SARGA.CO - Lintasan pasir menjadi salah satu elemen krusial dalam dunia pacuan kuda. Meski sama-sama disebut “pasir”, karakter lintasan di setiap negara, bahkan di setiap arena, bisa sangat berbeda. Perbedaan ini bukan tanpa sebab, melainkan dipengaruhi oleh komposisi material, kondisi iklim, serta regulasi dan standar perawatan lintasan yang diterapkan.
Sebuah riset berjudul Epidemiology of Racing Injuries in Thoroughbred Racehorses with Special Reference to Bone Fractures: Japanese Experience from the 1980s to 2000s oleh Yousuke Maeda dkk. mengungkap bahwa lintasan pacu di berbagai negara dirancang dengan pendekatan yang berbeda sesuai kebutuhan dan karakter balap masing-masing wilayah.
Di Amerika Serikat, khususnya lintasan yang berada di bawah pengelolaan New York Racing Association (NYRA), lintasan pasir umumnya menggunakan campuran pasir dan red clay. Kombinasi ini menciptakan permukaan lintasan yang lebih padat dan stabil. Karakter lintasan seperti ini berpengaruh langsung terhadap stamina kuda, kemampuan akselerasi, serta kestabilan langkah saat berpacu, terutama di balapan dengan tempo tinggi.
Sebaliknya, negara atau arena yang menggunakan kandungan pasir lebih tinggi cenderung menghasilkan lintasan yang lebih “empuk”, sehingga membutuhkan tenaga ekstra dari kuda namun memberikan sensasi pijakan yang berbeda.
Selain komposisi material, cuaca menjadi faktor yang sangat menentukan kondisi lintasan pasir. Mengutip Equinedge, hujan ringan saja sudah cukup untuk mengubah kondisi lintasan dari fast menjadi muddy atau bahkan sloppy. Perubahan ini bisa terjadi dalam waktu singkat dan berdampak besar terhadap strategi balap.
Untuk menjaga kualitas lintasan, petugas arena rutin melakukan proses harrowing (penggemburan permukaan lintasan) dan sealing (pemadatan lapisan atas). Tujuannya adalah mencegah air meresap terlalu dalam serta menjaga konsistensi permukaan lintasan agar tetap aman bagi kuda dan joki.
Karakter Lintasan Pasir di Indonesia
Di Indonesia, karakter lintasan pasir juga tidak seragam. Sebagian besar arena menggunakan campuran pasir dan tanah, namun dengan proporsi yang berbeda-beda. Berdasarkan pengalaman para joki, lintasan seperti Sultan Agung Bantul dan Legokjawa memiliki dominasi pasir yang lebih tinggi, sehingga terasa lebih nyaman dan “ringan” saat digunakan berpacu.
Sementara itu, lintasan pasir di Tegalwaton dikenal memiliki karakter yang lebih keras. Hal ini disebabkan oleh kandungan tanah yang lebih tinggi dalam komposisi lintasan, sehingga kuda membutuhkan adaptasi dan strategi berbeda untuk tampil optimal.
Pengaruh Langsung terhadap Strategi dan Performa
Perbedaan karakter lintasan inilah yang membuat setiap arena memiliki tantangan tersendiri. Joki dan pelatih harus menyesuaikan strategi balap, memilih kuda yang paling adaptif, serta memahami cara terbaik untuk memaksimalkan performa di lintasan tertentu.
Pada akhirnya, lintasan pasir bukan sekadar media berpacu, tetapi faktor penentu yang dapat mengubah jalannya perlombaan. Karakter lintasan yang unik di setiap negara dan arena menjadi warna tersendiri dalam dunia pacuan kuda—membuat setiap balapan selalu menghadirkan tantangan baru.
Menurut kamu, lintasan pasir mana yang memiliki karakter paling unik?
Install SARGA.CO News
sarga.co