA ke-86 dalam kariernya. Sepekan sebelumnya, ia baru saja menjuarai Yasuda Kinen bersama Sixpence.
Pada usia 57 tahun, Take juga kembali memperpanjang rekornya sendiri sebagai joki tertua yang berhasil memenangkan lomba G1 JRA.
Usai perlombaan, sang legenda mengaku merasa hujan yang turun sebelum start seolah merupakan hadiah dari mendiang pemilik Meisho Tabaru, Yoshio Matsumoto.
"Saat hujan mulai turun sebelum balapan, saya merasa seakan-akan mendiang Yoshio Matsumoto mengirimkannya dari surga," kata Take.
Menurutnya, Meisho Tabaru tampil dalam kondisi terbaik dan memang merupakan kuda terkuat pada hari itu. Kemenangan tersebut juga menjadi bekal penting menjelang rencana keberangkatan mereka ke Prancis untuk mengikuti Prix de l'Arc de Triomphe.
Joki Yutaka Take soal strateginya memenangkan Tarazuka Kinen.
Setahun lalu, Meisho Tabaru membuktikan dirinya layak disebut juara Grand Prix. Kini, ia menunjukkan bahwa kemenangan tersebut bukanlah kebetulan.
Putra Gold Ship itu masuk ke kelompok elite pemenang beruntun Takarazuka Kinen, menggagalkan ambisi sejarah Croix du Nord, sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai salah satu bintang terbesar generasi modern Jepang.
Ketika tirai paruh pertama musim balap Jepang 2026 resmi ditutup, satu hal menjadi jelas: **Grand Prix Musim Semi masih menjadi milik Meisho Tabaru.
1. Meisho Tabaru (pelana 16)
2. Croix du Nord (5)
3. Danon Decile (1)
4. Cosmo Kuranda (9)
5. Tagano Dude (8)
6. Family Time (7)
7. Regaleira (17)
8. June Take (10)
9. Museum Mile (2)
10. Meiner Emperor (12)
11. Shin Emperor (11)
12. Mikuni Inspire (4)
13. Stinger Glass (14)
14. Shake Your Heart (13)
15. Byzantine Dream (6)
16. Mystery Way ( 18)
17. Sugar Kun (3)
Tidak Finis: My Universe (15)
Install SARGA.CO News
sarga.co