SARGA.CO - Dunia pacuan kuda Inggris harus merelakan salah satu bintang jarak jauh (stayer) paling konsisten dan dicintai publik. Sweet William, kuda tangguh berusia tujuh tahun yang telah memenangkan dua gelar Doncaster Cup (G2), dipastikan meninggalkan lintasan balap untuk selamanya setelah didiagnosis mengalami cedera sendi.
Di bawah asuhan pelatih John dan Thady Gosden untuk pemilik sekaligus peternak Philippa Cooper, kuda jantan kebiri (gelding) ini menyudahi kariernya dengan catatan impresif: tujuh kemenangan dari 24 penampilan dan mengantongi hadiah uang lebih dari £1,2 juta (sekitar Rp24 miliar). Selama aktif, Sweet William tak hanya menjadi favorit penonton, tetapi juga menjadi rival sengit bagi nama-nama besar di dunia pacuan kuda seperti Kyprios, Trawlerman, dan Trueshan.
Sebagai keturunan langsung dari sang juara Irlandia, Sea The Stars, Sweet William tumbuh menjadi salah satu kuda pacu jarak jauh terbaik di generasinya. Puncak prestasinya terukir lewat kemenangan beruntun di G2 Doncaster Cup pada tahun 2024 dan 2025. Selain itu, ia juga sukses mengamankan trofi di G3 Henry II Stakes 2024 dan G3 Sagaro Stakes tahun ini.
Namun, kehebatan Sweet William tidak hanya diukur dari piala yang ia bawa pulang, melainkan juga dari kegigihannya saat kalah. Ia tercatat selalu menembus posisi tiga besar dalam tiga edisi beruntun di ajang bergengsi G1 Gold Cup di Royal Ascot. Ia finis di peringkat ketiga di belakang Kyprios pada edisi 2024 dan 2026. Sepanjang kariernya, Sweet William hanya satu kali gagal naik podium, yakni saat finis di urutan keempat di belakang rekan stable-nya, Trawlerman, pada tahun 2025.
Dalam beberapa tahun terakhir, sulit memisahkan nama Sweet William dari partnernya, Joki Robert Havlin. Hubungan keduanya begitu ikonik karena Havlin mendampingi Sweet William di seluruh 24 balapan yang pernah dilakoninya.
"Dia akan meninggalkan ruang yang sangat besar dalam karier saya. Dia telah menjadi bagian yang teramat penting," ungkap Havlin emosional.
Joki Robert Havlin mengenang perjuangannya di 24 race sepanjang karier Sweet William
Havlin bahkan mengenang momen magis di Royal Ascot beberapa waktu lalu, saat ia bisa mendengar langsung gemuruh penonton yang meneriakkan nama kudanya dari tribun saat berjalan menuju garis start.
"Saat saya menuntunnya di Ascot tempo hari, saya bisa mendengar orang-orang berteriak, 'Ayo, William!' Dukungan untuknya sangat besar. Namun, hal terpenting adalah dia bisa pensiun dalam keadaan utuh dan selamat," tambah Havlin.
Bagi sang pemilik, Philippa Cooper—yang menamai kuda ini dari nama putranya sendiri—keputusan untuk memensiunkan Sweet William adalah momen yang sangat menguras emosi. Komplikasi pada sendi yang ditemukan oleh tim dokter hewan menyadarkannya bahwa waktu bagi William untuk beristirahat telah tiba.
"Saya merasa seperti kehilangan sebagian besar dari hidup saya. Dia adalah kuda terbaik dalam hidup saya. Saya sangat mencintainya. Dia akan mendapatkan masa pensiun terbaik bersama kuda-kuda 'nakal' kesayangan saya yang lain di penangkaran," kata Cooper.
Meski perjalanan Sweet William di atas lintasan harus berakhir lebih cepat dari yang diharapkan, Cooper menegaskan bahwa sang kuda telah memberikan segalanya. Empat musim bertarung di level tertinggi pacuan datar (flat racing) adalah pembuktian yang lebih dari cukup.
"Dia telah membawa saya ke balapan dan sirkuit terbaik selama empat tahun, waktu yang sangat lama bagi seekor kuda pacu lintasan datar," tutup Cooper. “Saya yakin dia akan memiliki klub penggemarnya sendiri yang kelak tetap ingin datang dan menjenguknya di masa pensiun.”
Install SARGA.CO News
sarga.co