SARGA.CO - Kompleks Olahraga Dadaha hari ini dikenal sebagai pusat denyut aktivitas olahraga Kota Tasikmalaya. Stadion megah, gedung basket, hingga arena bulu tangkis selalu ramai oleh atlet dan masyarakat. Namun, jauh sebelum derap sepatu olahraga modern menggema, kawasan ini pernah menjadi arena pacuan kuda paling bergengsi di Jawa Barat.
Bagi generasi awal abad ke-20 hingga masyarakat yang tumbuh pada era 1980-an, Dadaha bukan sekadar ruang publik. Kawasan ini adalah pusat hiburan rakyat, arena adu gengsi para pemilik kuda terbaik, sekaligus saksi kejayaan olahraga berkuda yang pernah mengharumkan nama Tasikmalaya.
Budayawan Tasikmalaya, Tatang Pahat, mengenang Dadaha sebagai magnet sosial yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Pacuan kuda kala itu menjadi ajang prestise kuda-kuda milik pejabat dan bangsawan lokal (menak), namun tetap terbuka dan dinikmati oleh masyarakat umum.
“Dulu pacuan kuda di Dadaha sangat populer. Bukan hanya hiburan, tetapi juga arena adu ketangkasan kuda-kuda milik para pejabat pada zamannya,” ujar Tatang dikutip dari laman fokusjabar.id, Rabu 28 Januari 2026.
Jejak masa lalu itu masih bisa ditelusuri hingga kini. GOR Sukapura, misalnya, dahulu difungsikan sebagai area latihan kuda sebelum berlaga. Gedong Peteng, bangunan peninggalan kolonial Belanda, pernah menjadi tribun VIP dengan akses khusus menuju area bawah yang kala itu berfungsi sebagai istal kuda.
Bahkan, kawasan yang kini menjadi arena bulu tangkis dan sekitarnya dulunya merupakan hamparan padang rumput tempat kuda merumput, sekaligus lokasi peristirahatan terakhir bagi kuda pacu yang mati.
Dadaha juga melahirkan legenda-legenda pacuan. Nama kuda seperti Semberani, Fortun, Januar, Hanter, hingga Dudut pernah menjadi idola publik. Ketangguhan mereka di lintasan tak terpisahkan dari peran joki-joki legendaris seperti Elan, Oos, Uus, Endang, dan nama-nama lain yang dikenal berani serta piawai memacu kuda.
Sinergi antara kuda dan joki menghadirkan ketegangan di setiap lomba. Sorak sorai penonton yang memadati tribun kayu sederhana kala itu menciptakan atmosfer khas pacuan kuda Dadaha, riuh, penuh emosi, dan sarat kebanggaan lokal.
Redupnya Kejayaan Pacuan Kuda
Memasuki era 1980-an, kejayaan pacuan kuda di Dadaha perlahan meredup. Alih fungsi kawasan menjadi kompleks olahraga modern membuat lintasan pacu semakin menyempit hingga akhirnya menghilang dari peta pacuan kuda Jawa Barat.
“Sempat ada wacana pemindahan arena ke wilayah Cilembang, namun tidak sesukses Dadaha karena lintasan pacunya dianggap kurang ideal,” tutur Tatang.
Seiring waktu, suara derap kaki kuda pun tergantikan oleh pantulan bola basket, teriakan suporter sepak bola, dan hiruk pikuk olahraga modern. Dadaha bertransformasi total, meninggalkan pacuan kuda sebagai bagian dari sejarah.
Meski kini tinggal kenangan, pacuan kuda menyimpan potensi besar sebagai olahraga tradisional sekaligus daya tarik wisata budaya. Lebih dari sekadar lomba, pacuan kuda mencerminkan nilai kedisiplinan, ketangkasan, dan identitas lokal yang pernah mengangkat nama Tasikmalaya di tingkat regional hingga nasional.
Revitalisasi olahraga berkuda bukanlah hal mustahil. Dengan dukungan pemerintah dan komunitas, semangat pacuan kuda Dadaha dapat dihidupkan kembali dalam format modern, tanpa kehilangan nilai historisnya.
Dadaha pun menjadi pengingat bahwa Tasikmalaya memiliki akar olahraga yang kuat. Mengenal kembali sejarah pacuan kuda di kawasan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya merawat identitas kota, agar warisan ketangkasan itu suatu hari dapat kembali berlari dan mengharumkan nama Tasikmalaya.
(Sumber: fokusjabar.id)
Install SARGA.CO News
sarga.co