SARGA.CO - Beholder bukan sekadar kuda juara. Sepanjang kariernya, kuda betina kelahiran Kentucky itu membangun reputasi sebagai salah satu Thoroughbred paling tangguh di generasinya, dengan prestasi yang membuat namanya tetap dikenang hingga bertahun-tahun setelah pensiun.
Beholder berkarier dari 2012 hingga 2016 dan mencatat 18 kemenangan dari 26 penampilan, termasuk empat penghargaan Eclipse Award. Ia menjadi champion pada usia 2, 3, 5, dan 6 tahun, sebuah pencapaian yang menggambarkan konsistensinya melewati berbagai fase karier. Total pendapatannya mencapai US$6.156.600 atau sekitar Rp109 miliar.
Karier Beholder dimulai dengan cepat. Setelah meraih kemenangan perdana di Del Mar, ia kemudian memenangkan Del Mar Debutante Stakes dan menutup musim 2012 dengan kemenangan penting di Breeders' Cup Juvenile Fillies. Prestasi tersebut mengantarnya menjadi champion 2-year-old filly.
Setahun kemudian, Beholder kembali menjadi sorotan. Ia memenangkan sejumlah balapan Grade 1 sebelum tampil di Breeders' Cup Distaff. Kemenangan tersebut membuatnya menjadi filly pertama yang mampu memenangkan Breeders' Cup Juvenile Fillies dan Breeders' Cup Distaff pada musim yang berbeda secara berurutan. Perjalanan Beholder sempat terganggu cedera dan masalah kesehatan. Namun, ia kembali tampil kuat pada 2015. Salah satu momen terbesar dalam kariernya terjadi di Pacific Classic di Del Mar.
Menghadapi kuda-kuda jantan, Beholder justru tampil dominan dan menang dengan selisih 8¼ panjang. Ia mencatat waktu 1:59,77 untuk jarak 1¼ mil dan menjadi kuda betina pertama yang memenangkan Pacific Classic.
Kemenangan tersebut memperkuat statusnya sebagai salah satu bintang terbesar di arena balap Amerika. Namun, perjalanan menuju akhir kariernya justru menghadirkan tantangan yang tidak mudah.
Pada 2016, Beholder sempat mengalami tiga kekalahan beruntun, termasuk saat menghadapi Stellar Wind dan California Chrome. Di Breeders' Cup Distaff, ia kembali harus menghadapi Stellar Wind sekaligus bintang muda yang belum terkalahkan, Songbird.
Banyak yang mempertanyakan apakah Beholder masih memiliki kemampuan untuk bersaing di level tertinggi. Jawabannya hadir dalam salah satu duel paling dramatis dalam sejarah Breeders' Cup.
Beholder dan Songbird bertarung ketat sepanjang lintasan lurus. Keduanya berlari berdampingan, saling memberikan tekanan hingga meter-meter terakhir. Beholder yang ditunggangi Hall of Fame jockey Gary Stevens akhirnya mampu menyentuh garis finis lebih dahulu dengan keunggulan hanya satu hidung.
Banyak yang mempertanyakan apakah Beholder masih memiliki kemampuan untuk bersaing di level tertinggi. Jawabannya hadir dalam salah satu duel paling dramatis dalam sejarah Breeders' Cup.
Beholder dan Songbird bertarung ketat sepanjang lintasan lurus. Keduanya berlari berdampingan, saling memberikan tekanan hingga meter-meter terakhir. Beholder yang ditunggangi Hall of Fame jockey Gary Stevens akhirnya mampu menyentuh garis finis lebih dahulu dengan keunggulan hanya satu hidung.
Kisah Beholder menjadi bukti bahwa kebesaran seorang juara tidak hanya diukur dari jumlah kemenangan. Kemampuannya bertahan melewati cedera, kembali ke performa terbaik, mengalahkan lawan jantan, hingga menutup karier dengan duel dramatis melawan Songbird membuat namanya tetap relevan dalam sejarah balap kuda Amerika.
Beholder mungkin sudah lama meninggalkan lintasan, tetapi warisannya tetap hidup. Dan selama kisah tentang kuda-kuda hebat terus diceritakan, nama Beholder akan selalu menjadi bagian dari sejarah tersebut.
(Sumber: America's Best Racing)
Install SARGA.CO News
sarga.co