SARGA.CO - Kalau menonton pacuan kuda di Eropa atau Jepang, kita sering melihat lintasan rumput yang hijau, estetik, dan menawan. Di Indonesia, sebenarnya ada juga track rumput, misalnya di Lapangan Pacu Kuda Yosonegoro, Gorontalo (±1.600 meter), tapi nyatanya sekarang jarang dipakai untuk balapan.
Track rumput berbeda dengan lapangan rumput biasa. Perawatannya detail dan intens, mulai dari: Pemotongan rutin, Penyiraman, Pemupukan dan Aerasi (menggemburkan tanah).
Di iklim tropis, rumput memang cepat tumbuh, tapi juga cepat rusak saat kuda melaju dengan kecepatan tinggi. Jadi, dibutuhkan tenaga dan biaya ekstra untuk menjaga kondisi lintasan tetap aman dan nyaman.
Indonesia punya curah hujan tinggi, dan lintasan rumput lebih rentan menjadi licin atau lembek setelah hujan. Hal ini bisa membahayakan kuda dan joki saat balapan.
Sementara itu, track pasir lebih mudah dikelola. Drainasenya bagus, sehingga air cepat turun, lintasan tetap stabil, dan balapan bisa berjalan lancar meski hujan turun.
3. Lebih Tahan untuk Aktivitas Harian
Track rumput butuh waktu pemulihan setelah digunakan. Track pasir? Bisa langsung diratakan dan dipakai lagi untuk latihan harian maupun balapan berikutnya.
Dengan frekuensi penggunaan tinggi di Indonesia, pasir jelas lebih efisien dan praktis dibanding rumput.
Apakah Indonesia Perlu Track Rumput?
Meski begitu, track rumput tetap punya daya tarik tersendiri. Karakter lari kuda di rumput dan pasir berbeda, dan kehadiran lintasan berstandar internasional bisa membuka peluang variasi lomba dan menarik event internasional.
Jadi pertanyaannya: apakah saatnya Indonesia membangun track rumput untuk naik level, atau cukup maksimalkan kualitas track pasir yang sudah terbukti cocok dengan iklim tropis?
Install SARGA.CO News
sarga.co