SARGA.CO - Dalam dunia pacuan kuda Indonesia, nama Ratu Mayangkara bukan sekadar juara, dia adalah legenda. Seekor kuda betina berwarna Jragem yang awalnya dianggap “biasa saja”, hampir dijual, tak diinginkan pelatih, bahkan sempat tak terawat. Namun takdir berkata lain.
Dari seekor kuda yang nyaris tak punya masa depan, Ratu Mayangkara menjelma menjadi sang penguasa lintasan, peraih gelar Indonesia Derby 1997, dan mencatatkan rekor kemenangan 100% sepanjang kariernya.
Awal Mula yang Jauh dari Kata Istimewa
Ratu Mayangkara—dikenal sebagai Maya—lahir 6 Desember 1993 sebagai kuda betina G4, anak dari pejantan Sabeil dan induk Ratu Mandura. Namun silsilahnya dianggap tidak cukup mentereng dibanding kuda-kuda calon juara lainnya.
Pemilik pertamanya, Ibu Soehardjono, berencana menjual Maya kepada seorang pemilik kuda bernama Iwan Lie. Tapi ketika itu, Iwan menolak. Alasannya sederhana: Maya tak menunjukkan predikat istimewa.
Kemudian Maya hampir dibeli oleh seorang pemilik dari Jawa Tengah. Tapi entah bagaimana, pembelian itu dibatalkan. Dan sejak saat itu, nasib Maya seperti menggantung.
Hingga suatu hari, Iwan melihat Maya kembali. Kali ini dalam kondisi yang memprihatinkan, kurus, kusam, dan tak terurus, berdiri sendirian di kandang belakang.
Ibu Soehardjono menawarinya lagi: “Kalau mau… ambil saja Maya.” Melihat keadaan Maya, hati Iwan tersentuh.
Ia pun memutuskan mengambil kuda yang dulu ditolaknya itu.
Namun setelah berada di tangan Iwan, masalah baru muncul. Tidak ada satu pun pelatih yang bersedia melatih Maya. Hingga muncullah sosok Wahono AT, seorang pelatih yang mau mencoba.
Dengan penuh kesabaran, ia melatih Maya hingga siap debut di Pemula A/B tahun 1996. Namun debut itu membawa kabar buruk, Maya cedera dan harus istirahat selama enam bulan. Bagi kuda pacu, enam bulan bisa berarti akhir karier. Tapi tidak bagi Ratu Mayangkara.
Setelah pulih, Maya kembali berlatih. Semangatnya menyala, dan semuanya diarahkan untuk satu tujuan besar: Indonesia Derby 1997.
Strategi Gila di Babak Penyisihan
Menjelang penyisihan, Iwan berdiskusi serius dengan joki Maya, Willy Wewengkang. Ia berkata bahwa Maya adalah favorit, dan karena itu bisa saja “diganggu” lawan di lintasan.
Selain itu, Maya bukanlah kuda super cepat seperti seniornya, Lady Centavo. Maka Iwan menyarankan strategi yang tak biasa:
Jadikan Maya end closer, biarkan di belakang, lalu kejar di akhir. Sang pelatih setuju. Dan strategi itu terbukti jitu.
Di balapan penyisihan, Maya yang awalnya berada di urutan paling belakang, mulai merambat naik. Satu demi satu lawan ia salip dengan ritme stabil, hingga akhirnya menjadi juara penyisihan. Sinyal kuat. Maya bukan kuda sembarangan.
Indonesia Derby 1997: Ketika Ratu Menunjukkan Taringnya
Semua orang mengira Ratu Mayangkara akan kembali bermain dengan gaya yang sama: end closer. Para rival menunggu Maya di belakang. Namun di hari final, Maya justru tampil dengan strategi yang berbeda total. Begitu gerbang start terbuka, Maya langsung memimpin!
Ia berlari berdampingan dengan tiga pesaing kuat lainnya. Lintasan memanas. Publik terkejut. Di 800–600 meter sebelum finish, joki Willy memberikan tanda. Dan Ratu Mayangkara menjawab.
Ia tancap gas dengan akselerasi yang membuat penonton terpana. Satu demi satu kuda mulai tertinggal jauh. Maya 'terbang' di lintasan seperti ratu yang sudah menemukan takhtanya.
Ketika menyentuh garis finish, Ratu Mayangkara unggul lima panjang kuda dari lawannya. Penonton bersorak. Legenda lahir hari itu.
Usai meraih kejayaan di lintasan, Ratu Mayangkara langsung dipensiunkan dan menjalani peran baru sebagai indukan. Ia tak pernah kembali berlari, tetapi warisannya diteruskan oleh keturunannya.
Anak pertamanya bernama Lambang Sari. Meski namanya tidak tercatat dalam studbook, Lambang Sari justru tampil sebagai salah satu kuda unggulan di Indonesia Derby 2003.
Performa terbaiknya muncul pada pacuan bulan Mei, tepatnya di Triple Crown Seri II, ketika Lambang Sari berhasil meraih juara pertama. Pencapaian ini menjadikannya kuda KPI pertama yang memenangkan salah satu seri Triple Crown.
Namun nasib berkata lain. Saat Final Indonesia Derby 2003, Lambang Sari mengalami masalah di dalam starting gate. Ia cedera sesaat sebelum start dan tak dapat tampil maksimal, membuat peluangnya untuk meraih titel besar itu sirna.
Meski begitu, perjalanan Lambang Sari tetap dikenang sebagai bukti bahwa darah juara dari Ratu Mayangkara tidak pernah hilang, meski sang anak harus menghadapi kisah manis dan getirnya pacuan kuda.
(Sumber: FB IGUTIULS, YouTube Baharna TV, Studbook.or.id)
Install SARGA.CO News
sarga.co