SARGA.CO - Dalam riuh padatnya arena Arcamanik, Bandung, pada tahun 1975, seekor kuda betina berwarna dawuk-tampak biasa bagi sebagian orang—menorehkan kisah luar biasa. Namanya Valencia, kuda pacu setinggi 148 cm, wakil DKI Jakarta yang diam-diam membawa darah juara. Dengan keturunan G1, lahir dari pejantan Keen Cort dan induk Bintang Putri, Valencia menjadi bintang pada Indonesia Derby kedua, sebuah gelar prestisius yang baru setahun digelar.
Namun kemenangan itu tidak datang dengan mudah. Bahkan, Valencia hampir saja tidak bisa menunjukkan kehebatannya.
Ketika J. Lampus, joki Valencia, mengenang balapan itu, ia mengungkapkan satu kisah yang tak banyak orang tahu. Sebelum lomba dimulai, seorang joki dari Sulawesi Utara sempat berkata padanya: “Kalau ada kuda warnanya dawuk, bakal saya ganggu”.
Valencia memang awalnya diragukan karena dia berwarna dawuk. Kebanyakan kuda pacu terpercaya saat itu warnanya antara hitam, bay, atau chestnut. Perkataan bernada tantangan itu menjadi kenyataan ketika lomba dimulai. Lampus menyebut start Valencia sengaja diganggu, membuatnya terperangkap di bagian paling belakang dan “ditutup” oleh kuda-kuda lain. Kesulitan itu belum cukup karena di starting gate pun terjadi gangguan: pintu tak langsung terbuka.
“Saya sudah pikir kalah ini. Tapi kudanya memang bagus…memang,” cerita Lampus.
Bagi sebagian kuda, semua hambatan itu akan mengakhiri peluang menang. Tapi Valencia justru memulai transformasi mengagumkan di sinilah.
Tiga Perempat Balapan untuk Mengejar
Balapan Derby waktu itu diikuti 12 kuda dengan jarak 1.200 meter—jarak yang tidak panjang, sehingga kesalahan kecil pun bisa membuat peluang juara lenyap. Namun Lampus mengambil keputusan berani: keluar dari kerumunan, mengambil sisi luar lintasan.
Baru di sisa 600 meter terakhir, kejutan terjadi. Valencia mulai menyalip satu per satu, dengan kecepatan yang terukur namun ganas. Penonton melihat bagaimana kuda betina kecil berwarna dawuk ini menjelma menjadi misil yang melesat di lintasan. Dari posisi terakhir, ia melaju tak terhentikan dan terus menekan hingga akhirnya memimpin di detik-detik penentu.
Salah satu rival Valencia saat race itu adalah kuda dari Jawa Barat, namanya Kapilawas, dan harus puas menjadi juara dua. Valencia menang dengan keyakinan penuh, membuktikan bahwa kualitas seekor kuda tidak bisa diukur dari warna bulu atau gangguan di awal.
(Sumber: YT Baharna TV)
Install SARGA.CO News
sarga.co