SARGA.CO - Lahir di Amerika Serikat, dilatih di Jepang, dan berjaya di Prancis, Seeking the Pearl adalah sosok pionir sejati di panggung balap internasional. Pada tahun 1998, ia mengukir sejarah sebagai kuda pacu pertama didikan Jepang yang berhasil menjuarai ajang balap G1 di luar negeri.
Kisahnya adalah tentang ambisi, petualangan lintas benua, dan pencapaian yang tadinya dianggap mustahil. Tak heran jika ia menjadi salah satu kuda balap yang paling pas untuk diadaptasi menjadi karakter dalam game populer Uma Musume: Pretty Derby.
Lahir di Virginia pada 16 April 1994, perjalanan Seeking the Pearl sudah bernuansa internasional sejak awal. Ia kemudian dibeli dan dikirim ke Jepang untuk menjalani latihan sebagai kuda balap.
Namanya merupakan perpaduan dari nama sang ayah, Seeking the Gold, dengan batu kelahiran sang pembeli, Masako Uenaka. Menurut pewaris pemiliknya kelak --beserta putrinya, Rinko, nama ini membawa makna magis tersendiri, sang kuda telah menemukan pemilik aslinya.
Di lintasan balap, Seeking the Pearl dengan cepat menunjukkan bahwa ada sesuatu yang spesial di balik pembawaannya yang tenang. Joki legendaris Yutaka Take, yang menungganginya sepanjang musim balap usia dua tahun, menggambarkannya sebagai kuda betina yang penurut dan lembut di kandang. Namun, begitu sang joki naik ke atas pelana, ia seolah "berubah wujud" menjadi sosok yang berbeda.
Seeking the Pearl tumbuh menjadi salah satu kuda muda terkemuka di Jepang dan meraih kemenangan terbesar di awal kariernya pada 1997, NHK Mile Cup. Meski memenangi ajang G1 di Jepang sudah merupakan pencapaian luar biasa, ambisinya ternyata jauh lebih besar.
Pada masa itu, membawa kuda pacu Jepang berlaga di luar negeri—bahkan untuk kuda terkuat sekalipun—masih sangat jarang terjadi. Menjuarai balapan besar di mancanegara dianggap sebagai mimpi yang mustahil, seperti dicatat oleh JRA-VAN. Stigma itu akhirnya terpatahkan pada 1998, saat Seeking the Pearl dan Taiki Shuttle bertolak ke Prancis. Keduanya menjadi kuda didikan Jepang pertama yang menjuarai ajang G1 di luar Jepang.
Seeking the Pearl mencapai tonggak sejarah tersebut lebih dulu di ajang Maurice de Gheest Prix, tepat seminggu sebelum kemenangan Taiki Shuttle di Prix Jacques Le Marois. Hebatnya lagi, ia juga memecahkan rekor lintasan Deauville yang sudah bertahan selama 17 tahun. Ia kemudian dinobatkan sebagai kuda betina sprinter senior terbaik di Prancis pada tahun 1998.
Bersama-sama, kedua kuda ini membuka jalan bagi generasi kuda Jepang selanjutnya untuk melanglang buana demi mengejar kejayaan di pentas global.
Ambisi internasional Seeking the Pearl tak berhenti di Prancis. Kariernya menjadi semakin tak tertebak di tahun-tahun berikutnya, terutama saat pihak pemilik tiba-tiba mengumumkan rencana untuk mengirimnya berlaga di Amerika Serikat. Ia akhirnya membalap di Amerika setelah diakuisisi oleh Jayeff B Stables pada 1999, meskipun gagal meraih kemenangan di dua penampilannya.
Memutuskan pensiun dengan rekor 8 kemenangan dari 21 balapan serta total pendapatan melebihi 4 juta dolar AS, Seeking the Pearl kembali ke Kentucky. Ia menjadi indukan (broodmare) di Claiborne Farm sebelum akhirnya pindah ke Lane's End Farm.
Anak pertamanya, Seeking the Dia (hasil persilangan dengan Storm Cat), sukses menjadi kuda pacu andal di Jepang. Ia memenangi lima balapan graded stakes, termasuk New Zealand Trophy 2004, sebelum akhirnya menjadi pejantan di Chile, tempat di mana ia sukses menelurkan banyak keturunan juara G1. Seeking the Pearl juga melahirkan dua anak betina, Dive dan Seeknfind, yang nantinya turut memasuki dunia pembiakan.
Pada 10 Juni 2005, Seeking the Pearl secara tragis ditemukan tak bernyawa pada usia 11 tahun di area padang rumput Lane's End Farm. Tidak ada tanda-tanda cedera fisik yang jelas, dan penyebab pasti kematiannya tidak pernah bisa dipastikan.
Oleh karena itu, diyakini kuat bahwa ia tewas akibat tersambar petir. Peristiwa ini menjadi penutup kisah yang memilukan bagi seekor kuda yang hidupnya diwarnai dengan berbagai perjalanan luar biasa.
Kehadiran Seeking the Pearl di Uma Musume versi global membawa semangat internasionalnya langsung ke dalam game. Ia digambarkan sebagai figur "kakak perempuan" yang penuh percaya diri, energik, dan sangat meyakini bahwa segala kemungkinan itu ada dan tak ada yang mustahil.
Karena telah hidup dan bepergian melintasi berbagai negara, karakter ini memiliki gaya berekspresi yang unik dan selalu bertekad untuk tampil menonjol di mana pun ia berada—sangat mencerminkan karier dunia nyata sang kuda yang melintasi berbagai benua.
Dalam cerita game-nya, berbagai referensi dari sejarah asli sang kuda turut dimasukkan dengan apik. Mulai dari insiden masalah pernapasan (epiglottitis entrapment) usai ajang Rose Stakes, absennya ia dari Shuka Sho, perjalanan spontannya ke AS, hingga ketakutannya terhadap badai petir yang menyimbolkan akhir hidupnya.
Hubungannya dengan Taiki Shuttle juga dihadirkan dalam Uma Musume sebagai persaingan persahabatan (friendly rivalry) yang sarat kedekatan emosional. Keduanya terkadang mengobrol dalam bahasa Inggris, di mana Seeking the Pearl dengan antusias berpura-pura jauh lebih fasih dari kenyataan sebenarnya.
Saat ini, Jepang sangat ditakuti dan terkenal rutin mengirim kuda pacu terbaiknya keliling dunia. Negara ini telah melahirkan banyak juara dan penantang tangguh di ajang prestisius seperti Prix de l'Arc de Triomphe, Dubai World Cup, Breeders' Cup, Melbourne Cup, serta sederet trofi internasional lainnya.
Namun, rute menuju kancah global tersebut tidak selalu terbuka lebar sebelum Seeking the Pearl membantu membukakan jalannya. Ia adalah kuda ras Amerika yang menjelma menjadi juara didikan Jepang, mengarungi Samudra Pasifik dan Atlantik, memenangi G1 di Prancis, serta memecahkan rekor lintasan yang sudah lama tak tersentuh.
Sesuai dengan namanya, ia membuktikan bahwa dunia penuh dengan kemungkinan tanpa batas, bagaikan cangkang tiram yang mampu menyimpan mutiara seindah dirinya.
Install SARGA.CO News
sarga.co