SARGA.CO - Dunia balap kuda kembali berduka. Dalam rentang waktu yang tak terlalu jauh, tiga legenda yang namanya begitu harum, bahkan melampaui lintasan pacu, telah pergi selamanya: Gentildonna, Grass Wonder, dan Haru Urara.
Meski mereka telah tiada, jejak prestasi, ketangguhan, dan pesona masing-masing kuda ini terus hidup, termasuk lewat cara yang tak terduga: menginspirasi karakter-karakter di jagat Uma Musume, salah satu franchise pop-culture paling populer saat ini.
Kepergian mereka bukan hanya kehilangan bagi dunia horse racing Jepang, tetapi juga bagi jutaan penggemar yang mengenal cerita mereka melalui anime, game, dan berbagai karya penggemar. Inilah kisah tiga kuda yang selamanya menjadi legenda.
Gentildonna bukan sekadar juara, ia adalah ikon. Dilahirkan pada 2009, kuda betina ini menorehkan sejarah sebagai kuda pertama yang menjuarai Japan Cup dua kali berturut-turut. Kecepatan, ketangguhan, serta kecantikannya menjadikannya idola lintasan dan favorit publik.
Dalam Uma Musume, karakternya divisualisasikan sebagai gadis elegan yang penuh determinasi, cerminan sempurna dari aslinya.
Kepergian Gentildonna membuat banyak penggemar larut dalam nostalgia. Mereka mengenang setiap finish dramatisnya, setiap langkah elegannya, dan bagaimana ia mengubah standar bagi kuda betina di Jepang. Meski sudah tiada, warisannya tetap abadi: ia adalah simbol bahwa keanggunan bisa berjalan seiring dengan kekuatan luar biasa.
Grass Wonder mungkin bukan kuda paling “ramai publikasi”, tetapi ia adalah salah satu yang paling menentukan dalam sejarah balap kuda Jepang. Debut gemilangnya di usia dua tahun membuatnya langsung disebut sebagai fenomena baru.
Ia terkenal dengan sprinter–stayer ability yang tidak umum, punya stamina, punya kecepatan, dan punya gaya lari yang sulit ditebak. Grass Wonder juga dikenal sebagai kuda yang sering kembali dari cedera namun tetap tampil memukau.
Dalam Uma Musume, karakter Grass Wonder ditampilkan sebagai gadis manis namun penuh misteri, seolah menyembunyikan potensi yang tak bisa diprediksi. Penggemar menyukai dualitasnya: imut di satu sisi, mematikan di lintasan.
Kepergiannya membuat banyak orang kembali menyadari betapa besar pengaruhnya terhadap era 1990–2000-an. Ia adalah fondasi masa keemasan balap kuda Jepang dan inspirasi abadi bagi generasi baru yang mengenalnya lewat dunia anime.
Tidak semua legenda lahir dari kemenangan. Haru Urara adalah bukti paling indah. Ia mencatat sejarah sebagai kuda dengan rekor kekalahan terbanyak, namun justru menjadi simbol harapan dan kegigihan bagi publik Jepang.
Dengan warna merah mudanya yang khas, Haru Urara menjadi fenomena nasional pada awal 2000-an. Ia tidak pernah menang, tetapi setiap langkah yang ia ambil membuat ribuan orang datang ke arena untuk menyemangatinya. Slogannya terkenal: “Jangan menyerah.”
Dalam Uma Musume, Haru Urara divisualisasikan sebagai gadis ceria yang tidak pernah putus asa. Karakternya menjadi bahan bakar semangat bagi banyak pemain untuk terus mencoba dan terus bertumbuh.
Kepergiannya menimbulkan duka yang mendalam. Meski catatan prestasinya tak sebanding dengan Gentildonna atau Grass Wonder, pengaruh emosionalnya justru sering dianggap yang paling besar. Ia adalah sendok gula dalam dunia pacu kuda yang keras dan penuh kompetisi.
Gentildonna, Grass Wonder, dan Haru Urara mungkin telah meninggalkan dunia, namun nama mereka terus hidup dalam berbagai bentuk: dalam statistik dan sejarah balap kuda Jepang, dalam memori para jockey, breeder, dan penonton yang pernah menyaksikan mereka, dan dalam Uma Musume, tempat kisah mereka dihidupkan ulang dengan warna, karakter, dan semangat yang menginspirasi generasi baru.
Mereka telah pergi, tetapi tidak akan pernah dilupakan. Karena legenda sejati tidak berakhir, mereka hanya berpindah tempat, dari lintasan pacu ke hati para penggemarnya.
(Sumber: Idol Horse, Thoroughbred Daily News)
Install SARGA.CO News
sarga.co