SARGA.CO—Aoraki bukanlah kuda pacu biasa. Ia merupakan anakan Gold Ship, salah satu kuda populer di Jepang. Sayangnya, perjalanan Aoraki di lintasan terhenti setelah mengalami insiden di Fukushima yang berujung pada tindakan euthanasia (suntik mati). Peristiwa itu membuatnya dikenang sebagai salah satu kuda pacu ikonik dalam dunia keiba (pacuan kuda) Jepang.
Aoraki adalah kuda jantan berusia lima tahun. Ia terpaksa mengakhiri kariernya di lintasan pacu setelah insiden pada race kedelapan di Fukushima Turf (Kelas 3 - 2.600 meter) pada Sabtu, 15 November 2025.
Kuda yang lahir pada 12 Februari 2020 itu diduga kehilangan keseimbangan saat memasuki putaran kedua. Sebagaimana dikabarkan oleh Tospo Keiba, ia terjatuh dan terpaksa dihentikan dari perlombaan.
Saat itu, tim medis memastikan bahwa Aoraki mengalami cedera dislokasi terbuka berat pada kaki depan kiri. Cedera itu yang dinilai tidak mungkin pulih secara fungsional. Demi menghindari penderitaan berkepanjangan, keputusan sulit untuk melakukan euthanasia atau suntik mati atas Aoraki pun akhirnya diambil.
Dari laporan lapangan yang disadur dari laman Nekoryman, diketahui Aoraki memulai balapan dengan sangat baik. Namun, menjelang pertengahan lomba di zona Mukōjōmen (lintasan lurus di seberang tribun), ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan ambruk.
Insiden mendadak seperti ini hampir selalu menyebabkan trauma struktural serius pada kaki kuda. Di media sosial, sempat beredar rekaman singkat yang memperlihatkan proses evakuasi Aoraki dan penanganan darurat di lokasi kejadian.
Mengutip Nikkan Sports, kepergian Aoraki terasa semakin menyedihkan karena ia sebelumnya direncanakan menjalani peran sebagai duta TCC, sebuah inisiatif yang mendukung kehidupan kuda setelah pensiun. Penunjukan itu bahkan disebut menjadi awal dari ‘karier kedua’ sang kuda idola yang telah dinantikan publik.
Namun rencana itu terhenti. Konfirmasi kematian Aoraki memicu gelombang kesedihan di X (Twitter) dan forum keiba, di mana para penggemar mengungkapkan duka serta mengenang aksi-aksi terbaiknya di lintasan turf.
Di dunia pacuan kuda Jepang, Aoraki dikenal sebagai White Horse Idol yang cukup populer. Keunikan fisik menjadi salah satu daya tarik Aoraki.
Ia adalah kuda shiro-ge atau berbulu putih sepenuhnya, sebuah warna yang terbilang langka di dunia pacuan kuda. Keistimewaan ini memberikan dampak visual yang besar.
Bulu putihnya tampak sangat kontras dengan warna lintasan. Terutama ketika ia bertanding di lintasan dirt yang membuatnya tampil menonjol. Tak heran, setiap kali fotonya diunggah oleh fotografer race, Aoraki memicu engagement dan perhatian tinggi di kalangan penggemar keiba.
Selain itu, Aoraki membawa warisan genetik yang luar biasa. Ia adalah anak dari Gold Ship, kuda jantan legendaris Jepang yang terkenal berkat temperamen kuat dan stamina unggul.
Statusnya sebagai White Horse Idol diperkuat oleh fakta bahwa ia juga mewarisi warna putih tersebut langsung dari sang induk, Casta Diva.
Kombinasi unik antara keturunan prestisius dan warna sangat langka inilah yang menjadikannya salah satu sosok ikonik di dunia keiba. Hal itu menempatkan Aoraki sebagai simbol bloodline yang menarik perhatian, selain rekornya di lintasan.
Karier Aoraki mencerminkan perjalanan yang fleksibel dan penuh perjuangan. Menurut laporan Nikkan Sports, ia sempat berlaga di JRA (Japan Racing Association), kemudian berpindah ke sirkuit lokal NAR (National Association of Racing). Pada akhirnya Aoraki kembali berkompetisi di JRA sebelum kecelakaan fatal menimpanya.
Sejak awal, Aoraki sudah menarik perhatian sebagai kuda yang menjanjikan. Timnya, baik joki maupun pelatih, langsung mengakui potensi kuatnya. Mereka memuji kemampuannya menggunakan kaki panjang dan stamina yang baik, bahkan melihat adanya kemiripan gaya berlari dengan ayahnya, Gold Ship.
Fakta uniknya, dalam debut barunya sebagai kuda dua tahun di Hakodate, joki bahkan menyebut Aoraki menunjukkan gaya "maku" atau menyerang dari belakang, sebuah karakteristik yang kental dengan Gold Ship.
Meskipun Aoraki belum sempat meraih kemenangan besar, konsistensi dan kegigihannya di lintasan memberinya nilai sportivitas yang tinggi. Perjalanan kariernya menunjukkan bahwa ia bukan hanya terkenal karena darah sang induk, tetapi juga karena perjuangannya di berbagai level kompetisi.
Selama perjalanan kariernya, Aoraki tercatat telah melakukan 42 kali start di berbagai level kompetisi. Menurut data JBIS, ia berhasil meraih total tiga kemenangan dan lima kali posisi ketiga.
Menariknya, dari catatan rekor tersebut, Aoraki tidak pernah tercatat di posisi kedua. Statistik ini semakin memperkuat citranya sebagai kuda pekerja keras yang berjuang secara konsisten di lintasan.
Kisah Aoraki kini menjadi pengingat bagi seluruh komunitas keiba Jepang. Ia dikenang bukan hanya dari pedigree atau catatan rekornya. Sebaliknya, ia diingat karena semangat juang yang ia tunjukkan di lintasan.
Meskipun telah meninggalkan jejak terakhir di turf Fukushima, Aoraki berhasil mengukir warisan abadi yang melampaui sekadar statistik balapan. Kini, ia menjadi simbol perjuangan penuh kegigihan di dunia pacuan kuda.
Ikuti perkembangan informasi seputar pacuan kuda lokal maupun internasional dengan mengikuti Instagram (@sarga.co), 𝕏 (@sarga_co), TikTok (@sarga.co), YouTube (Sarga.Co), Facebook (Sarga.co), dan website news.sarga.co.
Install SARGA.CO News
sarga.co