SARGA.CO - Di dunia balap kuda yang serba cepat, akurasi langkah adalah segalanya. Namun seekor kuda Italia bernama Laghat membuktikan bahwa kemenangan tidak selalu bergantung pada penglihatan. Justru, dari keterbatasannya, lahirlah legenda. Kini berusia 16 tahun, Laghat telah memikat ribuan penggemar berkat satu hal yang nyaris mustahil: menjadi juara meski nyaris buta total.
Ketika masih berusia setahun, hidup Laghat berubah drastis. Ia terkena virus, lalu diserang infeksi jamur langka bernama mycosis yang merusak kedua matanya. Akibatnya, ia buta 100% pada mata kanan dan hanya memiliki 5% penglihatan pada mata kiri.
Namun alih-alih tumbang, Laghat justru mengubah ujian itu menjadi kekuatan. Ia menjadi kuda yang mudah dilatih, tenang, responsif, dan cepat memahami perintah. Seolah sudah ditakdirkan menjadi juara sejak awal.
Pada Januari 2006, Laghat menjalani debutnya di San Rossore, Pisa. Banyak yang ragu, tapi hasilnya justru mencengangkan: ia menang. Lima belas hari kemudian, di balapan keduanya, ia kembali mencatat kemenangan—kali ini dengan selisih enam panjang kuda.
Pemiliknya, Federico de Paola, yang juga sempat menungganginya di ajang amatir, menyebut Laghat memiliki sesuatu yang luar biasa. “Laghat punya indra keenam yang memberi tahu di mana ia harus menempatkan kakinya,” ujarnya.
Karier Panjang yang Penuh Prestasi
Selama hampir satu dekade, dari 2006 hingga 2015, Laghat berkompetisi di balapan handicap level rendah maupun stakes, ditunggangi joki Giuseppe Virdis. Hasilnya tidak main-main: 123 kali berlomba, 26 kemenangan, 30 kali masuk posisi tempat (placing). Total hadiah yang dikumpulkan: €112.000 (sekitar Rp2,1 miliar).
Bagi seekor kuda dengan keterbatasan penglihatan, catatan ini bukan hanya impresif, ini spektakuler. Menariknya, Laghat juga dikenal memiliki “mood” yang unik. Menurut pengurusnya, setelah kalah ia bisa jadi nakal, menendang atau menggigit kuda lain di kandang. Namun setelah menang, ia berubah menjadi kuda paling tenang dan manis sedunia.
Pada musim semi 2012, menjelang kemenangan ke-20, media Italia mulai mengangkat kisah Laghat. Julukannya lahir: “Blind Beauty”, si cantik buta.
Kisah inspiratifnya berkembang menjadi novel karya Enrico Querci pada 2014. Empat tahun kemudian, buku cerita bergambar bertema Laghat terbit dan langsung ludes dalam satu bulan. Anak-anak menyukai ceritanya, tentang keteguhan, keberanian, dan kegigihan seekor kuda yang menolak menyerah.
November 2015 menjadi akhir perjalanan Laghat di lintasan. Ia pensiun dalam sebuah seremoni khusus di San Rossore, tempat kisah besarnya dimulai.
Kini Laghat hidup damai ditemani seekor kuda Norwegian Fjord bernama Cerere. Setiap minggu, rombongan anak sekolah datang untuk mengunjunginya. Mereka memeluknya, memberinya makan, dan mendengarkan cerita tentang bagaimana seekor kuda buta bisa mengalahkan segala rintangan.
(Sumber: horseandhound.co.uk, mirror.co.uk)
Install SARGA.CO News
sarga.co