SARGA.CO — Di lintasan pacu dunia, kuda hebat biasanya adalah jagoan di salah satu tipe; si pelari depan yang agresif (front-runner), si pengintai yang tenang (stalker), atau si eksekutor yang meledak di tikungan terakhir (closer). Tiga karakter itu biasanya mendifiniskan titik unggul seekor kuda.
Tapi tidak untuk Lovcen. Kuda ini menolak masuk dalam kotak mana pun.
Sang juara Satsuki Sho dan Tokyo Yushun (Japanese Derby) ini sedang mendefinisikan ulang apa artinya menjadi seekor all-rounder. Lovcen tidak turun ke lintasan dengan rencana paling matang, tapi dia mampu menanggulangi segala kondisi. Dua kejuaraan kelas Derby terakhir jadi buktinya.
Dalam gate, saat akan start, atmosfer di kubu Lovcen sempat tegang. Berada di gate 13 yang melebar, mustahil bagi joki Kohei Matsuyama untuk mengulang taktik wire-to-wire (memimpin dari awal hingga akhir) seperti di Satsuki Sho. Joki Kohei Matsuyama dipaksa beralih dari startegi yang telah terbukti efektif.
Dalam race ini, Matsuyama akhirnya menahan Lovcen di kerumunan tengah, membiarkan kuda-kuda lain saling bunuh memperebutkan posisi depan.
Namun, di fase kritis, takdir seolah sedang menguji mereka. Lovcen sempat terjebak, terkunci di antara kepungan kuda lain tanpa celah untuk menusuk. Di sinilah mental juara berbicara. Begitu Matsuyama melihat ruang sekecil celah pintu, Lovcen meledak. Dia berganti gigi seketika, melejit ke sisi luar, dan mencuri kemenangan Derby lewat pertarungan dramatis di finis—unggul hanya seujung hidung.
komentar Joki Matsuyama usai race di Tokyo Racecourse.
Sangat kontras, jika mengingat bagaimana Lovcen mengunci mahkota pertama di Satsuki Sho, enam minggu sebelumnya. Saat itu, Matsuyama sebenarnya ingin Lovcen balapan santai di belakang kuda yang mengkontrol tempo. Strategi awal itu terbukti efektif saat mereka menang di Hopeful Stakes.
Tapi begitu gerbang start terbuka, Lovcen punya rencana sendiri. Dia melesat ke depan, merebut posisi pimpinan dari Realize Sirius, dan mendikte ritme balapan hingga finis.
“Saya sama sekali tidak menyangka akan memimpin dari awal. Saya hanya ingin mengikuti alur balapan hari ini dan fokus pada start yang bersih. Saya tidak berencana untuk memimpin, tetapi akhirnya terjadi seperti itu berdasarkan posisi kuda-kuda lain,” tutur Matsuyama, 20 April 2026, usai race Satsuki Sho
Kemampuan Lovcen untuk "berpikir di atas trek" ini sebenarnya sudah terbaca saat sesi latihan anyar di Ritto Training Center.
Laporan Netkeiba, pada 28 Mei 20206, mengatakan dia melahap porsi latihan yang jauh lebih berat dari biasanya. Ketika kuda tandemnya, Redington melesat lebih cepat dan meninggalkan Lovcen beberapa panjang di trek lurus, Lovcen tidak panik. Dia fokus menemukan ritme dan akseselrasinya tak terbendung. Dia melipat jarak di 800 meter terakhkir dan menungguli sang tandem di sekitar 30 meter terakhir.
"Waktu keseluruhan sekitar dua detik lebih cepat daripada sebelum Satsuki Sho, tetapi kuda tersebut terus menunjukkan peningkatan fisik dan memiliki kondisi yang sedikit lebih baik, jadi kami memutuskan untuk sedikit memacunya lebih," ujar Pelatih Lovcen, Haruki Sugiyama, usai sesi latihan tersebut.
Legenda pacuan kuda seperti Contrail atau Mr. C.B. dulu punya insting adaptasi yang serupa, kemampuan untuk membaca situasi dan mengubah kelemahan menjadi senjata mematikan. Lovcen kini berada di jalur yang sama.
Dalam dunia pacuan kuda Jepang, terdapat perumpanaan soal Triple Crown di lintasa turf: Satsuki Sho dimenangkan oleh kuda tercepat, Tokyo Yushun oleh kuda terpaling beruntung, dan Kikuka Sho oleh kuda terkuat.
Lovcen sudah membuktikan dia yang tercepat. Dia baru saja membuktikan dia bisa menjemput keberuntungannya sendiri di Derby. Sekarang, tinggal satu kotak tersisa yang harus dicentang.
Jika dia berhasil merebut Kikuka Sho, kita tidak hanya sedang melihat seorang pemenang Triple Crown baru, kita sedang menyaksikan lahirnya salah satu kuda dengan kemampuan komplit dalam sejarah pacuan kuda modern.
---
(Sergio Widjaja berkontribusi terhadap penulisan artikel ini.)
Install SARGA.CO News
sarga.co